BREBES – Air hujan masuk dari atap rumah yang berlubang, membasahi lantai tanah di sebuah rumah kecil di Desa Dukuhlo, RT.02/04 Kecamatan Bulakamba/Brebes. Di rumah itulah Nurokhim, 49 tahun, dan adiknya, Musriah, 44 tahun, menjalani ber hari-hari dalam keterbatasan.
Setiap musim hujan datang, genangan air dan lumpur menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Rumah berdinding bata merah itu pernah direhabilitasi melalui program rumah tidak layak huni beberapa tahun lalu.
Kini, bangunan tersebut kembali rapuh. Dinding bagian belakang rubuh, atapnya ambrol, dan nyaris tak ada ruang kering di dalam rumah saat hujan turun. Lantai tanah yang becek membuat mereka harus berhati-hati melangkah.
Di sudut rumah, sebuah dipan kayu lapuk menjadi tempat tidur Nurokhim. Ia tidur tanpa kasur, hanya beralas papan yang mulai keropos.
Musriah, adiknya, menghabiskan malam dengan berbaring di lantai tanah, beralaskan terpal plastik yang digelar seadanya. Ruang tidur itu menyatu dengan area mandi, tanpa sekat yang jelas.
Untuk menyambung hidup, Nurokhim berjualan mainan anak-anak keliling kampung.
Penghasilannya tak menentu dan sering kali tak cukup untuk membeli lauk. Dalam kondisi seperti itu, keduanya bergantung pada uluran tangan warga sekitar. Ada tetangga yang mengantar makanan, ada pula yang sekadar memberi beras atau lauk pauk.
“Kalau hujan, rumah bocor semua. Tembok dan atap di belakang juga sudah ambruk,” kata Nurokhim, Selasa, (20/1/ 2026).
Kebutuhan mandi, mencuci, dan buang air tak bisa mereka lakukan di dalam rumah. Fasilitas MCK berada di luar bangunan utama, hasil bantuan pemerintah.
Sementara listrik masih menumpang dari rumah tetangga. Di tengah keterbatasan itu, Nurokhim mengaku bantuan sosial sering terdengar ada, namun tak selalu sampai ke tangannya.
“Bantuan sering ada, tapi diambil kakak kami yang tinggal di rumah lain,” ujarnya lirih.
Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) mencatat keluarga Nurokhim masuk dalam Desil 1, kategori sangat miskin.
Camat Bulakamba Setiawan Nugroho mengatakan pihaknya telah melakukan asesmen langsung ke lokasi. “Keluarga itu masuk DTSEN Desil 1. Bantuan seperti BPNT Rp300 ribu dan BLT Kesra Rp900 ribu juga tercatat diterima,” kata Setiawan.
Menurut Setiawan, pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Dinas Sosial Kabupaten Brebes untuk menindaklanjuti kondisi rumah dan kebutuhan dasar keluarga tersebut. Namun bagi Nurokhim dan Musriah, waktu berjalan lebih lambat dari proses administrasi.
Di rumah kecil yang nyaris roboh itu, mereka menunggu uluran bantuan sembari bertahan dengan apa yang ada. Setiap tetes hujan yang jatuh dari atap berlubang menjadi pengingat bahwa kemiskinan bukan sekadar angka dalam data, melainkan kenyataan yang mereka jalani setiap hari.
Red: Rusmono






