
SEMARANG – Terapi sel punca (stem cell) digadang-gadang sebagai masa depan dunia medis. Dari penyembuhan penyakit degeneratif hingga peremajaan tubuh, teknologi ini menjanjikan solusi yang sebelumnya dianggap mustahil. Namun di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa biaya terapi ini begitu mahal, tidak seragam, dan sering kali sulit dipahami?

Realitas di lapangan menunjukkan, banyak pasien datang dengan harapan tinggi, namun pulang dengan kebingungan—bahkan kekecewaan—karena struktur biaya yang tidak transparan.
Untuk mengurai persoalan ini, kami mewawancarai pakar bedah dan praktisi terapi regeneratif, dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa. Ia menegaskan bahwa persepsi publik selama ini kerap keliru.
“Stem cell bukan produk jadi seperti obat di apotek. Ini adalah terapi berbasis precision medicine yang sangat individual. Tidak bisa disamaratakan,” tegasnya.

Banyak pasien mengira terapi dapat langsung dilakukan. Faktanya, ada tahap awal yang justru krusial dan memakan biaya tidak sedikit: Medical Check-Up (MCU).
“Tanpa MCU, terapi ini seperti berjalan tanpa peta. Kita harus pastikan tidak ada sel kanker tersembunyi, gangguan organ, atau kondisi yang justru berbahaya jika terapi dilakukan,” jelas dr. Agus.
Pemeriksaan ini meliputi:
Biaya tahap awal ini berkisar Rp3,5 juta hingga Rp10 juta.
Belum selesai di situ, pasien juga harus menjalani fase prakondisi. Tubuh yang mengalami inflamasi atau gangguan metabolisme justru bisa “menolak” manfaat terapi.
“Kalau tanahnya rusak, benih terbaik pun tidak akan tumbuh,” ujarnya.
Biaya tambahan untuk tahap ini mencapai Rp2 juta hingga Rp5 juta.
Perbedaan paling mencolok terletak pada sumber sel:
Menggunakan sel dari tubuh sendiri, metode ini relatif lebih terjangkau.
“Ini pilihan paling logis untuk banyak kasus karena aman dan efisien,” kata dr. Agus.
Menggunakan sel donor, terapi ini jauh lebih mahal.
“Semakin berat pasien, semakin banyak sel yang dibutuhkan. Biaya bisa melonjak drastis,” ungkapnya.
Di sinilah kerap muncul persepsi “harga tidak masuk akal”, padahal secara medis memang berbasis kebutuhan biologis.
Selain sumber sel, biaya juga ditentukan oleh cara pemberian terapi:
Metode terakhir bahkan memerlukan ruang kateterisasi dan tim spesialis.
“Ini bukan sekadar suntikan biasa. Ini tindakan medis presisi tinggi,” tegas dr. Agus.
Di tingkat global, biaya terapi ini sangat bervariasi:
Namun, kondisi ini juga membuka celah komersialisasi berlebihan.
Tidak sedikit klinik yang menawarkan terapi tanpa standar jelas, bahkan menjual “paket stem cell” tanpa pemeriksaan memadai.
“Ini yang berbahaya. Terapi yang seharusnya ilmiah bisa berubah jadi komoditas,” ujar dr. Agus mengingatkan.
Secara ilmiah, terapi ini memang menjanjikan dan telah terbukti pada beberapa kondisi:
Namun, dr. Agus mengingatkan bahwa terapi ini bukan obat ajaib.
“Hasilnya sangat bergantung pada kondisi pasien, bukan sekadar jumlah sel yang disuntikkan,” tegasnya.
Terapi stem cell adalah lompatan besar dalam dunia medis, tetapi juga membawa tantangan baru: transparansi biaya dan edukasi publik.
Pasien perlu memahami bahwa:
Di sisi lain, penyedia layanan juga dituntut lebih terbuka dan bertanggung jawab.
Tanpa transparansi, harapan besar terhadap terapi ini berisiko berubah menjadi kekecewaan.
Tidak ada komentar