Jakarta, beritafakta.id– Jajaran Panitia Jakarta Millennial Film Festival (JMFF) diterima audiensi oleh Doni Setiawan, Direktur Film, Animasi, dan Video Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Selasa (24/2/2026).
Dalam pertemuan itu, Pembina JMFF 2026 sekaligus Pendiri Jaya Center Foundation, Budi Mulyawan, memaparkan gagasan untuk memperkuat ekosistem film pendek nasional. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda. Selain itu, ia mengusulkan pendirian theater mini berbasis kafe, restoran, dan minimarket.
Film Pendek sebagai Fondasi Industri
Budi menegaskan bahwa film pendek memiliki posisi strategis dalam industri film. Menurutnya, film pendek berdurasi singkat, umumnya di bawah 40 menit. Ceritanya padat dan fokus.
Film pendek dapat berbentuk fiksi, dokumenter, eksperimental, maupun animasi. Selain itu, biaya produksinya biasanya lebih rendah dibandingkan film panjang.
“Film pendek adalah ruang belajar dan ruang eksperimen. Di sana sineas muda bisa menguji gagasan, gaya bertutur, sekaligus membangun karakter kreatifnya,” ujar Budi Mulyawan.
Karakteristik dan Kekuatan Cerita
Menurut Budi, durasi singkat justru menjadi kekuatan film pendek. Alur cerita harus efisien. Konflik harus langsung menyentuh inti persoalan. Sementara itu, akhir cerita sering kali dibuat terbuka atau menggugah.
Di sisi lain, perkembangan platform digital ikut memperluas distribusi film pendek. Kini, karya-karya tersebut dapat ditayangkan melalui festival, pemutaran komunitas, hingga kanal daring seperti YouTube.
“Ini membuat film pendek semakin relevan dengan pola konsumsi generasi muda yang cepat dan dinamis,” katanya.
Ruang Belajar bagi Sineas Muda
Budi menilai film pendek memberi ruang kreatif yang luas. Sineas muda dapat bereksperimen tanpa tekanan komersial besar.
“Anak-anak muda bisa mengasah kemampuan menulis skenario, menyutradarai, mengelola tata kamera, hingga penyuntingan. Film pendek menjadi portofolio penting untuk masuk ke industri yang lebih luas,” ujarnya.
Selain itu, proses produksi dengan tim kecil mendorong kolaborasi yang lebih erat. Akibatnya, dinamika kerja kreatif menjadi lebih fleksibel.
Medium Ekspresi Generasi Muda
Bagi generasi muda, film pendek adalah medium ekspresi yang dekat dengan keseharian. Tema-tema seperti persahabatan, cinta, hingga isu sosial dapat dikemas ringan namun bermakna.
Durasi singkat juga membuat film pendek mudah diakses. Sementara itu, komunitas kreatif menjadikannya ruang interaksi sosial yang produktif.
“Film pendek bukan hanya tontonan, tetapi juga ruang berekspresi dan sumber inspirasi,” tegas Budi.
Peran Festival Film
Lebih lanjut, Budi menekankan pentingnya festival film. Festival menjadi saluran utama apresiasi dan distribusi karya. Melalui forum ini, sineas dapat memperkenalkan karya kepada audiens yang lebih luas.
Dalam konteks tersebut, JMFF 2026 hadir untuk memperkuat ekosistem film pendek nasional. Festival ini melibatkan komunitas dari berbagai provinsi di Jawa dan Bali. Selain itu, acara mengusung tema Bela Negara dan Ekonomi Kreatif.
Tak hanya pemutaran film, festival juga menghadirkan workshop dan diskusi. Dengan demikian, kapasitas generasi muda dapat terus berkembang.
Potensi Ekonomi Film Pendek
Budi juga menyoroti sisi ekonomi film pendek. Ia menyebutkan sejumlah peluang monetisasi. Di antaranya penjualan hak cipta, distribusi digital berbayar, sponsorship, hingga lisensi konten.
“Kita harus mulai memandang film pendek sebagai produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai jual,” ujarnya.
Menurutnya, strategi pemasaran yang tepat dapat membuka peluang pendapatan baru. Oleh sebab itu, kualitas karya tetap menjadi kunci utama.
Film Pendek sebagai Benteng Budaya
Selain bernilai ekonomi, film pendek dinilai memiliki fungsi budaya. Medium ini dapat mengangkat warisan budaya, bahasa daerah, hingga nilai kebangsaan.
“Film pendek adalah medium yang efektif untuk memperkenalkan jati diri bangsa kepada generasi muda dan dunia internasional,” kata Budi.
Di sisi lain, film pendek juga berpotensi mempromosikan pariwisata dan memperkuat identitas nasional.
Usulan Theater Mini Berbasis Komunitas
Sebagai solusi konkret, Budi mengusulkan pendirian theater mini. Konsep ini diintegrasikan dengan kafe, restoran, atau minimarket.
Menurutnya, theater mini dapat memperluas akses tontonan, terutama di daerah tanpa bioskop besar. Selain itu, model ini membuka peluang bisnis baru.
“Theater mini bisa menjadi platform promosi film pendek,” jelasnya.
Lebih jauh, theater mini dapat berfungsi sebagai pusat komunitas. Ruang tersebut dapat dimanfaatkan untuk diskusi, pemutaran film independen, hingga kolaborasi lintas subsektor kreatif.
“Ini bukan sekadar ruang nonton, tetapi simpul baru pertumbuhan ekosistem kreatif berbasis komunitas,” ujarnya.
Pentingnya Dukungan Regulasi
Dalam audiensi itu, Budi menegaskan perlunya dukungan regulasi pemerintah. Regulasi yang jelas akan memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha. Selain itu, perizinan dapat lebih sederhana.
“Regulasi yang tepat bukan untuk membatasi, tetapi memfasilitasi inovasi,” katanya.
Ia meyakini, kebijakan yang mendukung akan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Di sisi lain, peluang kerja baru juga dapat tercipta.
Dengan ekosistem yang terintegrasi antara festival, theater mini, komunitas, dan regulasi, Budi optimistis film pendek dapat berkembang lebih pesat. Pada akhirnya, film pendek diharapkan menjadi motor penggerak perfilman nasional sekaligus penguat identitas budaya Indonesia.
Editor : Faiza Sasikirana Tsabitah




