Oleh: dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUA
Kunci utama keberhasilan proses pemanenan (harvesting) ini adalah menjaga viabilitas sel lemak (adipocyte) serta sel punca yang berada di dalam jaringan stromal (Adipose-Derived Stem Cells/ADSCs). Hal tersebut dicapai dengan meminimalkan trauma mekanis maupun kimiawi melalui metode minimal manipulation non-enzimatis yang sederhana di laboratorium.
Di sela kesibukannya, dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUA secara aktif memberikan bimbingan kepada sejawat dokter melalui program private mentoring. Dedikasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan kompetensi praktis dokter dalam melakukan manualisasi pemanenan sel berbasis minimal manipulation yang bersifat point of care, sehingga dapat langsung diaplikasikan di ruang tindakan.
Penerapan prosedur ini dipandu melalui metodologi BiSQuAT (Biological Smart Quick Action Treatment). BiSQuAT merupakan pendekatan klinis taktis yang mengintegrasikan kecerdasan biologis sel (biological smart) dengan tindakan medis yang cepat, tepat, dan terukur (quick action treatment). Konsep ini memungkinkan isolasi komponen regeneratif seluler dilakukan secara efisien tanpa prosedur laboratorium yang rumit, sehingga sel autologus segar dapat segera diaplikasikan kembali kepada pasien dalam satu kali kunjungan (same-day procedure).
Seluruh rangkaian tindakan dilakukan dalam koridor legalitas yang berlaku, didukung oleh Surat Izin Praktik (SIP) yang aktif serta kompetensi tindakan bedah minor (minor surgery) yang melekat pada profesi dokter.
Tahapan Prosedur Harvesting dan Isolasi SVF
1. Persiapan dan Pemilihan Donor Site
Dokter memilih area donor dengan cadangan lemak yang memadai dan akses yang baik, umumnya pada abdomen bawah, panggul, atau paha bagian dalam. Selanjutnya dilakukan prosedur asepsis dan antisepsis secara ketat, kemudian area tindakan ditutup menggunakan sterile drapes. Tahap persiapan ini berlangsung sekitar 5–10 menit hingga kondisi benar-benar steril.
2. Infiltrasi Cairan Tumescent (Anestesi Lokal)
Cairan tumescent diinfiltrasikan menggunakan kanula berujung tumpul ke lapisan lemak subkutan secara merata dengan teknik fan-like. Formula yang digunakan merupakan modifikasi larutan Klein yang terdiri atas NaCl 0,9%, Lidocaine HCl sebagai anestesi lokal, dan Epinephrine sebagai vasokonstriktor untuk mengurangi perdarahan.
Setelah infiltrasi, dilakukan masa tunggu (waiting period) selama 10–15 menit agar efek vasokonstriksi bekerja optimal sehingga kontaminasi sel darah merah pada aspirat lemak dapat diminimalkan.
3. Aspirasi Lemak (Mini-Liposuction)
Insisi kecil berukuran sekitar 2–3 mm dibuat menggunakan pisau bedah nomor 11. Kanula harvesting tumpul berdiameter 2–3 mm dengan beberapa lubang lateral kemudian dihubungkan dengan Luer-lock syringe berukuran 10 atau 20 cc.
Plunger ditarik perlahan hingga menghasilkan tekanan negatif rendah, sekitar 1–2 cc ruang kosong. Kanula digerakkan maju-mundur secara lembut di lapisan subkutan untuk memanen jaringan lemak tanpa menimbulkan kerusakan sel akibat tekanan mekanis yang berlebihan.
Proses aspirasi berlangsung sekitar 15–20 menit hingga diperoleh volume lemak yang dibutuhkan, umumnya 20–50 cc.
4. Penutupan Luka Pasca-Prosedur
Setelah proses harvesting selesai, kanula dikeluarkan dan sisa cairan tumescent dikeluarkan secara manual dari luka insisi. Luka kemudian ditutup menggunakan steri-strip atau satu jahitan sederhana (interrupted suture), dilanjutkan dengan pemasangan balutan tekan (pressure dressing). Tahapan ini umumnya selesai dalam waktu sekitar lima menit.
5. Pencucian Lemak (Washing Phase)
Aspirat lemak dipindahkan ke dalam syringe steril berukuran 50 cc di ruang tindakan atau clean room. Syringe tersebut kemudian dihubungkan dengan syringe lain yang berisi NaCl 0,9% hangat (suhu kamar hingga 37°C) dengan perbandingan 1:1.
Campuran dibalik perlahan sebanyak 3–5 kali tanpa dikocok kuat agar sisa darah dan cairan tumescent larut ke dalam larutan NaCl. Selanjutnya syringe ditegakkan selama 3–5 menit hingga terjadi pemisahan berdasarkan gravitasi.
Fase cair berwarna kemerahan di bagian bawah dibuang sehingga hanya tersisa jaringan lemak bersih berwarna kuning.
6. Emulsifikasi Mekanis Manual (Mechanical Disruption)
Syringe yang berisi lemak bersih dihubungkan dengan syringe kosong menggunakan Luer-to-Luer transfer connector atau three-way stopcock.
Plunger didorong secara bergantian sebanyak 30 kali dorongan penuh (15 kali bolak-balik) dengan tekanan konstan dan ritmis. Gaya geser (shear force) yang dihasilkan akan menghancurkan adiposit matang yang berukuran besar, sementara sel punca yang lebih kecil dan fleksibel tetap bertahan.
Hasil akhirnya berupa emulsi berwarna kuning susu kemerahan (nano-fat).
7. Sentrifugasi
Emulsi lemak dimasukkan ke dalam tabung sentrifus konikal (Falcon tube) steril berukuran 50 cc. Apabila tersedia, emulsi terlebih dahulu disaring menggunakan cell strainer berukuran 100 µm untuk memisahkan sisa jaringan ikat.
Tabung kemudian disentrifugasi pada kecepatan sekitar 1.200 × g selama lima menit, atau setara dengan 2.500–3.000 rpm, bergantung pada radius rotor sentrifus yang digunakan.
8. Isolasi dan Resuspensi Pelet SVF
Setelah sentrifugasi selesai, isi tabung akan terpisah menjadi tiga lapisan:
- Lapisan atas berupa minyak bebas berwarna kuning jernih hasil lisis adiposit.
- Lapisan tengah berupa cairan saline atau sisa emulsi.
- Lapisan bawah berupa pelet seluler putih kemerahan yang merupakan Stromal Vascular Fraction (SVF) mekanis.
Lapisan minyak dan cairan tengah dibuang secara hati-hati menggunakan pipet steril atau syringe berjarum panjang tanpa mengganggu pelet di dasar tabung.
Selanjutnya ditambahkan sekitar 1–2 cc NaCl 0,9% steril ke dalam pelet tersebut, kemudian dilakukan proses resuspension dengan mengetuk perlahan dasar tabung hingga terbentuk suspensi sel yang homogen.
Suspensi SVF kemudian diambil menggunakan syringe steril 10 cc dan siap digunakan untuk aplikasi klinis autologus berbasis point of care maupun untuk analisis laboratorium lanjutan.






