BREBES – Gelombang kekecewaan terhadap hasil Konferensi Cabang (Konfercab) PDI Perjuangan Kabupaten Brebes yang digelar di Hotel Patra Semarang pada 27 Desember 2025 terus meluas. Kali ini, sejumlah kader dan simpatisan PDI Perjuangan di Kecamatan Paguyangan, Brebes Selatan, secara terbuka menyatakan mundur dari partai berlambang banteng moncong putih tersebut.
Pernyataan sikap itu disampaikan oleh Riyanto, kader PDI-P asal Desa Kretek, Kecamatan Paguyangan, saat berkumpul bersama simpatisan dan kader lainnya di Warkop Pierel, Paguyangan, Sabtu (17/1/2026).
Riyanto menilai proses dan hasil Konfercab PDI-P Brebes tidak berjalan secara aspiratif dan demokratis, sehingga tidak mencerminkan semangat perjuangan partai yang selama ini mengusung kepentingan wong cilik.
“Kami kecewa dengan hasil konfercab yang tidak demokratis. Ini bukan hanya soal saya, tetapi tentang wong cilik yang selama ini berjuang dan membesarkan PDI Perjuangan,” kata Riyanto.
Mantan anggota DPRD Brebes periode 1999–2004 itu menegaskan bahwa kader akar rumput memiliki peran besar dalam membangun dan menjaga eksistensi partai. Namun dalam Konfercab, aspirasi mereka justru dinilai terabaikan.
“Kami merasa suara kami tidak didengar. Seolah-olah keputusan sudah ditentukan sebelum konfercab berlangsung,” ujarnya.
Ia juga menyoroti minimnya transparansi serta kurangnya pelibatan kader dalam proses pengambilan keputusan. Kondisi tersebut, menurut Riyanto, berpotensi menggerus kepercayaan dan loyalitas kader di tingkat bawah, bahkan berdampak pada perolehan suara PDI-P pada Pemilu 2029 mendatang.
Langkah Riyanto diikuti oleh sejumlah kader lainnya di Kecamatan Paguyangan yang mengaku memiliki kekecewaan serupa. Mereka menyatakan siap melanjutkan perjuangan politik di luar PDI Perjuangan.
“Saya sudah lama di PDI-P, tetapi saya tidak bisa menerima hasil seperti ini,” ujar salah seorang kader yang enggan disebutkan namanya.
Sebagai bentuk protes, para kader dan simpatisan tersebut juga mengembalikan atribut partai, termasuk kaus bergambar banteng moncong putih. Mereka menilai atribut tersebut tidak lagi merepresentasikan nilai perjuangan dan aspirasi wong cilik.
“Kami tidak ingin lagi menggunakan atribut ini karena sudah tidak sesuai dengan marwah partai,” kata seorang simpatisan.
Hingga berita ini diturunkan, pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Brebes belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan mundur kader dan simpatisan di Kecamatan Paguyangan tersebut.
(Rusmono)






