Banjarnegara – Minggu sore itu (11/2/2026), hujan turun tanpa jeda. Air Kali Sapi yang biasanya mengalir tenang berubah ganas, meluap dan menghantam jembatan penghubung Desa Petir–Pucung Bedug, Kecamatan Purwonegoro. Sekitar pukul 16.30 WIB, jembatan yang menjadi urat nadi aktivitas warga itu tak lagi mampu bertahan—retak, patah, lalu amblas.
Dalam hitungan menit, akses transportasi yang menghubungkan dua desa sekaligus jalur penting menuju Kecamatan Purwonegoro pun terputus. Warga hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, sebagian dengan raut cemas, sebagian lainnya berusaha menenangkan diri di tengah derasnya hujan.
Tak lama setelah kejadian, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bergerak cepat. Kepala DPUPR Banjarnegara, Yusuf Winarsono, turun langsung ke lokasi bersama Forkopimca Purwonegoro dan Kepala Dinkominfo. Di tengah sisa-sisa material jembatan dan aliran sungai yang masih keruh, Yusuf memastikan bahwa jembatan darurat segera dipersiapkan.
“Langkah pertama kami akan membersihkan material dan melakukan asesmen. Jembatan darurat akan segera dibangun agar bisa dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua,” ujarnya di lokasi kejadian.
Meski belum ditentukan secara pasti, konstruksi jembatan darurat akan dikaji terlebih dahulu—apakah menggunakan bambu atau material lain yang memungkinkan untuk dibangun cepat dan aman. Harapannya, dalam waktu tidak terlalu lama, warga bisa kembali beraktivitas meski dengan keterbatasan.
Sementara itu, untuk kendaraan roda empat, warga diminta bersabar. Akses dialihkan melalui Desa Kaliajir, jalur alternatif yang memutar sejauh empat hingga lima kilometer. Jarak yang lebih jauh tentu menambah waktu tempuh, namun menjadi satu-satunya pilihan demi keselamatan.
Di balik kerusakan jembatan tersebut, terselip kisah dramatis lainnya. Sebuah truk pengangkut pasir dilaporkan anjlok ke Kali Sapi saat melintasi jembatan sebelum ambruk sepenuhnya. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Truk berhasil dievakuasi sekitar pukul 18.30 WIB, sementara sang sopir selamat meski mengalami luka ringan.
Peristiwa ini menjadi pengingat betapa vitalnya infrastruktur bagi kehidupan masyarakat pedesaan. Jembatan bukan sekadar bangunan beton, melainkan penghubung ekonomi, pendidikan, dan sosial warga.
Terkait jangka panjang, DPUPR Banjarnegara menyatakan pembangunan jembatan permanen akan segera diusulkan kepada Bupati. Harapannya, tahun ini penanganan permanen bisa direalisasikan agar kejadian serupa tak kembali terulang.
Di tengah keterbatasan akibat bencana alam, harapan warga kini bertumpu pada langkah cepat pemerintah. Sebab bagi mereka, pulihnya jembatan berarti pulih pula denyut kehidupan sehari-hari.(Bas)






