Kejahatan Dan Keberlangsungan Penjahat

0
11

Britafakta- Kemajuan sebuah kota besar selalu di barengi dengan kemajuan sosial yang menuntut kehidupan mewah, di balik berkembangnya budaya sosial menimbulkan banyak problematika yang terjadi, mulai dari ketimpangan ekonomi, sampai kebutuhan hidup yang layak bagi masyarakat tingkat ekonomi bawah.

Maslahah tak hanya muncul di kalangan masyarakat kelas menengah, masalah yang begitu kompleks juga terjadi di kalangan masyarat dengan tingkat ekonomi bawah. Hal tersebut di sikapnya dengan pemikiran yang pendek, berdalih mendapatkan uang banyak dengan sedikit kerja, konsep tersebut sejalan dengan pepatah “berfikir logika tanpa logistik”

Kita tangok sejarah pada masa orde baru, dimana premanisme dan kejahatan terjadi begitu masif disebabkan tingkat penghasilan masyarakat yang tak memenuhi kebutuhan. Namun kini jaman telah berevolusi dan pemimpin sudah berganti. Lalu apakah kasus kejahatan saat ini sudah teratasi? Tetu saja tidak.

Para pelaku kejahatan seperti tak lekang tertelan zaman, ia terus berevolusi mengikuti perkembangan teknologi. Munculnya generasi yang mengusung modus kejahatan baru tak mampu di antisipasi, peran pemerintah hanya mampu mengurangi kasus kejahatan tetapi tidak mampu menghilangkan kasus kejahatan

Setiap melihat berita kriminal tak henti-hentinya kita di sajikan modus kejahatan yang semakin beranekaragam. Di pertengahan tahun 2000an jambret dan copet menjadi modus paling banyak di gunakan oleh pelaku

Beralih ke zaman ketika SMS masih merajalela, penipuan kerap terjadi dengan beragam modus diantaranya, mama minta pulsa, mendapat undian, panggilan kerja, hingga kabar bahwa salah seorang anggota keluargamu masuk rumah sakit atau ditahan polisi.

Sedangkan pada zaman sekarang, ketika internet adalah segalanya, modus yang diterapkan pelaku turut mengalami perkembangan, meskipun tekniknya sama saja yaitu mengaduk-aduk emosi korban.

Contoh lainnya pada saat melayangkan keluhan di media sosial terutama ke perusahaan telekomunikasi, transportasi online, atau perusahaan perbankan, lantas ada akun palsu mengirimimu pesan, waspadalah, jika akun itu menawarkan bantuan dan menanyakan informasi pribadimu.

Apa pun jenis penipuannya, hal semacam itu dinamakan teknik rekayasa sosial atau manipulasi psikologis (magis). “Rekayasa sosial mengacu pada manipulasi psikologis untuk memperdaya korban agar membocorkan informasi,” tulis Nick Elson dalam “Methods of Hacking: Social Engineering”

secanggih apa pun perkembangan teknologi dan seketat apa pun sebuah perusahaan melindungi konsumennya, celah untuk melakukan kejahatan bakal senantiasa ada lantaran manusia, sebagaimana disampaikan kontributor Forbes Steve Culp, adalah unsur paling rentan dalam rantai-keamanan. “Penjahat siber mengincar titik paling rawan pada pertahanan institusi, dan itu sering kali berarti pelanggan,” kata Culp.