Pernikahan Dini dan Dampak Terhadap Masa Depan Anak

0
78

Britafakta- Pernikahan usia dini adalah pelanggaran dasar hak asasi anak pernikahan usia dini membatasi hak anak-anak atas pendidikan, kesehatan, penghasilan, keselamatan, kemampuan dan juga membatasi status dan peran anak.

Dari isi kesehatan sendiri pernikahan atau perkawinan usia dini ini bisa berdampak sangat buruk karena anak belum memiliki kesiapan organ tubuh untuk mengandung dan juga melahirkan. Jadi kalo misalnya kita lihat bahwa tidak hanya secara fisik tapi juga secara mental.

Jadi mental ini bisa bedampak tingginya kasus atau angka perceraian kemudian KDRT. Untuk Fisik sendiri tidak hanya untuk ibu yang membahayakan tetapi juga untuk anak, salah satunya anak bahkan bisa lahir prematur atau berat badan bayi itu rendah. Faktor yang sering dikaitkan dengan pernikahan dini adalah faktor ekonomi, tingkat pendidikan yang kurang.

Pernikahan adalah ikatan batin antara seseorang pria dengan seorang wanita sebagai seorang suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk laki-laki minimal sudah berusia 19 tahun dan untuk perempuan sudah berusia minimal 16 tahun. Jika menikah dibawah usia 21 tahun harus disertai dengan ijin kedua atau salah satu orang tua yang ditunjuk sebagai wali.

Pernikahan diusia yang sangat muda adalah sebuah komitmen moral yang mengikat 2 lawan jenis dalam satu ikatan keluarga. Yang dinilai bukan untuk penyalur kebutuhan biologis, tapi menjadi media aktulisasi ketakwaan. Oleh karena itu, untuk memasuki jenjang pernikahan dibutuhkan persiapan-persiapan yang matang (kematangan fisik, psikis, maupun spiritual).

Ada beberapa faktor pernikahan diusia dini yang harus kita ketahui. Diantaranya, pribadi, keluarga, budaya, pendidikan,ekonomi, dan media sosial. Hal tersebut harus lebih diperhatikan dalam setiap kaum remaja atau kaum yang meranjak dewasa.

Pernikahan dini tentu saja angat berdampak bagi pernikahan anak yang masih memerlukan bimbingan dari orang tua terutama orang tua yang kurang dalam memberikan kasih sayang terhadap anak. Selain itu bisa juga dapat disebabkan dengan kurangnya ekonomi orang tua hingga dapat mengganggu pendidikan anak di sekolah, bisa juga dengan kurang harmonisnya keluarga dapat berdampak dengan pernikahan usia dini.

Pernikahan dini saat ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sangat disayangkan apabila menikah muda namun belum melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sangat disayangkan apabila menikah muda namun belum memiliki persiapan apapun untuk kedepannya nanti.

Pernikahan dini sangat merugikan diri sendiri. Misalnya, jika kita sudah menikah maka kita tidak bisa lagi menikmati masa muda kita saat ini, kita lebih fokus dengan rumah tangga ataupun anak jika kita sudah memiliki anak dimasa muda. Maka dari itu, pernikahan harus di fikirkan secara matang agar pernikahan tersebut bisa menjadi keluarga yang bahagia.

Pernikahan pun hanya bisa dilakukan dengan syarat jika pihak laki-laki berumur 19 tahun dan pihak perempuan 16 tahun. Hal ini bertujuan agar tidak ada lagi kasus pernikahan dini yang merusak masa depan anak. Orang tua sebaiknya lebih mementingan pendidikan anak. Jika keluarga memiliki kekurangan ekonomi maka orang tua bisa melakukan berbagai macam cara agar tetap bisa mementingkan masa depan anaknya.

Pernikahan dini sangat berdampak negatif. Contohnya, tingginya angka kematian ibu dan anak serta gangguan kesehatan lainnya, dapat menyebabkan penyakit HIV, kanker leher rahim, depresi yang sangat berat, pernikahan yang tidak berkekuatan hukum, kekerasan dalam rumah tangga, konflik dan berujung perceraian, banyaknya anak terlantar, kurangnya jaminan masa depan.

Maka dari itu kita harus lebih berfikir secara matang untuk masa depan diri kita sendiri, lebih berhati-hati dalam bergaul dengan antar sesama, jauhi sifat yang tidak baik buat diri kita, mempunyai cita-cita dan harus dicapai, berfikiran terbuka.

Pernikahan dini memiliki sejumlah dampak buruk, khususnya bagi perempuan. Seperti kesehatan reproduksi dan ekonomi. Seperti yang telah dijelaskan diatas. Terkadang bisa juga dalam terjadinya pernikahan dini disebabkan oleh perempuan yang hamil diluar nikah, maka terpaksa untuk dinikahkan diumur yang belum pantas untuk menikah atau disebut menikah dibawah umur.

Idealnya umur dalam pernikahan. Wanita ideal usianya mulai dari 20-35 tahun, dan bagi pria ideal usianya untuk menikah mulai umur 25-40 tahun. Tetapi hingga saat ini masih banyak pernikahan yang dilakukan pada usia remaja, sedangkan BKKBN atau badan keluarga berencana nasional menganjurkan untuk menghindari pernikahan yang dilakukan di usia dini. Hal ini terjadi karena pada usia dini belum matang baik medis atau psikologis.

Hampir 50% hubungan pernikahan di usia dini berujung perceraian. Perceraian terjadi karena pada usia pernikahan dini belum cukup dewasa dan tidak mampu untuk mengatasi konflik pada rumah tangga. Maka dari itu kita penting untuk memperhatikan usia pernikahan. Pernikahan di usia ideal selain mampu mengelola kualitas rumah tangga yang baik juga pada kesehatan organ tubuh reproduksi wanita. Karena pada usia diatas 20 tahun organ reproduksi wanita sudah siap menerima benda asing yang dalam kata lain penetrasi penis dan sel telur yang bersangkut sudah siap dibuahi, rahim sudah siap mengandung dan bersalin. Sehingga resiko-resiko akan berkurang.

Pernikahan di usia dini juga bisa terjadi dalam pergaulan yang salah. Maka dari itu kita semua harus lebih berhati-hati dalam bergaul dengan siapapun. Jika kita terjadi menikah diusia dini maka kita harus menerima resiko-resiko nya. Pernikahan dini juga berdampak negatif yang tidak hanya merugikan anak maupun keluarga. Tetapi secara keseluruhan juga merugikan negara.

Dampak negatif dari pernikahan dini inilah perlu terus menerus kita sampaikan kepada masyarakat, baik kepada keluarga, anak, maupun sama pihak terkait. Masalah pernikahan dini merupakan masalah kritis mengingat masih banyak daerah di Indonesia yang memiliki angka pernikahan dini cukup tinggi pada tahun 2019. Untuk itu, diperlukan upaya untuk menurunkan angka ini secara drastis bahkan menghapusnya, sehingga Indonesia menjadi negara tanpa pernikahan dini. Ini semua dilakukan demi menyelamatkan dan meningkatkan kualitas hidup anak di Indonesia, dengan begitu SDM berkualitas bangsa ini dapat kita wujudkan dimasa depan.

Mulai sekarang fikirkan masa depan yang cerah. Jangan sampai bergaul dengan pergaulan yang salah sehingga dapat merusak masa depan. Apa yang terjadi jika sedang berpendidikan lalu berhenti ditengah jalan hanya karena hamil diluar nikah.

Hal tersebut dapat merusak masa depan diri sendiri dan hal tersebut dapat merusak impian orang tua atau keluarga yang bermimpi agar anaknya bisa sekolah tinggi dan mencapai cita-cita yang bagus. Maka dari itu, kita harus lebih berfikir secara matang bagaimana kehidupan kita di masa depan, agar tidak mengecewakan keluarga yang susah payah membesarkan dan membiayakan kita dari kecil hingga saat ini. Menjadi seorang orang tua bukan suatu hal yang mudah dan lebih banyak dengan bertanggung jawab.

Red// Puput Handayani (Mahasiswa ITB-AD Jakarta)