GROBOGAN – Krisis lingkungan di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tuntang kini mendapat jawaban baru yang menyegarkan. Tak sekadar menanam, Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) bersama Pemerintah Desa Mojohagung, Kabupaten Grobogan, meluncurkan gerakan “Desa Hijau” dengan menanam alpukat aligator sebagai benteng ekologi sekaligus mesin ekonomi baru.
Acara yang digelar pada Rabu (22/4/2026) ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah model inovasi teknologi lingkungan yang menggabungkan riset ilmiah dengan pemberdayaan warga lokal.
Pemilihan alpukat jenis aligator bukan tanpa alasan. Selain akarnya yang kuat untuk mengikat struktur tanah dan meningkatkan serapan air di daerah aliran sungai, alpukat merupakan superfood dengan nilai ekonomi tinggi.

“Kami ingin mendorong desa sebagai pusat inovasi. Penanaman ini adalah bagian dari upaya membangun sistem ekologis desa yang produktif. Masyarakat bukan lagi objek, tapi aktor utama,” ujar Ketua IPDA dalam keterangannya.
Inisiatif ini menarik perhatian banyak pihak mulai dari tingkat pusat hingga provinsi. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kemenko Bidang Pangan, hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Tengah.
Kepala DLH Provinsi Jawa Tengah mengapresiasi langkah ini sebagai tindakan preventif yang cerdas. Menurutnya, penataan vegetasi yang tepat di tingkat desa sangat krusial untuk mengurangi risiko bencana banjir dan erosi secara permanen.
Sementara itu, pihak BRIDA Jawa Tengah menekankan bahwa Desa Mojohagung bisa menjadi percontohan (role model) bagi desa lain. “Ke depan, kita dorong pemanfaatan data dan teknologi agar model desa hijau ini bisa direplikasi di daerah lain,” ungkapnya.
Wakil Sekretaris Jenderal IPDA, Muhammad Sakur, S.Sos., M.Sc., menjelaskan bahwa program ini dirancang dengan pendekatan evidence-based atau berbasis bukti ilmiah.
“Pemilihan jenis pohon hingga desain penanamannya didasarkan pada kajian konservasi tanah dan air. Kami menggandeng BRIN dan BRIDA agar langkah ini punya basis data yang kuat, sekaligus membuka peluang pembiayaan hijau (green finance) ke depannya,” jelas Sakur.
Menuju Masa Depan Berkelanjutan
Melalui kolaborasi ini, Desa Mojohagung diharapkan mampu mengubah paradigma penanganan bencana. Jika biasanya pemerintah bergerak setelah banjir terjadi (reaktif), melalui gerakan menanam alpukat ini, desa mengambil langkah pencegahan (preventif) yang sekaligus memberikan keuntungan ekonomi bagi warga.
Dengan koridor hijau yang produktif ini, Mojohagung sedang menanam bibit masa depan: desa yang tangguh bencana, mandiri secara ekonomi, dan tetap asri secara alami. (ahr)






