IPDA dan Hetero Space Teken MoU Kerjasama Program Pemberdayaan Pemuda Desa dan Penguatan Ekonomi Masyarakat

Senin, 1 Desember 2025 - 10:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum IPDA Arifin Kusuma Wardani dan Perwakilan Hetero Space Irfan Bachtiar  teken  MoU Program Pemberdayaan Pemuda Desa dan Penguatan Ekonomi Masyarakat.(foto/rz)

Ketua Umum IPDA Arifin Kusuma Wardani dan Perwakilan Hetero Space Irfan Bachtiar teken MoU Program Pemberdayaan Pemuda Desa dan Penguatan Ekonomi Masyarakat.(foto/rz)

BANJARNEGARA –  Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) mengadakan MoU dengan Hetero Space. MoU di tandatangani oleh Ketua Umum IPDA Arifin Kusuma Wardani dan Perwakilan Hetero Space Irfan Bachtiar di Aula Kantor Karesidenan Lama Banyumas pada Minggu , (30 /11/2025).

MoU dengan Hetero Space ini menjalin  kerjasama  Program Pemberdayaan Pemuda Desa dan Penguatan Ekonomi Masyarakat dalam mendukung  Prioritas Pembangunan Nasional dan Daerah.

Hetero Space adalah sebuah coworking space (ruang kerja bersama) yang didirikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menjadi wadah kolaborasi, eksplorasi ide, dan pengembangan bisnis, khususnya bagi generasi muda dan pelaku ekonomi kreatif.

“Hetero Space dan IPDA memiliki kesamaan tujuan dalam mendukung agenda pembangunan nasional dan daerah melalui kolaborasi pemberdayaan masyarakat ,” Kata  Ketua Umum IPDA Arifin Kusuma yang akrab di sapa Dani

Foto bersama Anggota IPDA dan pengurus Haetero Space dan sejumlah nara sumber usai acara MoU dan sosialisasi program kemiskinan.(foto/har)

Dani  menambahkan MoU dengan Hetero Space  dimaksudkan sebagai landasan kerjasama dalam mendukung upaya penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan ketrampilan, kewirausahaan, dan peningkatan kapasitas pemuda desa.

Selain itu kata Dia, MoU juga di lakukan untuk mendorong program-program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal termasuk ekonomi kreatif, pangan, wisata dan usaha komunitas.

“MoU ini juga untuk mendorong tumbuhnya unit usaha masyarakat dan UMKM yang produktif, berdaya saing dan berkelanjutan dan diharapkan menghasilkan dampak sosial -ekonomi yang terukur sesuai arah pembangunan nasional dan daerah,” lanjutnya.

Cara ini kata Dani sejatinya adalah kolaborasi untuk bersama sama mengentaskan kemiskinan di Jawa Tengah.

Dani menambahkan, Fokus  Gubernur Jawa Tengah saat ini salah satunya adalah ketahanan pangan. Untuk itu IPDA mengajukan pendampingan kepada dua desa miskin di Banjarnegara yaitu Desa Gumelem Kulon dan Wetan Kecamatan Susukan  serta  Desa Petir   Kecamatan Purwanegara.

“Di Desa Gumelem kita melakukan pendampingan kepada para Petani Nira yang sudah sepuluh tahun lebih eksis melakukan eksport, sedangkan di Desa Petir akan dilakukan pendampingan kepada para petani singkong yang  nantinya akan menjadi supplier untuk pembuatan tepung mocaf yang mulai merambah eksport,” tambahnya.

Sementara Anggota Komisi E DPRD Jateng, Ja’far Shodiq mengatakan, kemiskinan saat  ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga masalah sosial yang dipengaruhi oleh pola pikir dan budaya yang menopangnya.

“Mental miskin” atau pikiran miskin adalah pola pikir yang membuat seseorang enggan berusaha, menerima nasib, dan menyalahkan keadaan, sementara “budaya miskin” adalah kebiasaan, nilai, dan keyakinan yang membentuk cara berpikir tersebut, seperti sikap pasrah atau rasa nyaman dengan kondisi miskin.

Ia mencerikatan, bahwa ada salah satu desa miskin exstrem sudah 4 tahun mendapatkan pendampingan, namun tidak juga terselesaikan dan cenderung stagnand.

Kondisi ini disebabkan karena  Kepala Desanya tidak progresif, sedangkan warganya  tidak mau berubah dan merasa nyaman dengan bantuan yang terus di terima dan tidak ada perbaikan.

“Jika warganya tidak mau berubah dan Kepala Desanya tidak progresif maka tidak akan berubah menjadi desa mandiri, yang lebih parah, baik Kepala desa dan warganya tetap memelihara kemiskinan agar terus mendapatkan bantuan,”Ujar Ja’far Sodiq

Ia berharap desa yang mempunyai mental miskin seharusnya mendapatkan pendampingan khusus. Dan pendamping juga harus mendapatkan insentif khusus agar bisa lebih semangat dalam mendata jumlah KK miskin.

“Ini yang mungkin bisa memecahkan desa yang mempunyai mental miskin dan seharusnya bisa mentas dari kemiskinan dengan pemberdayaan,” katanya.(ahr)

 

 

Berita Terkait

Jakarta Pertamina Enduro Menang Telak 3-0 atas Popsivo Polwan di Proliga 2026
Pertamina Perkuat Kampanye Keberlanjutan Lewat Gerakan Sebar Energi Baik
Koordinasi Menteri PANRB dan BPIP untuk Menyelaraskan RUU Pembinaan Ideologi Pancasila
BULD DPD RI Wanti-wanti Risiko Hukum Penggunaan Dana Desa untuk Koperasi
Pertamina UMK Academy Salurkan Hibah Rp900 Juta untuk 100 UMK Binaan
Beasiswa Patriot Kementerian Transmigrasi Siap Bentuk Generasi Pemimpin untuk Kawasan Transmigrasi
Pemerintah Selaraskan RUU Pembinaan Ideologi Pancasila dengan Arah Kebijakan Nasional
Masa Tinggal Haji Dinilai Terlalu Lama, DPD RI Sebut Bebani Anggaran dan Jemaah Lansia
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Januari 2026 - 14:37 WIB

Jakarta Pertamina Enduro Menang Telak 3-0 atas Popsivo Polwan di Proliga 2026

Minggu, 25 Januari 2026 - 14:31 WIB

Pertamina Perkuat Kampanye Keberlanjutan Lewat Gerakan Sebar Energi Baik

Rabu, 21 Januari 2026 - 15:06 WIB

Koordinasi Menteri PANRB dan BPIP untuk Menyelaraskan RUU Pembinaan Ideologi Pancasila

Rabu, 21 Januari 2026 - 15:00 WIB

BULD DPD RI Wanti-wanti Risiko Hukum Penggunaan Dana Desa untuk Koperasi

Rabu, 21 Januari 2026 - 12:16 WIB

Pertamina UMK Academy Salurkan Hibah Rp900 Juta untuk 100 UMK Binaan

Berita Terbaru