x

Di Peking University, Mentrans Iftitah Ajak Akademisi Cari Solusi Nyata Pengembangan Kawasan Transmigrasi

waktu baca 4 menit
Selasa, 13 Okt 2026 12:57 19 abdan

beritafakta.id – Usulkan riset bersama di satu atau dua kawasan untuk membuka peluang industri, investasi, dan lapangan kerja.

Beijing – Kementerian Transmigrasi mengajak Peking University, Tiongkok, menjajaki kerja sama penelitian terapan untuk membantu Indonesia mengembangkan kawasan transmigrasi menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Ajakan tersebut disampaikan dalam kuliah umum bertajuk “Industrialisation Beyond Java: Transmigration and Indonesia’s New Growth Centres” di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, Beijing, Senin (12/10/2026).

Mentrans Iftitah mengusulkan agar kerja sama dimulai dari satu atau dua kawasan transmigrasi sebagai lokasi kajian bersama. Fokusnya bukan sekadar menghasilkan penelitian akademik, tetapi mencari solusi konkret terhadap hambatan pembangunan, investasi, industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja.

“Saya ingin kita memilih satu atau dua kawasan nyata dan mengerjakannya bersama. Petakan rantai nilainya, identifikasi hambatannya, dan pelajari kesenjangan keterampilannya,” ujar Iftitah.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak kawasan dengan potensi ekonomi besar, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, hingga sumber daya mineral. Namun, kekayaan tersebut belum selalu terhubung dengan industri pengolahan, akses pasar, teknologi, dan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan.

Karena itu, penelitian bersama diharapkan dapat membantu menjawab persoalan mendasar yakni apa yang menghambat potensi daerah berkembang menjadi industri, keterampilan apa yang dibutuhkan masyarakat, teknologi apa yang paling sesuai, dan bagaimana menarik investasi yang memberikan manfaat bagi warga setempat.

Iftitah menekankan pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan semata-mata pendekatan pembangunan dari atas. Penelitian juga perlu melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha agar rekomendasi yang dihasilkan dapat diterapkan.

“Hasilnya harus berupa sesuatu yang benar-benar dapat digunakan oleh gubernur, bupati, mitra usaha, atau masyarakat setempat: gambaran yang jelas mengenai peluang, hambatan, dan peta jalan praktis tentang langkah selanjutnya,” katanya.

Bagi Iftitah, keterlibatan perguruan tinggi memiliki arti strategis karena pembangunan kawasan transmigrasi membutuhkan pendekatan lintas disiplin, mulai dari ekonomi, pertanian, teknologi, industri, infrastruktur, hingga persoalan sosial dan lingkungan. Melalui penelitian terapan, perguruan tinggi diharapkan dapat membantu menghubungkan potensi sumber daya suatu wilayah dengan kebutuhan investasi dan pengembangan industri yang sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat.

Salah satu contoh kebutuhan tersebut terdapat di Kawasan Transmigrasi Salor, Merauke, Papua Selatan. Hasil penelitian Tim Ekspedisi Patriot sebelumnya telah mengidentifikasi sejumlah persoalan yang memengaruhi produktivitas pertanian, antara lain kualitas bibit, pengendalian hama, irigasi, dan akses jalan usaha tani. Persoalan tersebut menunjukkan peningkatan produksi pertanian membutuhkan solusi yang saling terhubung, mulai dari teknologi budidaya dan infrastruktur hingga pengolahan hasil serta akses pasar.

Dalam kuliah umumnya, Iftitah turut menyinggung peluang pengembangan kerja sama Indonesia dan Tiongkok di Salor dan Wanam, Merauke, khususnya di bidang riset pertanian, teknologi, peningkatan keterampilan, dan sistem produksi pangan. Pengalaman penjajakan tersebut dapat menjadi salah satu pijakan untuk memperluas kolaborasi akademik yang berorientasi pada pemecahan masalah pembangunan di lapangan.

Menurut Iftitah, transformasi transmigrasi harus mampu mempertemukan tiga kepentingan utama, yakni pemanfaatan potensi ekonomi daerah, pertumbuhan industri dan investasi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, keberhasilan penelitian dan pengembangan kawasan tidak cukup dinilai dari jumlah kajian, publikasi, ataupun rekomendasi yang dihasilkan.

Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana hasil penelitian dapat membantu meningkatkan produktivitas, membuka pekerjaan berkualitas, meningkatkan pendapatan petani dan produsen lokal, serta memberikan kesempatan bagi UMKM untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri. Iftitah juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat sejak tahap perencanaan agar pengembangan kawasan tidak hanya menguntungkan investor, tetapi juga memberikan ruang bagi penduduk setempat untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi.

“Jika kita dapat melakukan itu bersama, kerja sama akademik menjadi lebih dari sekadar pertukaran gagasan. Kerja sama itu menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan pembangunan yang nyata,” pungkasnya.

Kementerian Transmigrasi berharap ajakan tersebut dapat menjadi awal dialog lebih lanjut dengan ISSCAD dan Peking University untuk mengidentifikasi peluang penelitian bersama yang dapat mendukung pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x