Banjarnegara | BeritaFakta.id — Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dinilai dapat merusak kesuburan tanah dalam jangka panjang. Menyikapi persoalan tersebut, Business Council Indonesia–Rusia memperkenalkan sebuah inovasi pertanian ramah lingkungan berupa teknologi “Cairan Imun” tanaman yang diklaim mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memulihkan kondisi tanah.
Teknologi tersebut mulai diuji coba di Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, wilayah yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dari sektor pertanian, khususnya padi.
Perwakilan Business Council Indonesia–Rusia, Arry Widya Sudirman, mengatakan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk dukungan terhadap ketahanan dan kedaulatan pangan nasional, sejalan dengan kerja sama strategis antara pemerintah Indonesia dan Rusia.
“Ini adalah langkah konkret untuk mendukung petani agar beralih dari ketergantungan pupuk kimia menuju sistem pertanian berbasis bio,” ujar Arry saat kunjungan ke Purwasaba, Kamis (22/1/2026).
Bahan Alami Langka dari Siberia
Arry menjelaskan, cairan imun yang digunakan berbeda dengan pupuk organik pada umumnya. Bahan dasarnya berasal dari unsur alami yang diklaim hanya terdapat di satu wilayah dunia, yakni Siberia, Rusia, sehingga seluruh bahan baku masih diimpor langsung dari negara tersebut.
Teknologi ini tidak hanya ditujukan untuk tanaman pangan seperti padi, tetapi juga tanaman hortikultura seperti kentang dan kopi. Tim Rusia didukung oleh tiga profesor peneliti. Apabila ditemukan kendala lahan atau serangan hama, sampel tanah dan tanaman akan dikirim ke Rusia untuk dianalisis sebelum rekomendasi solusi diberikan.
Hasil Uji Coba di Purwokerto Dinilai Signifikan
Sebelum diterapkan di Banjarnegara, tim yang terdiri dari Arry Widya Sudirman, Rio Boun, serta tenaga ahli asal Rusia Mr. Giliev Illya, telah melakukan uji coba di wilayah Purwokerto selama enam bulan terakhir.
Hasilnya diklaim menunjukkan perbedaan yang signifikan. Tanaman padi yang menggunakan cairan imun tumbuh lebih subur dengan kualitas hasil panen yang lebih baik dibandingkan metode konvensional, meskipun tanpa penggunaan pupuk kimia.
“Hasilnya sangat berbeda. Pertumbuhannya lebih besar dan kualitas gabahnya sangat bagus, padahal sepenuhnya non-kimia,” kata Arry.
Kepala Desa Siapkan Lahan Demplot
Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho atau yang akrab disapa Ho Ho, menyambut baik kehadiran teknologi tersebut. Sebagai bentuk dukungan, ia menyiapkan lahan pribadi seluas kurang lebih 1,25 hektare untuk dijadikan demplot (lahan percontohan).
“Petani sudah lama bergantung pada pupuk kimia sehingga banyak lahan yang mulai rusak. Jika teknologi ini mampu menetralkan tanah dan meningkatkan hasil panen hingga sepertiga, tentu ini sangat istimewa,” ujarnya.
Saat ini, rata-rata produktivitas padi di Purwasaba berada di angka 6 ton per hektare. Dengan penerapan teknologi baru ini, diharapkan produksi dapat meningkat hingga 8 ton per hektare.
Akan Diekspansi ke Daerah Lain
Meski masih dalam tahap awal, tim Business Council Indonesia–Rusia berencana memperluas uji coba ke wilayah lain seperti Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi mulai Februari mendatang.
Arry menegaskan pihaknya lebih memilih membuktikan hasil di lapangan terlebih dahulu sebelum menjalin kerja sama formal dengan pemerintah daerah.
“Kami ingin menunjukkan hasil nyata dari demplot ini. Setelah panen terbukti, barulah kami duduk bersama pemerintah daerah untuk membahas kerja sama yang lebih luas demi kemajuan petani,” pungkasnya.
(Ahr/Bas)






