x

Dari Pangan Lokal ke Mesin Ekonomi Desa, IPDA Dorong Hilirisasi Pangan melalui Lumbung Karya Indonesia

waktu baca 4 menit
Jumat, 2 Okt 2026 10:05 60 redaksi

BERITAFAKTA.ID,SEMARANG –  Pangan lokal tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Ia harus diolah, dikembangkan, dan diberi nilai tambah agar mampu menjadi produk, usaha, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat desa.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Final Showcase Lumbung Karya Indonesia bertema “Inovasi Karya Pangan Lokal” yang digelar di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Kamis (1/10/2026).

Kegiatan yang merupakan kolaborasi Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA), STAPA, dan Impala ini mempertemukan 250 pelaku ekonomi pangan lokal. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi dan pengembangan, sebanyak 25 peserta berhasil menjadi finalis hingga akhirnya melahirkan lima pemenang dalam lima kategori.

[bacajuga berdasarkan="category" mulaipos="1" judul="Baca Juga:"]

Bagi IPDA, proses tersebut bukan sekadar kompetisi untuk mencari karya terbaik. Lumbung Karya Indonesia dirancang sebagai ruang untuk menemukan potensi pangan lokal, mempertemukannya dengan kreativitas anak muda, kemudian mendorongnya masuk ke proses pengembangan produk dan usaha.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menekankan pentingnya mengubah bahan lokal menjadi produk yang mempunyai nilai tambah. Menurutnya, setiap kabupaten dan kota perlu memiliki produk unggulan berbasis potensi lokal yang dapat dikembangkan bersama pelaku UMKM.

“Bahan lokal ini tidak hanya sekadar dibuat menjadi produk, tetapi harus mempunyai nilai tambah,” ujar Luthfi.

[bacajuga berdasarkan="category" mulaipos="2" judul="Baca Juga:"]

Ia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah agar UMKM dapat naik kelas. Dukungan tersebut mencakup pembinaan praktis dan teknis, akses permodalan, pemasaran, pengemasan, hingga penjualan.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan pangan lokal tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut dapat memiliki kualitas, kemasan, pasar, dan model usaha yang membuatnya mampu bertahan dan berkembang.

Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. Ir. Sugeng Santoso, M.T., QRGP., CGRE, dalam paparannya menempatkan pangan lokal sebagai bagian dari kekuatan ekonomi daerah. Pengembangan pangan membutuhkan keterhubungan antara pemerintah, dunia usaha, UMKM, inovator, pendidikan, teknologi, pendanaan, hingga pasar.

Menurutnya, inovasi harus mampu mempertemukan sisi pasokan dengan kebutuhan pasar. Pemerintah daerah juga memiliki ruang untuk memperkuat keterkaitan tersebut, termasuk melalui fasilitasi produk lokal agar dapat masuk ke pasar yang lebih luas. Dalam materi yang disampaikan, belanja pemerintah bahkan dapat menjadi salah satu stimulus untuk menyerap produk lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Wakil Sekretaris Jenderal IPDA, Muhammad Sakur, M.Sc., melihat persoalan tersebut sebagai tantangan bagaimana potensi desa dapat masuk ke rantai nilai yang lebih panjang.

“Yang perlu kita dorong bukan hanya bagaimana desa menghasilkan pangan, tetapi bagaimana pangan itu memiliki nilai tambah. Dari bahan baku menjadi produk, dari produk menjadi usaha, dan dari usaha menjadi bagian dari rantai ekonomi daerah,” ujar Sakur.

Menurutnya, hilirisasi juga harus berjalan bersama diversifikasi. Desa tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis komoditas atau menjual hasil produksi dalam bentuk mentah. Potensi yang tersedia perlu dibaca sebagai bahan untuk menciptakan berbagai produk baru sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan pasar.

“Di sinilah peran pemuda menjadi penting. Anak muda tidak hanya dibutuhkan untuk memproduksi gagasan, tetapi juga untuk membawa teknologi, membaca pasar, membangun merek, dan menghubungkan potensi lokal dengan konsumen,” katanya.

Gagasan tersebut sejalan dengan desain Lumbung Karya Indonesia yang menempatkan perjalanan pangan lokal dalam satu rangkaian: potensi pangan lokal, inovasi, peran generasi muda, pengembangan UMKM, dukungan pemerintah, hingga dampak ekonomi.

Ketua Umum IPDA, Arifin Kusuma Wardhani, menegaskan bahwa desa memiliki banyak potensi yang belum seluruhnya berkembang menjadi kekuatan ekonomi. Karena itu, pemuda perlu hadir sebagai penggerak yang mampu menghubungkan potensi tersebut dengan inovasi dan jejaring yang lebih luas.

“Desa jangan hanya menjadi tempat produksi bahan mentah. Desa harus menjadi tempat lahirnya karya, produk, dan usaha. Pemuda harus mengambil bagian dalam proses itu,” ujar Arifin.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menekankan pentingnya mengubah bahan lokal menjadi produk yang mempunyai nilai tambah. Menurutnya, setiap kabupaten dan kota perlu memiliki produk unggulan berbasis potensi lokal yang dapat dikembangkan bersama pelaku UMKM.(foto/doc)

Bagi IPDA, pengembangan pangan merupakan bagian dari agenda yang lebih besar dalam membangun desa yang memiliki kemampuan untuk mengolah potensi sendiri. Pangan lokal menjadi pintu masuk karena hampir setiap daerah memiliki sumber daya, pengetahuan, dan kearifan lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Karena itu, kolaborasi IPDA, STAPA, dan Impala dalam Lumbung Karya Indonesia diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan pemenang, tetapi juga mempertemukan pelaku ekonomi pangan lokal dengan pemerintah, komunitas, jejaring usaha, dan peluang pengembangan.

Dari 250 pelaku yang mengikuti proses, 25 finalis kemudian mendapatkan ruang untuk menunjukkan karya dan inovasinya dalam tahap akhir. Lima pemenang dalam lima kategori menjadi representasi bahwa potensi pangan lokal dapat dikembangkan melalui berbagai pendekatan dan kreativitas.

Lumbung Karya Indonesia pada akhirnya membawa satu pesan sederhana: pangan lokal tidak seharusnya berhenti di lahan dan pasar bahan mentah. Dengan inovasi, pendampingan, teknologi, akses pasar, dan kolaborasi, pangan lokal dapat bergerak menjadi produk bernilai tambah dan menjadi bagian dari kekuatan ekonomi daerah.

IPDA ingin memastikan pemuda desa berada di dalam proses tersebut, bukan hanya sebagai penonton. Dari desa, potensi ditemukan. Dari pemuda, inovasi dikembangkan. Dari UMKM, produk dijalankan. Dan melalui kolaborasi, potensi tersebut didorong menjadi kekuatan ekonomi yang lebih besar.(A13)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x