Oleh: Dewan Redaksi
Di tengah arus besar industrialisasi biologi sel dan dominasi produk kriopreservasi, muncul sebuah pendekatan yang mengembalikan pusat gravitasi terapi pada tubuh pasien sendiri. Agus Ujianto, Sp.B., M.Si.Med., FISQua—dikenal sebagai Gus Uji—menggagas Ujianto Postulat: sebuah kerangka konseptual yang menempatkan Fresh Autologous Cell sebagai wujud kedaulatan biologis dan kedaulatan bedah.
Postulat ini tidak sekadar menawarkan teknik, tetapi menghadirkan cara pandang baru: bahwa tubuh menyimpan “apotik internal” yang siap diaktifkan kembali melalui presisi ilmiah dan tangan ahli.
1. Gudang Regenerasi: Melampaui Mitos Penuaan Sel
Pandangan umum menyebutkan bahwa sel punca menurun drastis seiring usia. Namun publikasi di Nature Communications dan Stem Cell Research & Therapy menunjukkan bahwa mesenchymal stem cells (MSCs) dalam sumsum tulang tetap mempertahankan kapasitas diferensiasi dan regenerasi.
Hal ini disebabkan oleh niche microenvironment sumsum tulang yang relatif hipoksik dan protektif terhadap stres oksidatif. Dengan kata lain, sel tidak hilang—ia terlindungi.
Di sisi lain, jurnal Plastic and Reconstructive Surgery mencatat bahwa jaringan adiposa mengandung 500–1.000 kali lebih banyak sel punca per gram dibandingkan sumsum tulang. Deposit lemak bukan sekadar cadangan energi, melainkan reservoir regeneratif berdensitas tinggi.
2. Viabilitas Sel pada Pasien Diabetes
Salah satu aspek menarik dalam postulat ini adalah keberlanjutan fungsi sel punca pada pasien diabetes. Publikasi dalam Diabetes, Metabolic Syndrome and Obesity menunjukkan bahwa sel dalam Stromal Vascular Fraction (SVF) tetap memiliki viabilitas dan potensi proliferatif meskipun terpapar insulin kronik.
Insulin, sebagai hormon anabolik, justru dapat mendukung stabilitas metabolik sel. Ini memperkuat argumentasi bahwa jaringan adiposa tetap menjadi sumber regeneratif yang valid, bahkan pada kondisi metabolik kompleks.
3. Minimal Manipulasi dan Integritas Bioelektrik
Ujianto Postulat menolak ekspansi sel jangka panjang dan kriopreservasi industri. Mengacu pada temuan dalam Stem Cells Translational Medicine, sel segar menunjukkan kemampuan engraftment dan homing yang lebih baik dibandingkan sel yang dibekukan.
Pendekatan minimal manipulasi menjaga:
Stabilitas membran sel
Integritas reseptor permukaan
Potensi parakrin
Keseimbangan bioelektrik
Secara kuantitatif:
BMAC: ±50–100 juta sel per 1 cc aspirasi
SVF: hingga ±200 juta sel dari 100 cc lipoaspirat
Angka ini menjadi dasar kalkulasi dosis berbasis berat badan dan target organ.
4. Presisi Endovaskuler dan Eliminasi “Pulmonary Trap”
Distribusi sistemik sering menghadapi fenomena pulmonary first-pass effect. Strategi intra-arterial targeting yang didukung literatur dalam Journal of Vascular and Interventional Radiology menawarkan solusi melalui injeksi langsung ke arteri organ target.
Skema dosis:
Sistemik: 1–2 × 10⁶ sel/kgBB
Spesifik ginjal: 20–40 × 10⁶ sel
Pendekatan ini meningkatkan bioavailabilitas lokal dan meminimalkan kehilangan sel di sirkulasi paru.
5. Biofisika Sel: Reaktivasi “Baterai” Biologis
Sebagai akademisi berlatar Fisika Kedokteran, Gus Uji memasukkan prinsip biofisika dalam terapi regeneratif:
Na⁺/K⁺-ATPase
Mengembalikan potensial membran dan homeostasis ionik, sehingga mengaktifkan kembali metabolisme sel.
Superoxide Dismutase (SOD)
Mengendalikan radikal bebas, menciptakan lingkungan mikro yang kondusif bagi proliferasi dan diferensiasi.
Regenerasi dalam konteks ini bukan sekadar implantasi sel, tetapi restorasi ekosistem bioenergetik jaringan.
6. Model Implementasi Klinis
Konsep ini diimplementasikan melalui kolaborasi antara RSI Sultan Agung dan Universitas Islam Sultan Agung, dengan dukungan ekosistem akademik dan laboratorium autologus berbasis minimal manipulasi.
Model ini menekankan:
Kontinuitas bedside-to-procedure
Tanpa perantara industri
Chain-of-custody autologus terjaga
Peran dokter sebagai pengelola langsung deposit biologis pasien
Penutup: Kedaulatan dalam Setiap Tetes Sel
Ujianto Postulat bukan sekadar pendekatan teknis, melainkan narasi tentang kedaulatan biologis. Ia mengembalikan pusat terapi pada tubuh pasien, dengan prinsip bahwa regenerasi optimal berasal dari deposit seluler yang masih hidup, segar, dan terintegrasi secara biofisik.
“Sel-selmu tidak menua; mereka hanya menunggu untuk dipanggil kembali.









