BANDUNG – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menegaskan bahwa masa purna bakti Aparatur Sipil Negara (ASN) bukan sekadar penutup perjalanan karier, melainkan fase transisi kehidupan yang perlu disiapkan secara terencana dan menyeluruh.
Menurutnya, selama ini perhatian ASN lebih banyak tertuju pada fase awal karier seperti pengangkatan CPNS, promosi jabatan, dan pengembangan karier, sementara persiapan menuju purna bakti kerap terabaikan. Padahal, fase tersebut pasti akan dialami seluruh pegawai.
“Purna bakti bukan berarti berhenti berkarya. Namun tanpa kesiapan yang memadai, fase ini justru bisa menimbulkan tantangan kesejahteraan dan sosial,” ujar Rini saat menjadi keynote speech dalam Seminar Kebebasan Financial Melalui Entrepreneur dan Bisnis di Universitas Padjadjaran, Bandung, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa purna bakti tidak hanya berkaitan dengan aspek finansial, tetapi juga menyangkut kesehatan mental, relasi sosial, dan rasa kebermaknaan hidup. Ketidaksiapan non-finansial dinilai dapat memengaruhi well-being dan kepuasan hidup di usia lanjut.
Saat ini, jumlah ASN di Indonesia mencapai lebih dari 6,5 juta orang. Sekitar 13 persen atau lebih dari 800 ribu ASN diproyeksikan memasuki masa purna bakti dalam lima tahun ke depan, seiring dengan dinamika demografi menuju ageing population.






