Banjarnegara, beritafakta.id — Masyarakat Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon kembali menggelar Ritual Sadran Gede Gumelem pada 2026. Tradisi turun-temurun ini tetap hidup sebagai warisan budaya sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Warga di Kabupaten Banjarnegara menjaga ritual ini sebagai bagian dari identitas sosial, spiritual, dan budaya yang terus diwariskan lintas generasi.
Prosesi Ritual Sadran Gede Gumelem
Rangkaian acara dimulai dengan Kirab Dalan Giring yang berangkat dari halaman Masjid Agung Kyai Chasan Besari menuju Paseban. Peserta kirab berjalan khidmat sambil melantunkan kidung tradisional.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Girilangan, lokasi persemayaman Ki Ageng Giring, untuk melaksanakan ziarah. Setelah itu, peserta turun menuju makam Ki Ageng Gumelem.
Prosesi berlanjut dengan tradisi ngalap berkah Dawegan Ijo atau kelapa muda hijau. Masyarakat memperebutkan kelapa tersebut sebagai simbol harapan memperoleh keberkahan. Rangkaian ritual ditutup dengan pisowanan di Paseban yang diiringi alunan Gending Uyon-uyon.
Makna Ngalap Berkah Dawegan Ijo
Ketua Panitia Grebeg Sadran Gede Gumelem 2026, Ki Agus Winaryanto, menjelaskan filosofi tradisi tersebut.
“Pertama untuk mengingatkan kisah Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Giring saat itu Rebutan air Kelapa muda Hijau(Dawegan Ijo), di mana akhirnya Ki Ageng Giring mengembara untuk bermeditasi ke Girilangan, Kedua dari Kelapa muda(Dawegan) tumbuh pohon kelapa yang di jadikan sumber hidup warga Gumelem, ” Katanya.
Nilai Sosial, Budaya, dan Ekonomi
Anggota Komisi I DPRD Banjarnegara dari Fraksi Partai Gerindra, Martoyo, menilai tradisi ini harus tetap dijaga kesakralannya sekaligus dikembangkan secara terukur.
“Ini adalah bentuk syukur masyarakat kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan. Tradisi seperti ini harus dijaga karena selain memperkuat nilai keimanan, juga berdampak pada pergerakan ekonomi warga,” ujarnya.Senin(16/2/2026).
Ia menambahkan bahwa penguatan Sadran Gede sebagai agenda budaya daerah dapat dibahas lebih lanjut di lembaga legislatif.
“Nanti bisa didiskusikan bersama teman-teman yang ada di lembaga, khususnya karena ada komisi tersendiri. Meskipun saya di Komisi Pemerintahan, namun karena domisili saya di Susukan dan ada juga anggota DPRD lain yang berdomisili di wilayah Susukan, tentu akan ikut membantu mendorong agar wilayah Susukan semakin strategis dengan adanya ritual yang baru saja dilaksanakan,” kata Martoyo.
Menurutnya, pembahasan tersebut harus mempertimbangkan pelestarian budaya, kesiapan infrastruktur, serta keterlibatan masyarakat agar pengembangan tidak mengurangi nilai religius dan kearifan lokal.
Potensi Strategis Wilayah Susukan
Ritual Sadran Gede tidak hanya menjadi tradisi spiritual, tetapi juga memiliki potensi sosial dan ekonomi. Kegiatan ini turut menggerakkan aktivitas masyarakat di Kecamatan Susukan yang berada di wilayah barat sebagai pintu gerbang menuju Banyumas.
Dengan pelestarian yang tepat, Sadran Gede Gumelem berpeluang menjadi kekuatan budaya sekaligus penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.
(Bas)
Penulis : Baskoro
Editor : Azizah Estetika






