Depok, beritafakta.id- Ramadan selalu datang membawa getar yang berbeda. Bagi umat Muslim, bulan suci ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan momentum memperbanyak amal dan memperdalam iman.
Karena itu, banyak orang memanjatkan doa agar Allah memberi umur panjang, rezeki yang lapang, serta kekuatan menjalankan ibadah puasa dan tarawih.
Di RT 07 RW 05 Ratujaya, Depok, suasana Ramadan terasa istimewa di Mushalla Baitul Jannah yang berdiri di bantaran Sungai Ciliwung. Di satu sisi, lokasinya jauh dari hiruk pikuk jalan raya. sementara, gemericik air sungai justru menghadirkan ketenangan alami.
Mushalla yang dikelola DKM Sudarman itu dikelilingi pepohonan rindang, terutama bambu yang menjulang tinggi. Alhasil, jamaah bisa beribadah dengan suasana yang hening dan nyaman.
Setiap malam, warga datang silih berganti untuk menunaikan shalat tarawih. Tak hanya itu, mereka juga memanfaatkan Ramadan untuk mempererat silaturahmi. Saf-saf terisi rapi, sementara anak-anak hingga orang tua larut dalam suasana khusyuk. Dengan demikian, mushalla kecil itu berubah menjadi pusat cahaya spiritual bagi lingkungan sekitar.
Tausiyah dan Doa Penuh Makna
Setelah tarawih, jamaah tidak langsung pulang. Sebaliknya, mereka melanjutkan malam dengan tausiyah yang disampaikan Ustadz Drs. H. M. Husni.
Dalam ceramahnya, ia mengajak warga memahami makna keberkahan Ramadan secara lebih mendalam. Menurutnya, keberkahan tidak hadir otomatis, melainkan tumbuh dari niat yang tulus dan amal yang konsisten.
Ia mengingatkan doa yang sering dibaca umat Islam: Allohumabariklana fii Rajaba wasya’bana wa ballighna syahril Ramadhan. Artinya, umat memohon keberkahan sejak Rajab dan Sya’ban agar Allah mempertemukan dengan Ramadan. Oleh sebab itu, setiap Muslim perlu menyambut bulan suci dengan persiapan iman dan akhlak yang lebih baik.
Setelah tausiyah, Ustadz Bustomi Mubarok memimpin doa. Kemudian, jamaah mengikuti tadarus Al-Qur’an secara bergantian yang dipimpin Ustadz Syaiful Azis hingga menjelang pukul 23.00 WIB.

Selain memperbanyak bacaan Al-Qur’an, mereka juga memperkuat kebersamaan dalam ibadah malam. Dengan cara ini, Ramadan tidak hanya terasa sebagai ritual, tetapi juga sebagai perjalanan spiritual bersama.
Belajar dari Kehidupan Sederhana
Menariknya, Ustadz juga menyampaikan perumpamaan sederhana agar jamaah lebih mudah memahami makna keberkahan. Ia mengajak warga meneladani pola hidup ayam. Pertama, ayam beristirahat saat malam tiba.
Kemudian, ayam berkokok saat fajar menyingsing dan secara tidak langsung membangunkan manusia untuk bertahajud. Selanjutnya, ayam mencari makan untuk anak-anaknya.
Dari gambaran itu, jamaah belajar tentang disiplin dan tanggung jawab. Dengan kata lain, keberkahan muncul ketika manusia menjalani hidup dengan pola yang teratur dan penuh kesadaran.
Akhirnya, Ramadan menjadi ajang latihan agar setiap orang tetap istiqomah setelah bulan suci berlalu. Di bantaran Ciliwung, Ramadan tidak hanya menghadirkan ibadah, tetapi juga menghadirkan makna.
Singkatnya, keberkahan lahir dari niat baik, amal yang konsisten, dan kebersamaan yang terjaga. Dari mushalla kecil di tepi sungai itu, cahaya Ramadan menyala dengan sederhana namun terasa begitu dalam.
Penulis : Sujud Margono
Editor : Yudi Purwanto












