Kepemimpinan Kesehatan dalam Makna “Tambah Raharjo

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BREBES – Dalam pandangan budaya Jawa, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan laku hidup. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari kewenangan yang ia miliki, tetapi dari rasa aman, tenteram, dan manfaat yang dirasakan oleh orang-orang yang dipimpinnya. Di sinilah makna nama menjadi penting, karena nama adalah doa, dan doa adalah arah.

Nama Tambah Raharjomemuat dua kata kunci yang sarat filosofi Jawa: Tambah dan Raharjo.

Kata “Tambah” bukan sekadar bermakna bertambah secara jumlah, tetapi bertumbuh secara kualitas Dalam kepemimpinan kesehatan, “Tambah” dapat dimaknai sebagai laku untuk terus memperbaiki, meningkatkan, dan menguatkan. Bukan sekadar menambah program, melainkan menambah kebermanfaatan. Bukan memperbanyak aturan, tetapi menambah keadilan. Dalam falsafah Jawa, ini selaras dengan prinsip migunani tumraping liyan hadirnya pemimpin harus membawa guna bagi sesama.

Sementara itu, kata “Raharjo” melambangkan keadaan selamat, tenteram, dan sejahtera lahir batin. Dalam konteks kepemimpinan kesehatan, raharjo berarti masyarakat merasa aman ketika berobat, tenaga kesehatan merasa tenang ketika bekerja, dan organisasi berjalan tanpa ketakutan maupun tekanan. Kepemimpinan yang raharjo bukan yang keras dan menekan, melainkan yang meneduhkan namun tegas, menjaga martabat manusia dan etika pelayanan.

Jika disatukan, Tambah Raharjo menjadi gambaran pemimpin yang menempuh jalan tumbuh tanpa gaduh, tegas tanpa melukai, dan berwibawa tanpa menakutkan. Inilah kepemimpinan Jawa yang ideal—sepi ing pamrih, rame ing gawe. Bekerja sungguh-sungguh tanpa sibuk mencari pujian atau kepentingan pribadi.

Dalam tradisi Jawa, pemimpin juga dituntut menjalankan prinsip amanah lan adil. Jabatan bukan sarana memperkaya diri atau kelompok, melainkan titipan untuk menjaga keselamatan orang banyak. Di sektor kesehatan, amanah itu berlipat ganda, sebab menyangkut nyawa, harapan, dan masa depan masyarakat.

Lebih jauh, kepemimpinan kesehatan dalam lensa budaya Jawa harus mampu menghadirkan rasa rahayu—keselamatan yang menyeluruh. Bukan hanya bebas dari penyakit, tetapi juga bebas dari rasa takut, praktik tidak adil, dan ketimpangan layanan. Pemimpin yang rahayu adalah pemimpin yang keberadaannya dirasakan sebelum namanya disebut.

Pada akhirnya, refleksi budaya Jawa mengajarkan bahwa pemimpin sejati tidak meninggalkan kegaduhan, melainkan ketertiban; tidak menanam ketakutan, melainkan kepercayaan. Jika kepemimpinan kesehatan mampu berjalan dalam semangat Tambah Raharjo, maka yang tumbuh bukan hanya sistem, tetapi juga harapan; bukan hanya kinerja, tetapi juga kesejahteraan lahir dan batin masyarakat Brebes.

Karena dalam kearifan Jawa, pemimpin yang baik adalah yang ketika ia hadir, keadaan menjadi lebih baik; dan ketika ia pergi, kebaikannya tetap tinggal.

Red: Jateng

Berita Terkait

Jelang KOPDARNAS XI, Panitia FKPPI Tangsel Matangkan Persiapan
Tabet hingga Jendela, Karya Sineas Muda Brebes Perkuat Budaya Lokal dan Industri Kreatif Daerah
Wamendikdasmen Soroti Rendahnya APK SMA di Banjarnegara, MBS Wanayasa Disiapkan Buka Jenjang Aliyah
Geliat Baru eks Terminal Banjarnegara, Resmi di Tata Ulang Jadi Pusat Kuliner Tamkot
Publik Pertanyakan Dugaan Percaloan di Samsat Bangkalan, Kasat Lantas Tegaskan Nol Toleransi
Warga Terdampak Rob di Kelurahan Balok Dievakuasi ke Hunian Aman, Polres Kendal Turun Langsung
Warga Limbangan Sambut Positif Kehadiran PT Zhing King, Akses Jalan Dinilai Makin Baik
Tanam Pohon Sebelum Bertanding, Kapolda Jateng Cup 2026 Satukan Prestasi Digital dan Kepedulian Lingkungan
Berita ini 53 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 08:36 WIB

Jelang KOPDARNAS XI, Panitia FKPPI Tangsel Matangkan Persiapan

Minggu, 21 Juni 2026 - 20:28 WIB

Tabet hingga Jendela, Karya Sineas Muda Brebes Perkuat Budaya Lokal dan Industri Kreatif Daerah

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:48 WIB

Wamendikdasmen Soroti Rendahnya APK SMA di Banjarnegara, MBS Wanayasa Disiapkan Buka Jenjang Aliyah

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:46 WIB

Geliat Baru eks Terminal Banjarnegara, Resmi di Tata Ulang Jadi Pusat Kuliner Tamkot

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:18 WIB

Publik Pertanyakan Dugaan Percaloan di Samsat Bangkalan, Kasat Lantas Tegaskan Nol Toleransi

Berita Terbaru