x

Dari Kawah hingga Candi, Bapperida Banjarnegara Ajak Pelajar Kenali Warisan Geopark Dieng

waktu baca 5 menit
Senin, 26 Okt 2026 19:05 0 redaksi

BANJARNEGARA — Sebanyak 30 pelajar SMP di Kabupaten Banjarnegara diajak menjelajahi Geopark Nasional Dieng melalui kegiatan field trip edukatif, Minggu (25/10/2026). Program yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Banjarnegara ini bertujuan mengenalkan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta warisan budaya Dieng sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian lingkungan.

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi perjalanan wisata edukasi. Para siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung di sejumlah situs unggulan Dieng, mulai dari kawasan kawah vulkanik hingga kompleks candi bersejarah.

Melalui pembelajaran di lapangan, para peserta diajak memahami bagaimana proses geologi membentuk bentang alam Dieng, bagaimana ekosistem berkembang di dataran tinggi, serta mengapa kekayaan alam dan budaya kawasan tersebut perlu dijaga untuk generasi mendatang.

Dalam kegiatan tersebut, para pelajar mengunjungi empat lokasi, yakni Kawah Sikidang, Kawah Candradimuka, Telaga Dringo, dan Kompleks Candi Arjuna.

Di setiap lokasi, peserta memperoleh penjelasan dari pemandu geowisata mengenai proses terbentuknya bentang alam vulkanik Dieng, fenomena panas bumi atau geothermal, serta karakteristik ekosistem setempat.

Para siswa juga diperkenalkan dengan potensi hayati khas kawasan Dieng, seperti carica, purwaceng, dan domba Batur. Pengenalan tersebut memberikan gambaran mengenai keterkaitan antara kondisi alam, keanekaragaman hayati, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat.

Agar pembelajaran tidak berhenti pada peserta kegiatan, setiap siswa juga mendapat tugas membuat video di lokasi kunjungan. Konten tersebut diharapkan dapat dibagikan melalui media sosial sekolah masing-masing sebagai sarana edukasi publik.

Pendekatan ini sekaligus mendorong pelajar memanfaatkan literasi digital secara positif, khususnya untuk memperkenalkan potensi daerah dan menyebarluaskan pesan pelestarian lingkungan kepada masyarakat yang lebih luas.

Kepala Bidang Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Banjarnegara, Resiati Widiastuti, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pengembangan Geopark Nasional Dieng, terutama melalui pilar edukasi.

Menurut Resiati, pengembangan geopark bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Ketiganya saling berkaitan untuk menjaga kelestarian kawasan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Sebagai Badan Pengelola, kami berkewajiban melaksanakan pengembangan Geopark. Salah satu pilar yang kami dorong adalah edukasi melalui kunjungan ke situs-situs yang ada di kawasan ini,” katanya.

Ia menjelaskan, pelajar SMP menjadi salah satu sasaran kegiatan karena memiliki potensi untuk menyebarluaskan pengetahuan melalui media digital. Dengan membuat konten kreatif, siswa diharapkan tidak hanya memahami materi yang dipelajari, tetapi juga ikut memperkenalkan kekayaan Geopark Dieng kepada masyarakat.

“Harapannya, siswa-siswi bisa ikut menyosialisasikan apa yang mereka dapatkan dari kegiatan ini. Salah satu cara yang efektif adalah melalui konten media sosial. Semoga ke depan semua sekolah bisa ikut dalam kegiatan seperti ini,” ujarnya.

Menurutnya, pengenalan geopark sejak dini diharapkan dapat membangun kesadaran bahwa kawasan Dieng bukan semata-mata destinasi wisata, melainkan juga ruang pembelajaran yang menyimpan nilai penting bagi ilmu pengetahuan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.

General Manager Geopark Nasional Dieng, Sri Utami, menjelaskan bahwa kawasan geopark tersebut mencakup wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Secara keseluruhan, terdapat 23 situs geologi atau geosite di kawasan tersebut. Sebanyak 13 situs berada di Kabupaten Banjarnegara, sedangkan 10 lainnya berada di Kabupaten Wonosobo.

Sebagian situs dikembangkan sebagai daya tarik wisata, sementara lokasi lainnya memiliki fungsi penting untuk mendukung kegiatan edukasi dan pengenalan warisan geologi. Keragaman tersebut menjadi modal bagi pengembangan pariwisata berbasis pengetahuan, penelitian, dan pelestarian lingkungan.

Sri Utami menuturkan, sejak ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada Maret 2025, pengelola terus memperluas pengenalan kawasan Dieng kepada masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah program, termasuk Geopark Goes to School dan kunjungan edukatif bagi pelajar.

“Fokus kami tahun ini adalah bagaimana Geopark ini semakin dikenal publik. Salah satunya melalui program Geopark Goes to School dan kegiatan field trip. Kami juga aktif dalam jejaring Geopark Indonesia dan masuk dalam kepengurusan Geopark National Team,” katanya.

Upaya memperluas pengenalan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai nilai strategis geopark, baik dari sisi geologi maupun keanekaragaman hayati dan warisan budaya yang dimilikinya.

Bagi pengelola, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Geopark Nasional Dieng. Pengetahuan mengenai kekayaan alam dan budaya perlu ditanamkan sejak dini agar tumbuh menjadi kepedulian nyata terhadap lingkungan.

Sri Utami menegaskan, geopark tidak hanya memiliki nilai sebagai destinasi wisata, tetapi juga dapat mendukung penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

“Apa yang ada tidak hanya kita nikmati hari ini, tetapi bagaimana warisan ini bisa dinikmati sampai anak cucu kita. Melalui konservasi dan edukasi, kawasan ini dapat dimanfaatkan untuk penelitian geologi maupun bidang keilmuan lainnya, sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Pesan pelestarian tersebut mendapat sambutan positif dari peserta. Brilliant Fatimatuzzahra, salah satu siswa SMP Negeri 1 Karangkobar, mengaku senang mengikuti pembelajaran secara langsung di kawasan Geopark Nasional Dieng.

Menurutnya, pembelajaran di lapangan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan kegiatan belajar di kelas. Para siswa dapat mengamati objek secara langsung sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan.

“Belajar langsung di lapangan terasa jauh lebih seru dan menyenangkan. Kami jadi tahu bagaimana kawah terbentuk dan mengapa lingkungan Dieng harus terus kita jaga bersama,” katanya.

Melalui kegiatan field trip ini, Bapperida Banjarnegara berharap semakin banyak pelajar mengenal Geopark Nasional Dieng dan memahami pentingnya pelestarian warisan geologi, keanekaragaman hayati, serta budaya lokal.

Lebih dari sekadar kunjungan edukatif, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun generasi muda yang mengenal potensi daerahnya, peduli terhadap lingkungan, dan mampu memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan pengetahuan secara positif.

Dengan keterlibatan generasi muda, pelestarian Geopark Nasional Dieng diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola dan pemerintah, tetapi juga tumbuh sebagai kesadaran bersama demi menjaga warisan alam dan budaya bagi generasi mendatang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x