Jakarta, Beritafakta.id- Ramadan selalu menghadirkan ritme hidup yang berbeda. Pola tidur berubah, jadwal makan bergeser, dan tubuh beradaptasi dengan puasa harian. Di tengah perubahan itu, banyak perempuan mulai bertanya: bagaimana cara menjaga kesehatan reproduksi saat berpuasa? Apa yang harus dilakukan jika PMS datang di bulan Ramadan?
Bidan Mila dari Poli KIA menegaskan, kesehatan reproduksi bukan sekadar urusan organ intim. Tubuh, pikiran, dan gaya hidup ikut memainkan peran besar. “Kesehatan reproduksi mencakup kondisi fisik, mental, dan sosial yang baik. Nutrisi, cairan, hingga manajemen stres sangat menentukan,” ujarnya.
Tubuh Beradaptasi, Perempuan Perlu Mengantisipasi
Saat berpuasa, tubuh menjalani proses adaptasi metabolik. Asupan energi menurun di siang hari, sementara waktu makan terbatas pada sahur dan berbuka. Perubahan ini dapat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama bagi perempuan yang sensitif terhadap fluktuasi tersebut.
Di sinilah Premenstrual Syndrome (PMS) sering muncul sebagai tantangan tambahan. Gejalanya bervariasi, mulai dari kram perut, nyeri payudara, hingga perubahan suasana hati. Ramadan tidak menyebabkan PMS, tetapi perubahan pola hidup bisa memperberat keluhan.
Bidan Mila mengingatkan, perempuan tidak perlu panik. Dengan strategi yang tepat, PMS tetap bisa dikelola tanpa mengganggu ibadah maupun aktivitas harian.
Nutrisi Menjadi Fondasi Utama
Puasa bukan alasan untuk mengabaikan kebutuhan gizi. Tubuh tetap membutuhkan protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Zat besi, kalsium, serta vitamin D menjadi elemen krusial bagi kesehatan reproduksi perempuan.
Saat sahur, perempuan disarankan memilih makanan yang memberikan energi stabil. Karbohidrat kompleks, protein, serta mikronutrien seperti vitamin B6 dan magnesium membantu meredakan gejala PMS. Kombinasi ini membantu menjaga kestabilan mood dan mengurangi rasa lemas.
Berbuka puasa pun perlu dirancang dengan cermat. Tubuh membutuhkan pemulihan cairan dan energi tanpa lonjakan gula berlebihan. Air putih tetap menjadi pilihan utama, sementara air kelapa dapat membantu menggantikan elektrolit.
Cairan, Faktor yang Sering Diremehkan
Dehidrasi ringan sering terjadi tanpa disadari selama puasa. Kondisi ini dapat memperburuk keluhan PMS seperti sakit kepala, kelelahan, dan perubahan emosi. Perempuan perlu mengatur pola minum dengan disiplin, membagi konsumsi cairan dari waktu berbuka hingga sahur.
Tubuh yang terhidrasi dengan baik cenderung lebih stabil secara hormonal dan metabolik. Dampaknya terasa langsung pada tingkat energi dan kenyamanan fisik.
Stres dan Tidur: Dua Variabel Penentu
Ramadan sering mengubah pola tidur. Aktivitas sahur dan ibadah malam berpotensi mengurangi durasi istirahat. Jika tidak dikelola, kurang tidur dapat memicu ketidakseimbangan hormon dan memperburuk PMS.
Manajemen stres juga memegang peran penting. Stres kronis dapat memengaruhi siklus haid, memperparah gejala PMS, bahkan berdampak pada kesuburan. Relaksasi, aktivitas ringan, dan rutinitas ibadah dapat membantu menjaga kestabilan emosi.
Perencanaan Kehamilan Tetap Bisa Dilakukan
Bagi pasangan yang merencanakan kehamilan, Ramadan bukan penghalang. Bidan Mila menekankan pentingnya persiapan fisik dan mental. Nutrisi yang cukup, cairan yang terjaga, serta kondisi psikologis yang stabil membantu tubuh tetap optimal.
Perempuan yang sedang mempersiapkan kehamilan perlu memastikan tubuh tidak mengalami defisit energi berkepanjangan. Konsultasi medis menjadi langkah bijak untuk menyesuaikan kebutuhan individual.
Kapan Harus Berkonsultasi?
Setiap perempuan memiliki respons tubuh yang berbeda. Namun, beberapa kondisi perlu mendapatkan perhatian medis segera, seperti:
* Siklus haid yang berubah drastis
* Nyeri PMS yang sangat mengganggu
* Rasa lemas berlebihan atau tanda anemia
* Keluhan hormonal yang menetap
Tenaga kesehatan dapat membantu mengidentifikasi penyebab dan memberikan rekomendasi yang sesuai.
Merawat Kesehatan, Investasi Jangka Panjang
Kesehatan reproduksi bukan isu musiman. Ramadan hanya menjadi momen yang menyoroti pentingnya keseimbangan nutrisi, cairan, dan gaya hidup. Tubuh perempuan bekerja dalam sistem yang kompleks; ia membutuhkan perhatian konsisten, bukan sekadar respons saat muncul keluhan.
Merawat kesehatan berarti menjaga kualitas hidup. Energi tetap stabil, ibadah terasa nyaman, dan aktivitas berjalan lancar. Jika muncul pertanyaan atau keluhan, konsultasi dengan tenaga medis selalu menjadi langkah paling aman.
Karena pada akhirnya, kesehatan bukan sesuatu yang ditunggu saat bermasalah. Ia perlu dijaga, dirawat, dan dihargai setiap hari.
Penulis : Bd. Fitri Milania Salisa.
Editor : Azizah Estetika






