Brebes, Beritafakta.id – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX, Wahyudin Noor Aly atau yang akrab disapa Goyud, menyoroti maraknya bencana alam yang terjadi belakangan ini dan mengaitkannya dengan kerusakan lingkungan, khususnya di kawasan hutan lindung.
Menurut Goyud, bencana alam tidak terjadi tanpa sebab. Ia mencontohkan kondisi kawasan hutan di Sirampog, Kabupaten Brebes, yang pernah ia kunjungi sekitar satu tahun lalu. Dari luar, kawasan tersebut tampak masih baik, namun kondisi di dalam lereng hutan menunjukkan kerusakan serius.
“Bencana itu ada penyebabnya. Di Brebes, tepatnya di wilayah Sirampog, dari depan tampak tidak ada apa-apa. Tetapi setelah masuk ke lereng hutan lebih dalam, terjadi pembalakan secara masif untuk kepentingan tanaman pangan seperti kentang,” ujar Goyud.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut merupakan hutan lindung yang memiliki fungsi vital menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaan tanaman keras, kata dia, sangat penting untuk menahan air dan mencegah bencana hidrologi.
“Padahal jelas ini kawasan hutan lindung yang fungsinya melindungi. Tanaman keras itu berfungsi menahan air, jadi kita harus berpikir soal dampaknya,” lanjutnya.
Goyud juga mengungkapkan bahwa upaya reboisasi sebenarnya telah dilakukan, namun belum berjalan optimal karena adanya penolakan dari sebagian warga. Bahkan, tanaman yang sudah ditanam kembali disebutnya dicabut.
Ia menilai kerusakan kawasan hulu menjadi salah satu penyebab utama terjadinya banjir bandang, seperti yang pernah melanda kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal.
“Sudah dilakukan reboisasi, tetapi dicabuti oleh warga. Peristiwa banjir bandang di Guci itu penyebabnya karena hulunya sudah rusak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Goyud mengingatkan agar bencana tidak terus berulang dan menjadi ancaman rutin bagi masyarakat. Kerusakan lingkungan yang dibiarkan berlarut-larut, menurutnya, dapat menjadi bom waktu.
“Jangan sampai bencana menjadi tamu rutin kita. Kalau tidak kita benahi, ini akan menjadi bom waktu,” katanya.
Sebagai langkah ke depan, Wahyudin berharap kawasan hutan lindung tersebut dapat dialihfungsikan menjadi kawasan taman nasional agar perlindungannya lebih kuat. Ia mengaku akan menjalin komunikasi intensif dengan Kementerian Kehutanan untuk mendorong rencana tersebut.
“Saya berharap kawasan hutan lindung ini bisa dialihfungsikan menjadi taman nasional. Saya akan melakukan komunikasi intensif dengan Kementerian Kehutanan,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat melalui gerakan peduli lingkungan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.
“Gerakan peduli lingkungan harus terus bergerak sebagai bentuk mitigasi,” pungkas Goyud.
(Rusmono)






