Solo Menjadi Kota Santai Dibalik Kerasnya Kehidupan Kota

0
8

Jakarta, beritafakta.id- Kota yang kental dengan budaya dan merupakan roh dari pulau Jawa, Solo bergerak dalam irama. Kaki Yang melangkah dalam karma. Kehidupan yang tak selalu mudah, namun, langkah-langkah yang ringan memegang cuma milik jiwa-jiwa yang berbobot dalam berpikir, Solo dalam penerapan falsafah, Solo dalam kenyataan.

Kata orang di solo waktu berjalan lebih perlahan. Orang bilang di Solo ambisi bukan merupakan isi dari jiwa-jiwa manusianya. Apa iya? Namun, perlahan bukan berarti tidak bergerak, bukan?

Kalau kita meminjam pandangan dari seorang Wiji Thukul, Solo sudah banyak mengalami perubahan, apa-apa saja yang terjadi di Solo? Nah, penulis percaya selalu ada penjelasan yang lebih panjang dari setiap cerita, dari setiap anggapan umum yang beredar di masyarakat. Dan ini Solo, simak kisah-kisah menarik lainnya.

Solo atau Surakarta adalah wilayah yang terberkati oleh alam. 578,490 jiwa manusia di Solo hidup dalam naungan gunung Merbabu, dan Merapi di barat, serta gunung Lawu di bagian timur, tanah subur di sekeliling gunung berapi itu disempurnakan dengan bentangan sungai Bengawan Solo, Sungai terpanjang di pulau Jawa.

Fakta menarik lainnya, Solo turun peringkat dari kota terkecil di Indonesia, dari peringkat 14, ke-13, hal tersebut di sebabkan pergeseran patok batas wilayah dengan daerah tetangga, hal menarik lainnya terdapat jalan bernama Jl. Selamat Riyadi. Nama jalan yang diangkat Wiji Thukul sebagai salah satu judul puisinya.

Dan lagi-lagi tentang Wiji Thukul. Di tempat ini, beliau melihat dan memandangi perubahan yang terjadi di kota Solo.

Ibu Winny Astuti dosen, dan peneliti, dari program studi Pascasarjana wilayah dan tata kota, fakultas teknik Universitas Negri Solo (UNS). Dan lebih dikenal sebagai planologi, ia menjelaskan banyak hal tentang jalan Selamet Riyadi.

“Jalan utama di tengah kota solo yang itu menghubungkan antara kota-kota lain, jadi kalo dari Jogja mau ke Surabaya juga lewatnya sini. Kemudian dari Semarang ke Kartosuro” ungkap Winni Astuti saat di hubungi via telepon.

Solo selalu identik dengan dua nama, Solo dan Surakarta, yang menurut sejarah terdapat kerajaan Mataram yang terletak di Kartosuro, kemudian kerajaan Mataram perang yang mengakibatkan kratonan Kartosuro hancur, lalu Pakubuono ke-2 mencari tempat lain untuk mengganti ibu kota Mataram ke desa Sala. Dari sana awal mula berdirinya nama kota Solo.

“Kalo saya amati sebetulnya tonggak perkembangan dari kota Solo sendiri mungkin pada jalanya pak Jokowi, tahun 2005 sampai 2010 waktu itu terjadi perubahan besar karena beliau banyak menata sektor informal seperti pemindahan PKL” ucap Winni.

Perubahan demi perubahan terus berjalan, pembangunan kota pun sejalan dengan prinsip hidup orang solo yang dikenal dengan sebutan ‘alon-alon asal kelakon’ yang artinya pelan tapi pasti, karena sejatinya segala sesuatu harus melibatkan rasa.

Wajah asli kota Solo yang sebenarnya, Weni memberikan pandangannya tentang Solo dimasa depan “Solo masa depan akan kembali ke solo masa lalu, jadi dengan seperti itu maka perencanaan kota itu akan menggali. Mengali apa-apa yang dulu kita punya, seperti batik misalnya kemudian bangun bersejarah di ekspos lagi, jadi karakter-karakter fisik asli Jawa dimunculkan kembali termasuk pariwisata budaya, kuliner dan ini loh… Kekayaan Solo, yang mana ini merupakan sesuatu yang berbeda” jelas Weni.

Kalo jalan Selamet Riyadi dijadikan jalan sentral pusat kota, maka bisa di bilang, alun-alun kidul merupakan simbol manusianya. Iya di tempat ini merupakan pusat keramaian buat warga di kota Solo, orang-orang bisa meter-meter naik andong, jalan-jalan ke kraton, ataupun belajar sejarah.

Secara sejarah, alun-alun kidul merupakan bagian terpenting kompleks kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Alun-alun tersebut merupakan melting point solo sebagai kota. Di sini tempat orang menghabiskan waktunya yang terkesan pelan, bisa di bilang pelan karena mereka menjalani dengan nikmat dan khidmat.

Enteng, ringan, tapi berbobot, begitulah gambaran yang di ungkapkan oleh pengunjung saat berada di alun-alun kidul. Hal tersebut sejalan dengan karakteristik masyarakat Solo yang santan, dan adem dalam menjalankan kehidupan. Tak heran jika Solo menyandang nama sepirit of Java, karna sepirit kehidupan orang Jawa yang sebenar-benarnya dapat dinikmati di kota ini.