Kopi Cap Kalong, Brand Lokal Sitata Susukan Tawarkan Cita Rasa Berkarakter

Minggu, 11 Januari 2026 - 07:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Brand lokal Sitata, Kopi Cap Kalong, hasil produksi pertanian Desa Panarusan Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara.

Foto: Brand lokal Sitata, Kopi Cap Kalong, hasil produksi pertanian Desa Panarusan Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara.

Banjarnegara, BeritaFakta.id – Bagi penikmat dan pecinta kopi, nama Kopi Cap Kalong mungkin sudah mulai dikenal, atau justru masih terdengar asing. Produk kopi ini berasal dari Sitata, Desa Panarusan Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, dan kini hadir sebagai salah satu brand kopi lokal dengan cita rasa khas dan berkarakter.

Kopi Cap Kalong dirintis sejak tahun 2021 oleh Eko Budianto, warga Panarusan Wetan yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Maju Jaya. Latar belakang lahirnya brand ini berangkat dari keprihatinan Budi melihat harga kopi petani Sitata yang saat itu anjlok drastis.

“Saat itu harga kopi masih berkisar Rp10 ribu per kilogram. Banyak petani membawa kopi ke pasar, tahu harganya murah, lalu dibawa pulang dan akhirnya dibuang. Saya kasihan, lalu berpikir bagaimana caranya kopi Sitata bisa naik daun dan bernilai seperti kopi di luar negeri,” ungkap Budi, Sabtu (10/1/2025).

Berangkat dari niat tersebut, Budi mulai berupaya memperjuangkan kopi Sitata dengan mencari berbagai dukungan. Ia mengajukan proposal ke sejumlah pihak hingga akhirnya memperoleh bantuan peralatan roasting.

“Saya berusaha menawarkan proposal ke berbagai pihak. Alhamdulillah, kami mendapatkan bantuan mesin roasting kopi melalui Dinas Sosial Kabupaten Banjarnegara, atas dukungan Mr. Quin, warga Australia yang saat itu berkunjung ke Indonesia,” imbuhnya.

Budi menjelaskan, jenis kopi yang saat ini dibudidayakan petani Sitata didominasi Robusta lokal, selain beberapa varietas lain.

“Di sini kebanyakan Robusta lokal, yang bijinya kecil-kecil dan bukan stek. Selain itu ada juga Robusta Cobra dan Liberika. Untuk Arabika masih sangat jarang,” terangnya.

Ia menambahkan, varietas Liberika memiliki karakter unik. Bentuk bijinya menyerupai Arabika, namun cita rasanya lebih mendekati Robusta.

“Liberika aromanya cenderung seperti Arabika, tetapi rasanya lebih ke Robusta,” jelasnya.

Di wilayah Sitata sendiri, kata Budi, kini mulai berkembang tanaman kopi hasil stek yang jumlahnya mencapai ratusan pohon.

“Sejak dulu petani sudah menanam sendiri. Sekarang mulai beralih ke stek, kurang lebih sudah ada sekitar 500 pohon kopi stek di Panarusan Wetan, semuanya milik warga,” katanya.

Untuk pemasaran, Kopi Cap Kalong dipasarkan secara mandiri melalui jejaring pertemanan dan pesanan jarak jauh. Produk ini bahkan telah menjangkau pasar di luar daerah.

“Pemasaran Alhamdulillah sudah sampai Jawa Barat dan Bali melalui sistem pesanan. Harga kami patok Rp175 ribu per kilogram,” ujarnya.

Budi juga memaparkan proses pengolahan kopi dari hulu hingga hilir. Mulai dari pembelian kopi basah dari petani hingga siap dipasarkan.

“Kopi basah kami beli dari petani seharga Rp70 ribu per kilogram. Proses pengolahan dilakukan secara natural, mulai dari pengeringan masih dengan kulitnya. Setelah benar-benar kering, kopi disosoh menggunakan mesin milik warga Sitata dengan jasa Rp3.000 per kilogram. Setelah itu baru kami roasting sekitar 15 menit, dikemas, dan dipasarkan,” jelasnya.

Saat ini, KUB Maju Jaya telah memiliki mesin roasting berkapasitas 4 kilogram. Produksi berjalan hampir setiap hari dengan kapasitas sekitar 20 kilogram per hari.

“Untuk pemasaran lokal, kami titipkan di warung-warung kecil dengan tetap menggunakan brand Kopi Cap Kalong. Untuk legalitas, saat ini kami menggunakan izin PIRT,” pungkasnya.

Ke depan, Kopi Cap Kalong berencana mengikuti berbagai kompetisi kopi lokal, sembari terus menjaga mutu dan kualitas produk. Budi mengaku terus belajar dari para pegiat dan ahli kopi, mengingat Banjarnegara juga memiliki sejumlah brand kopi unggulan seperti Kopi Dieng dan Kopi Pagentan.

(Bas)

Berita Terkait

PDI Perjuangan Brebes Tegaskan Jawa Tengah Tetap Kandang Banteng
Jalan Sehat Dies Natalis ke 24 SMK Nurul Islam Larangan Disambut Meriah Ribuan Siswa dan Warga
Mental Baja Livin’ Mandiri Bawa Kemenangan Dramatis atas Popsivo Polwan
Menteri PU Tinjau Longsor Cisarua, 6 Alat Berat Dikerahkan untuk Evakuasi
Kejutan Proliga 2026, Jakarta Garuda Jaya Tumbangkan Juara Bertahan Bhayangkara Presisi
Menteri PU Tinjau Normalisasi Sungai Aek Doras untuk Pulihkan Infrastruktur Pascabencana Sumut
Tinjau Banjir Bekasi, Menteri PU Tekankan Sinergi Pusat dan Daerah
Kementerian PU Gerak Cepat Tangani Longsor Cisarua Bandung Barat
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 14:14 WIB

PDI Perjuangan Brebes Tegaskan Jawa Tengah Tetap Kandang Banteng

Senin, 26 Januari 2026 - 11:42 WIB

Jalan Sehat Dies Natalis ke 24 SMK Nurul Islam Larangan Disambut Meriah Ribuan Siswa dan Warga

Minggu, 25 Januari 2026 - 17:55 WIB

Mental Baja Livin’ Mandiri Bawa Kemenangan Dramatis atas Popsivo Polwan

Minggu, 25 Januari 2026 - 15:01 WIB

Kejutan Proliga 2026, Jakarta Garuda Jaya Tumbangkan Juara Bertahan Bhayangkara Presisi

Minggu, 25 Januari 2026 - 14:55 WIB

Menteri PU Tinjau Normalisasi Sungai Aek Doras untuk Pulihkan Infrastruktur Pascabencana Sumut

Berita Terbaru