Gerakan Tanah Lambat Ancam Permukiman Warga Karekan, Tim Geologi Unsoed Lakukan Kajian Lapangan

Kamis, 5 Februari 2026 - 11:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banjarnegara – Berita Fakta.id

Sejumlah rumah warga di Dusun Tempuran, Desa Karekan, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, mengalami kerusakan struktural akibat fenomena pergerakan tanah yang dipicu oleh erosi Sungai Merawu. Untuk menelusuri penyebabnya, Tim Teknik Geologi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) diterjunkan langsung ke lokasi.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kerusakan bangunan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berlangsung perlahan dalam kurun waktu tertentu. Kondisi ini ditandai dengan munculnya retakan pada dinding dan lantai rumah warga, yang mengarah pada fenomena gerakan tanah lambat (creeping).

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Asmoro Widagdo, dosen dan peneliti Teknik Geologi Unsoed, saat audiensi warga Desa Karekan dengan Penjabat Sekretaris Daerah Banjarnegara, Tursiman, bersama jajaran OPD di Ruang Rapat Sekda, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, pergerakan tanah yang terjadi merupakan akumulasi dari proses alamiah yang terus berlangsung, sehingga dampaknya baru terasa setelah beberapa waktu.

Faktor Penyebab Utama

Dr. Asmoro menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor dominan yang memicu kondisi tersebut. Salah satunya adalah erosi vertikal dan lateral Sungai Merawu yang secara terus-menerus menggerus tebing sungai dan melemahkan kaki lereng, sehingga alur sungai mengalami pergeseran dari kondisi semula.

Selain itu, kondisi geologi setempat juga berpengaruh besar. Wilayah Desa Karekan berada di atas lapisan batulempung Formasi Rambatan, yang dikenal memiliki sifat mudah mengalami deformasi, terutama ketika jenuh oleh air.

Faktor lain yang memperparah situasi adalah tata guna lahan. Banyak rumah warga dibangun sangat dekat dengan tebing sungai tanpa perlindungan struktur pengaman seperti talud atau bronjong.

Tingginya kandungan air di dalam tanah juga menjadi pemicu utama. Kejenuhan ini berasal dari curah hujan tinggi, resapan kolam ikan, limbah rumah tangga, serta meningkatnya debit Sungai Merawu akibat berkurangnya tutupan hutan di wilayah hulu.

Aktivitas PLTM Tidak Berkaitan

Menanggapi kekhawatiran warga terkait aktivitas pengerukan sedimen di Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Karekan, tim teknis memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak berhubungan langsung dengan pergerakan tanah di permukiman.

Lokasi pengerukan berada di area intake PLTM dengan jarak sekitar 1,1 kilometer dari titik kerusakan rumah warga. Secara morfologi dan teknis, pengerukan dilakukan secara lokal dan berada di atas bendungan yang sudah ada.

“Dengan jarak tersebut dan sifat pengerukan yang terbatas, pengaruhnya terhadap aliran sungai di lokasi permukiman sangat kecil,” jelas Dr. Asmoro.

Banjarnegara Rawan Bencana

Dalam kesempatan yang sama, Pj Sekda Banjarnegara Tursiman mengingatkan bahwa sekitar 70 persen wilayah Banjarnegara tergolong rawan bencana. Oleh karena itu, setiap perencanaan pembangunan harus mempertimbangkan aspek kebencanaan dan keseimbangan lingkungan.

“Pembangunan harus adaptif dan selaras dengan kondisi alam, agar aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat bisa berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

(Bas)

Berita Terkait

Tabet hingga Jendela, Karya Sineas Muda Brebes Perkuat Budaya Lokal dan Industri Kreatif Daerah
Wamendikdasmen Soroti Rendahnya APK SMA di Banjarnegara, MBS Wanayasa Disiapkan Buka Jenjang Aliyah
Geliat Baru eks Terminal Banjarnegara, Resmi di Tata Ulang Jadi Pusat Kuliner Tamkot
Publik Pertanyakan Dugaan Percaloan di Samsat Bangkalan, Kasat Lantas Tegaskan Nol Toleransi
Warga Terdampak Rob di Kelurahan Balok Dievakuasi ke Hunian Aman, Polres Kendal Turun Langsung
Warga Limbangan Sambut Positif Kehadiran PT Zhing King, Akses Jalan Dinilai Makin Baik
Tanam Pohon Sebelum Bertanding, Kapolda Jateng Cup 2026 Satukan Prestasi Digital dan Kepedulian Lingkungan
Lawan Ilegal Dumping, Puluhan Pegiat Lingkungan Bersihkan Hulu Sungai Nyangko Cendana
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 20:28 WIB

Tabet hingga Jendela, Karya Sineas Muda Brebes Perkuat Budaya Lokal dan Industri Kreatif Daerah

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:48 WIB

Wamendikdasmen Soroti Rendahnya APK SMA di Banjarnegara, MBS Wanayasa Disiapkan Buka Jenjang Aliyah

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:46 WIB

Geliat Baru eks Terminal Banjarnegara, Resmi di Tata Ulang Jadi Pusat Kuliner Tamkot

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:16 WIB

Warga Terdampak Rob di Kelurahan Balok Dievakuasi ke Hunian Aman, Polres Kendal Turun Langsung

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:23 WIB

Warga Limbangan Sambut Positif Kehadiran PT Zhing King, Akses Jalan Dinilai Makin Baik

Berita Terbaru

healthy life

Menyembuhkan Api dalam Diri: Menuju Fajar Sultan Longevity

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:22 WIB