Mbako Garangan Semangkung, Warisan Leluhur yang Bertahan di Lereng Pejawaran

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANJARNEGARA – Di tengah sejuknya udara pegunungan Desa Semangkung, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, tradisi mengolah tembakau secara turun-temurun masih terus hidup. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Mbako Garangan, olahan tembakau khas yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Proses pembuatan mbako garangan tidaklah sederhana. Mulai dari pelayuan daun tembakau, perajangan, pemanggangan atau penggarangan di atas tungku kayu bakar, hingga penjemuran di bawah sinar matahari, seluruh tahapan dilakukan secara tradisional dan membutuhkan ketelitian tinggi.

Salah satu pengrajin yang hingga kini masih setia menjaga tradisi tersebut adalah Siswo (84) atau yang akrab disapa Mbah Siswo. Dengan tangan yang masih cekatan, ia merajang daun tembakau seperti yang telah dilakukannya selama puluhan tahun.

“Mbako garangan di Semangkung ini sudah ada sejak lama. Dulu orang tua saya juga membuat mbako garangan. Kalau saya sendiri mulai sejak umur 15 tahun membuat mbako garangan,” ujar Mbah Siswo saat ditemui di kediamannya, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, pembuatan mbako garangan memerlukan pemahaman yang baik terhadap musim. Panen tembakau hanya dilakukan sekali dalam setahun menjelang musim kemarau sehingga petani harus cermat menentukan waktu tanam dan panen agar menghasilkan bahan baku berkualitas.

Proses pengolahan dimulai dengan pelayuan daun tembakau yang baru dipetik hingga menguning secara alami. Setelah itu, daun dirajang tipis dan seragam, lalu ditata serta dipadatkan di atas rigen, yaitu alas yang terbuat dari anyaman bambu.

Tahapan berikutnya adalah proses penggarangan. Tembakau yang telah ditata di atas rigen dipanggang langsung di atas bara kayu bakar untuk menghasilkan aroma asap yang khas sekaligus mempertahankan warna tembakau. Setelah selesai digarang, tembakau dijemur selama kurang lebih 15 hari hingga mencapai kualitas yang diinginkan.

“Proses bertahap ini menghasilkan tembakau padat berwarna hitam yang memiliki karakter rasa khas, legit, tidak ampang, dan meninggalkan sensasi manis alami,” jelas Mbah Siswo.

Selain memiliki cita rasa yang unik, mbako garangan juga bernilai ekonomi tinggi. Satu eler atau lembar mbako garangan berukuran sekitar 50 sentimeter x 30 sentimeter dengan ketebalan sekitar 2 sentimeter dapat dijual dengan harga sekitar Rp500 ribu. Dalam satu rigen biasanya dihasilkan lima eler mbako garangan yang dipasarkan tidak hanya di Banjarnegara, tetapi juga ke berbagai daerah di luar kota.

Sekretaris Desa Semangkung, Badriah, mengatakan bahwa meskipun tembakau memberikan nilai ekonomi yang cukup menjanjikan, para petani tetap menerapkan sistem tumpang sari dengan menanam berbagai jenis sayuran untuk menjaga kestabilan pendapatan sehari-hari.

Namun demikian, keberlangsungan tradisi mbako garangan kini menghadapi tantangan serius. Saat ini hanya sekitar 30 warga yang masih aktif menjadi pengrajin, dan sebagian besar di antaranya sudah berusia lanjut.

“Proses pembuatannya yang rumit dan membutuhkan perlakuan khusus membuat banyak anak muda enggan terjun menjadi pengrajin. Minat generasi muda untuk meneruskan pembuatan mbako garangan ini sangat kurang,” ungkap Badriah.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan warisan budaya yang telah bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun. Tanpa adanya regenerasi, keahlian mengolah mbako garangan yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi berisiko hilang ditelan zaman.

Padahal, di balik aroma khas asap kayu bakar dan cita rasa tembakau yang legit, mbako garangan bukan hanya komoditas ekonomi, melainkan juga simbol kearifan lokal serta identitas masyarakat Semangkung yang patut dijaga dan dilestarikan.

 

Berita Terkait

Terobosan Polda Jateng Peduli CTEV, Anak dengan Kelainan Kaki Bawaan Lahir Dapat Penanganan Gratis
Proyek APBN Rp1 Miliar di SDN 018 Lumban Pinasa Diduga Langgar Juknis, Aktivis Desak APH Turun Tangan
Bahas Persoalan Pupuk Subsidi, Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen
Sambut HUT RI ke-81, Panitia Tampilkan Konser Musik Band Kotak dan Produk Unggulan Brebes
20 Warga Adukan Dugaan Perampasan Kendaraan oleh Debt Collector ke Polres Pemalang
9 Orang Positif Pakai Narkoba, Hasil Razia Gabungan BNN Provinsi Jateng dan Kota Tegal
Sambut HUT ke-81 RI, Pemkab Brebes Gelar Nikahan Gratis 12 Pasang Dapat Modal Usaha Rp2 Juta per Pasang
Polisi Imbau Pendaki Gunung Slamet Cegah Karhutla
Berita ini 5 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:16 WIB

Terobosan Polda Jateng Peduli CTEV, Anak dengan Kelainan Kaki Bawaan Lahir Dapat Penanganan Gratis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:14 WIB

Proyek APBN Rp1 Miliar di SDN 018 Lumban Pinasa Diduga Langgar Juknis, Aktivis Desak APH Turun Tangan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:01 WIB

Bahas Persoalan Pupuk Subsidi, Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:14 WIB

Sambut HUT RI ke-81, Panitia Tampilkan Konser Musik Band Kotak dan Produk Unggulan Brebes

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:12 WIB

Mbako Garangan Semangkung, Warisan Leluhur yang Bertahan di Lereng Pejawaran

Berita Terbaru