Banjarnegara, beritafakta.id- Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) resmi melepas 158 mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun 2026 di Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Para mahasiswa dari 12 fakultas tersebut akan mengabdi di 15 desa selama 35 hari, mulai 7 Januari hingga 8 Februari 2026.
KKN tahun ini mengusung lima program strategis berbasis kebutuhan desa, yakni pendidikan, ekonomi kerakyatan, lingkungan, kesehatan, dan pelayanan desa. Program tersebut dirancang sebagai bentuk pendampingan sosial sekaligus implementasi keilmuan mahasiswa di tengah masyarakat.
Adapun lima program utama tersebut meliputi :
1. Pendidikan – Mendorong motivasi belajar anak-anak desa dan pendampingan kegiatan literasi.
2. Ekonomi Kerakyatan– Pendampingan pelaku UMKM, termasuk penguatan legalitas usaha dan pemasaran produk.
3.Lingkungan– Edukasi pemanfaatan lahan pekarangan melalui budidaya sayur-mayur.
4. Kesehatan– Dukungan program percepatan penanganan stunting.
5. Pelayanan Desa – Optimalisasi dan pengaktifan website desa sebagai sarana informasi publik.
Prosesi pelepasan digelar secara seremoni pada Selasa (10/2/2026) di Gedung Serba Guna Desa Gumelem Wetan. Acara tersebut dihadiri Camat Susukan, Sekretaris Dinas Baperida Kabupaten Banjarnegara, serta para kepala desa se-Kecamatan Susukan.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Unsoed, Prof. Dr. Eli Triasih Rahayu, S.S., M.Hum., menegaskan bahwa tema KKN tahun ini adalah “Merakyat dan Berdampak.”
“Merakyat bukan sekadar hadir di desa, tetapi mahasiswa mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di kampus untuk pengabdian nyata. Berdampak berarti kegiatan KKN harus menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Menurut Eli, salah satu fokus penguatan berada pada sektor ekonomi kerakyatan, khususnya produk UMKM desa. Meski waktu pelaksanaan terbatas 35 hari, mahasiswa dinilai telah membantu proses pendataan dan pendaftaran legalitas produk masyarakat.
Ia mencontohkan potensi lokal seperti gula jawa atau brown sugar yang memiliki nilai jual tinggi, namun masih membutuhkan dukungan pemasaran yang lebih luas.
“Produk seperti brown sugar memiliki potensi besar. Jika tidak dibantu dalam pemasaran, produsen hanya berhenti di tahap produksi tanpa pengembangan nilai tambah,” ujarnya.
Eli juga mendorong adanya sinergi antara pemerintah daerah dan pelaku UMKM agar produk lokal dapat terserap pasar, termasuk melalui kebijakan penggunaan produk desa di hotel, restoran, dan sektor jasa lainnya di Banjarnegara.
“Perlu langkah strategis, misalnya rekomendasi kepala daerah agar produk UMKM lokal digunakan secara luas. Ini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Baperida Kabupaten Banjarnegara, Sri Handono, menyatakan bahwa pemerintah daerah telah menjalin sinergi dengan berbagai perguruan tinggi dalam pelaksanaan KKN tematik.
“Pemerintah daerah bersinergi dalam peningkatan kesehatan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ekonomi lokal. KKN sangat membantu peningkatan kapasitas masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, mahasiswa KKN turut membantu pelaku usaha dalam pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan aspek legalitas lainnya, yang menjadi fondasi penting bagi pengembangan UMKM desa.
Kehadiran mahasiswa KKN Unsoed di Susukan diharapkan tidak hanya menjadi agenda rutin akademik, tetapi mampu meninggalkan jejak penguatan kapasitas desa secara berkelanjutan.
(Bas)






