BREBES – CEO PT. Dedy Jaya Lambang Perkasa, Dr. (HC) H. Muhadi Setiabudi, kembali menggelar Silaturahim dan ramah tamah dengan puluhan wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) wilayah Kabupaten Brebes di Grand Dian Hotel Gucci, Kabupaten Tegal, pada Sabtu malam (24/1/2026).
Acara ini diselenggarakan untuk mempererat silaturahim dan komunikasi, sekaligus menjadi momentum bagi Muhadi untuk membagikan motivasi kiat hidup sukses yang berlandaskan pada pentingnya beribadah, terutama menjalankan sholat lima waktu.
Kegiatan rutin yang dirancang untuk meningkatkan keakraban ini menjadi ajang bagi Muhadi Setiabudi untuk memaparkan perjalanan bisnisnya yang dimulai dari nol hingga berhasil membangun imperium yang diakui secara nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Muhadi menegaskan bahwa keterbatasan finansial bukanlah penghalang menuju puncak prestasi.
Ia menceritakan bahwa perjalanan bisnisnya dimulai secara otodidak, hanya mengandalkan insting dan kerja keras.
Salah satu momen krusial yang selalu ia ingat adalah modal awal usahanya.
Seperti yang diketahui, kesuksesan Muhadi Setiabudi menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan finansial bukanlah penghalang menuju puncak prestasi.
“Berawal dari Kerja yang ulet dan modal uang Rp3 juta hasil menjual perhiasan sang istri, kami berhasil membangun imperium bisnis secara otodidak hingga diakui oleh negara di Istana Kepresidenan,” ungkap Muhadi.
Perjalanan tanpa sokongan finansial maupun relasi berpengaruh membuat pertumbuhan aset Muhadi Setiaudi di era 1980-an melesat cepat.
Pertumbuhan aset yang masif ini bahkan sempat memicu isu miring di tengah masyarakat setempat, termasuk diisukan menggunakan “pesugihan” karena kepemilikan tambak, sawah, hingga lima unit mobil di usia 25 tahun.
Namun, dedikasinya dalam memberdayakan ekonomi lokal membawa pengakuan bergengsi.
Pada tahun 1992, Muhadi Setiabudi dinobatkan sebagai salah satu pengusaha tersukses di Kabupaten Brebes dan terpilih sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional.
Momen puncak pengakuan tersebut terjadi saat ia diundang ke Istana Negara untuk menerima penghargaan langsung dari Presiden Soeharto.
“Saya menangis di Istana Negara. Saya tidak menyangka, anak desa yang memulai semuanya sendiri secara otodidak, bisa diundang ke Istana di zaman Orde Baru. Itu momen yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup,” pungkasnya.
Pria asal Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba ini menekankan bahwa kisah perjalanannya adalah bukti bahwa kerja keras dan iman dapat mengatasi segala keterbatasan.
Red: Jateng






