Banjarnegara | Berita Fakta.Id
Tidak semua tim datang ke liga dengan koper penuh fasilitas. Ada yang datang hanya membawa tekad, seragam kebanggaan, dan satu tujuan: tidak mempermalukan daerahnya sendiri. Itulah wajah Persibara Banjarnegara di panggung Liga 4 Jawa Tengah musim ini.
Di tengah dinginnya Banjarnegara dan minimnya persiapan, para pemain muda Laskar Dipayudha turun ke lapangan bukan sekadar untuk bertanding, melainkan untuk bertahan—menjaga nama Persibara agar tetap hidup di sepak bola nasional level bawah.
Waktu yang Tak Pernah Berpihak
Liga sudah di depan mata ketika Persibara baru mulai merangkai tim. Tanpa masa seleksi ideal, tanpa pemusatan latihan berbulan-bulan, manajemen dipaksa bekerja dengan apa yang ada. Banyak talenta lokal sudah lebih dulu hijrah ke klub luar daerah, meninggalkan lubang yang harus segera ditambal.
Manajer Persibara, Qodam, tak menutupi kenyataan pahit itu. Ia menggambarkan kondisi tim seperti orang yang datang ke warung saat hampir tutup: tidak memilih menu, hanya menerima apa yang tersisa. Namun justru dari situ, karakter Persibara terbentuk—apa adanya, tapi jujur.
Bertahan Tanpa APBD
Di saat sebagian klub masih menggantungkan harapan pada anggaran pemerintah, Persibara memilih berdiri di kaki sendiri. Musim ini, tak ada sokongan APBD. Tim hidup dari swadaya, iuran, dan rasa memiliki para pengurus serta simpatisan.
Pilihan ini bukan tanpa risiko. Setiap latihan, setiap pertandingan, selalu dihitung dengan cermat. Fokus manajemen terbelah antara membina pemain muda dan memastikan klub tetap bisa membayar kebutuhan dasar. Bagi Persibara, sekadar bisa ikut kompetisi resmi saja sudah merupakan bentuk perlawanan terhadap keadaan.
Bukan Tim Penggembira
Meski serba terbatas, Persibara menolak disebut pelengkap liga. Uji coba melawan Persibas Banyumas menjadi bukti bahwa mereka masih punya nyali. Kekalahan tipis justru menegaskan satu hal: secara mental dan keberanian, anak-anak Banjarnegara tidak kalah.
Mereka mungkin kalah jam terbang, kalah fasilitas, tapi tidak kalah semangat.
Tanggal 11: Lebih dari Sekadar Pertandingan
Laga kandang pada tanggal 11 nanti bukan hanya soal tiga poin. Itu adalah ujian harga diri. Bermain di hadapan publik sendiri, Persibara tahu tak ada ruang untuk menyerah. Kemenangan menjadi satu-satunya cara menjaga asa lolos sekaligus membuktikan bahwa klub ini masih pantas diperhitungkan.
Liga 4 dan Soal Masa Depan
Manajemen menegaskan bahwa Liga 4 bukan turnamen tarkam. Regulasi usia yang ketat memaksa klub membangun regenerasi, bukan mengandalkan pemain jadi. Di sinilah Persibara memilih jalan panjang: pembinaan.
Meski banyak pemain lebih tergiur bermain tarkam dengan bayaran instan, Persibara tetap bertahan di liga resmi demi satu hal: marwah daerah dan masa depan sepak bola Banjarnegara.
Ketika Sepak Bola Menjadi Identitas
Bagi suporter, melihat Persibara tetap berlaga adalah kebanggaan tersendiri. Seragam merah-hitam yang berkibar di lapangan hijau bukan sekadar kostum, melainkan simbol bahwa Banjarnegara masih ada di peta sepak bola.
Kini beban itu ada di pundak para pemain muda. Dengan segala keterbatasan, mereka dituntut bertarung bukan hanya selama 90 menit, tetapi dengan hati—demi tanah kelahiran yang mereka wakili.
(Bas)






