Presiden Jokowi Cerita Soal Uni Emirat Arab Dan `Antek Asing`

0
22
Pada pembukaan Forum Titik Temu `Kerja Sama Multikultural untuk Persatuan dan Keadilan`, di Makara Ballroom, Hotel Double Tree Hilton, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (18/9), Presiden Joko Widodo sempat menyinggung mengenai keberhasilan Uni Emirat Arab (UEA) . Foto: Istimewa

JAKARTA, Berita-fakta.co.id– Pada pembukaan Forum Titik Temu `Kerja Sama Multikultural untuk Persatuan dan Keadilan`, di Makara Ballroom, Hotel Double Tree Hilton, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (18/9), Presiden Joko Widodo sempat menyinggung mengenai keberhasilan Uni Emirat Arab (UEA) meloncat menjadi negara yang sangat makmur dan maju dengan pendapatan per kapita 43 ribu dollar AS.

“40 tahun yang lalu, Uni Emirat Arab merupakan negara yang tertinggal. Tingkat melek hurufnya  rendah, tingkat pendidikannya tertutup dan tradisional,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya, seperti diinformasikan melalui laman resmi Setkab.

Menurut Presiden, pemimpin UEA Syekh Mohammed pernah bercerita kepada dirinya di dalam mobil berdua, bahwa pada tahun 1960-an, warga UEA masih menggunakan unta untuk mencapai Abu Dhabi dari Dubai (ibukota UEA, red), sementara Indonesia sudah naik Holden dan Impala.

Namun begitu, lanjut Presiden, UEA meloncat begitu sangat cepatnya, dan juga Sovereign wealth fund-nya sekarang ini mencapai 700 milliar dollar AS, masuk dalam 3 besar dunia. UEA juga sekarang menjadi ikon kemajuan dunia dengan kota termodern dan terindah serta menjadi ajang untuk kemajuan teknologi dunia di sana.

Menurut Kepala Negara, dalam hal sumber daya alam, Indonesia jelas lebih kaya dibandingkan Uni Emirat Arab. “Mereka punya minyak, kita juga punya minyak. Mereka enggak punya hutan, kita punya hutan dan kayu. Mereka enggak punya tambang, kita punya batu-bara, nikel, bauksit, emas, tembaga. Mereka tidak punya lahan subur, kita punya. Mereka tidak punya tambang mineral batubara dan lain-lainnya yang disampaikan, kita punya,” ujar Presiden.

“Menurut saya salah satu kunci utamanya adalah keterbukaan dan toleransi. Dan itu saya dapatkan langsung dari beliau, Syeikh Mohammed. Apa? Keterbukaan dan toleransi,” ucapnya.

Presiden Jokowi menyampaikan, UEA berani mengundang  talenta-talenta top dunia yang menjadi CEO dan tenaga ahli, yang kemudian satu per satu digantikan oleh warga asli di Uni Emirat Arab.

“Mengundang puluhan perguruan tinggi ternama dunia, termasuk rektor, termasuk dosen, termasuk guru-guru hebat dari negara-negara lain. Sementara di sini, baru ide, gagasan ada 4.700 akademi, politeknik, universitas, perguruan tinggi, baru ngomong-ngomong dikit aja,  gimana kalau kita pakai 3 universitas kita atau politeknik kita atau akademi kita pakai rektor asing. Tapi belum. Baru berbicara seperti itu, sudah langsung Presiden Jokowi antek asing,” ungkap Presiden Jokowi.

Presiden juga mengemukakan, saat berkunjung ke Jakarta, beberapa waktu lalu, Syeikh Mohammed juga sangat tegas mengatakan, ingin menjadikan Uni Emirat Arab sebagai ibu kota toleransi dunia.

“Berdua di dalam mobil saya tanya hal yang sangat pribadi, hal yang menjadi kunci mereka maju. Tapi ternyata, tidak mudah diterapkan di negara kita, karena hal-hal yang tadi saya sampaikan, antek-antek tadi,” kata Presiden Jokowi.

Presiden menggaris bawahi visi Syeikh Mohammed yang sangat tegas, ingin menjadikan negaranya sebagai ibu kota toleransi dunia. Ibu kota toleransi dunia. Dengan kata lain, tegas Kepala Negara, isu kemajukan bukan semata-mata isu sosial atau isu-isu politik, tetapi penerimaan terhadap kemajemukan adalah juga menjadi isu pembangunan ekonomi.

“Tanpa adanya penerimaan terhadap kemajemukan, tanpa adanya penerimaan terhadap anggota warga dengan latar belakang yang berbeda-beda, maka masyarakat tersebut akan menjadi masyarakat yang tertutup dan tidak berkembang,” tegas Kepala Negara.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Mendikbud Muhadjir Effendy, Mensesneg Pratikno, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, ulama Prof. Dr. Quraish Shihab, Sinta Nuriyah Wahid, dan Komariah Nurcholis Majid (istri almarhum Nurcholis Majid).

Wartawan: Purwanto