Restorasi Pendengaran Berbasis Sel: Harapan Baru dari Terapi Autograf Transplant Cell.

Minggu, 22 Februari 2026 - 11:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

​Oleh: dr. H. Agus Ujianto, M.Si. Med., Sp.B., FISQua

(Direktur RSI Sultan Agung, Ketua PREDIGTI, & Kandidat Doktor Studi Islam UIN Saizu Purwokerto)

Gangguan pendengaran bukan sekadar masalah pada telinga. Kondisi ini langsung memengaruhi kemampuan komunikasi dan kualitas hidup seseorang. Oleh karena itu, dunia medis tidak lagi hanya mengandalkan alat bantu eksternal. Kini, para ahli berfokus pada perbaikan biologis hingga tingkat seluler. Dengan pendekatan ini, terapi tidak sekadar membantu mendengar—tetapi berupaya memulihkan fungsi pendengaran secara alami.

Melalui Autograf Transplant Cell berbasis sel punca autologus, dokter berusaha memperbaiki jaringan yang rusak secara langsung. Pendekatan ini membuka peluang pemulihan yang lebih stabil, berkelanjutan, dan personal.

Tuli Sensorineural: Memperbaiki Fungsi Saraf Pendengaran Secara Langsung

Tuli sensorineural terjadi ketika sel rambut di koklea rusak atau saraf pendengaran mengalami degenerasi. Karena tubuh tidak mampu meregenerasi sel tersebut secara alami, dokter memerlukan strategi terapi yang lebih presisi.

Pertama, dokter dapat menyalurkan sel punca autologus melalui jalur endovaskular. Melalui arteri auditorius interna, sel-sel ini langsung mencapai koklea. Dengan cara ini, terapi memperbaiki mikrosirkulasi sekaligus menutrisi jaringan saraf secara langsung.

Selain itu, dokter juga dapat menggunakan akses lokal intratimpani atau perilinfatik. Pada metode ini, dokter menyuntikkan sel punca ke telinga tengah. Selanjutnya, sel berdifusi melalui membran jendela bulat menuju telinga dalam dan bekerja pada area kerusakan.

Lebih jauh lagi, sel punca autologus melepaskan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Faktor ini melindungi neuron dari kerusakan lanjutan sekaligus merangsang regenerasi sinaps saraf pendengaran. Dengan demikian, terapi tidak hanya menghentikan kerusakan—tetapi juga mendorong pemulihan fungsi biologis.

Tuli Konduktif: Membangun Kembali Struktur Penghantar Suara

Sebaliknya, tuli konduktif muncul karena gangguan mekanis pada sistem penghantar suara. Kerusakan gendang telinga atau tulang pendengaran sering menjadi penyebab utama. Oleh sebab itu, dokter menargetkan struktur yang rusak secara langsung.

Dalam praktiknya, dokter mengombinasikan sel punca autologus dengan scaffold biokompatibel. Kemudian, dokter menempatkan struktur ini pada area kerusakan, baik pada membran timpani maupun tulang pendengaran.

Menariknya, sel punca mesenkim memiliki potensi osteogenik. Artinya, sel mampu membentuk jaringan tulang baru. Karena itu, terapi dapat mempercepat penutupan perforasi gendang telinga kronis sekaligus memulihkan rantai osikular secara biologis. Dengan kata lain, terapi tidak sekadar mengganti jaringan—tetapi membangun kembali struktur alami tubuh.

Standar Medis Modern: Presisi Tinggi dan Pemantauan Digital

Untuk memastikan keamanan, dokter menerapkan prinsip minimal manipulation pada seluruh prosedur. Prinsip ini menjaga karakter biologis sel pasien tetap alami. Akibatnya, tubuh lebih mudah menerima terapi dan risiko penolakan imun menjadi sangat kecil.

Selain itu, dokter memantau hasil terapi secara digital melalui sistem audiometri terintegrasi. Dengan pemantauan berkelanjutan, tim medis dapat mengevaluasi perubahan ambang dengar secara objektif dan real time. Karena itu, kualitas terapi tetap terjaga sesuai standar keselamatan internasional.

Perspektif Spiritual: Ikhtiar Memulihkan Nikmat Pendengaran

Dalam perspektif Islam, pendengaran memiliki kedudukan yang sangat penting. Bahkan, Al-Qur’an kerap menyebut pendengaran lebih dahulu sebelum penglihatan. Oleh karena itu, upaya memulihkan fungsi pendengaran menjadi bagian dari ikhtiar menjaga nikmat yang Allah anugerahkan.

Karena terapi menggunakan sel dari tubuh pasien sendiri, pendekatan ini sejalan dengan prinsip halalan thayyiban—aman, suci, dan etis. Dengan demikian, kemajuan ilmu kedokteran berjalan selaras dengan nilai spiritual.

Menyambung Kembali Dunia Suara

Kesunyian akibat tuli tidak harus menjadi akhir perjalanan. Justru sebaliknya, teknologi Autograf Transplant Cell membuka peluang pemulihan yang lebih alami, presisi, dan berkelanjutan.

Dengan menggabungkan ilmu regeneratif, teknologi medis modern, dan kesadaran spiritual, terapi ini menghadirkan harapan baru. Pada akhirnya, ikhtiar ilmiah ini berupaya menyambungkan kembali manusia dengan dunia suara—atas izin Allah Yang Maha Mendengar.

Jika Anda ingin, saya bisa bantu menyusun versi artikel jurnal ilmiah, naskah presentasi medis, atau artikel populer edukasi masyarakat dari tulisan ini.

Penulis : dr. H. Agus Ujianto, M.Si. Med., Sp.B., FISQua

Editor : azizah estetika

Berita Terkait

Menjelajah Gua Lalay di Klapanunggal Bogor, Destinasi Hemat dengan Panorama Bukit Kapur
Cahaya Baru dari Semarang: Terapi Sel Autologus Halal–Thoyib Dorong Kemandirian Medis Bangsa
Jaga Kesehatan Reproduksi dan Hadapi PMS Tetap Nyaman Saat Ramadan
​Manunggalnya Sains dan Ayatullah: Transformasi Seluler Autologus yang Halalan Thoyyiban di RSI Sultan Agung
Bangun Ekosistem Fast Track, RS Ananda Purwokerto Jalin Sinergi Rujukan Kompetensi dengan RSI Sultan Agung Semarang
Puasa Saat Hamil Aman? Ini Penjelasan Tenaga Kesehatan
Manifesto Firasat: Menenun Nalar Biomolekuler dan Ruhaniah dalam Singgasana Kedokteran Modern
PBI BPJS Dipangkas, dr. Agus Ujianto: Rumah Sakit Tak Akan Tinggalkan Pasien
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 22 Februari 2026 - 11:28 WIB

Restorasi Pendengaran Berbasis Sel: Harapan Baru dari Terapi Autograf Transplant Cell.

Sabtu, 21 Februari 2026 - 23:40 WIB

Menjelajah Gua Lalay di Klapanunggal Bogor, Destinasi Hemat dengan Panorama Bukit Kapur

Sabtu, 21 Februari 2026 - 11:59 WIB

Cahaya Baru dari Semarang: Terapi Sel Autologus Halal–Thoyib Dorong Kemandirian Medis Bangsa

Jumat, 20 Februari 2026 - 11:17 WIB

Jaga Kesehatan Reproduksi dan Hadapi PMS Tetap Nyaman Saat Ramadan

Kamis, 19 Februari 2026 - 22:18 WIB

​Manunggalnya Sains dan Ayatullah: Transformasi Seluler Autologus yang Halalan Thoyyiban di RSI Sultan Agung

Berita Terbaru