BREBES, Beritafakta.ud – Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) menyimpulkan, 60 persen pribumi Indonesia nasabnya tersambung ke Walisongo.
Kesimpulan ini didasarkan penelitian berbagai manuskrip kuno yang ditemukan di berbagai daerah.
Pernyataan ini dikemukakan saat Rakerwil Naat Jawa Tengah di Ponpes Al Hasaniyah Kedawon, Kecamatan Larangan, Brebes. Acara ini dihadiri ratusan orang yang merupakan keturunan Walisongo baik dari garis ayah maupun ibu ternasuk dari kalangan Keraton Surakarta.
Ketua DPP NAAT, KH R Syarif Ilzamuddin Sholeh Al-Jilani Al-Hasani menyatakan, Walisongo adalah penyebar agama Islam di Nusantara. Setelah era Walisongo, dahwah dilanjutkan oleh anak hingga keturunan keturunannya.
Keturunan ini menyebar dan beranak pinak di seluruh wilayah Nusantara. Dari penelitian manuskrip kuno, lanjut Ilzamudin, disimpulkan bahwa 60 persen pribumi Nisantara adalah keturunan Walisongo baik melalui garis laki laki maupun perempuan.
“Di NAAT itu punya data induk Walisongo sampai generasi ke 7. Dan setelah kami teliti, minimal 60 persen pribumi di Indonesia adalah kerurunan Walisongo baik keturunan garis laki laki maupun perempuan,” ungkap Ilzamuddin, (16/2).
Ilzamuddin Sholeh membeberkan, ketersambungan keturunan ini juga merupakan hasil penelitian Naqib Saadatul Asyraf Pakistan dan Maroko. Kesimpulan silsilah ini sesuai dengan data manuskrip kuno yang satu zaman dengan Walisongo.
“Narasumber dari naqib Pakistan dan Maroko dalam penelitian manuskrip kuno yang satu zaman memaparkan silsilah Walisongo. Diketahui, Walisongo tersambung nasabnya ke Syekh Jumadil Kubro hingga ke Sayidina Hasan RA dan Sayidina Husain RA cucu dari Nabi Muhammad SAW,” tandasnya.
Lebih lanjut disampaikan, Walisongo merupakan pioner bangsa, menciptakan peradaban, menyebarkan islam dan yang mengislamkan nusantara. Dakwah Walisongo kemudian diteruskan pada keturunannya sampai sekarang.
Ke depan, para keturunan Walisongo ini harus bersatu dalam mewujudkan Indonesia Emas. Untuk menyatukan keturunan Walisongo di seluruh pelosok negeri, maka harus menggunakan slogan satu darah.
“Untuk itu dengan menciptakan isu satu darah dalam bahasa Madura ‘setong dereh’ kita akan beratu atas kesamaan keluarga,” tegasnya.
Sementara, Ketua DPW NAAT Jawa Tengah, KH Nuridin Syamsudin yang juga pengasuh Ponpes Al Hasaniyah Kedawon menegaskan, NAAT dibentuk untuk menjaga kehormatan nasab, membangun ukhuwah dzuriyah, serta berkontribusi dalam menjaga harmoni umat dan bangsa. Lembaga ini sekaligus untuk menghidupkan kembali semangat dakwah Walisongo yang menyebarkan Islam dengan hikmah dan keteladanan.
“Di tengah perubahan zaman, penguatan nasab bukan sekadar simbol, melainkan fondasi moral untuk menjaga marwah sejarah dan arah masa depan. Sejarah ulama Nusantara tidak pernah padam harus terus menyala menjadi cahaya bagi generasi penerus dan bangsa Indonesia,” pungkasnya.
(Rusmono)
Penulis : Rusmono
Editor : Azizah Estetika






