Penduduk Miskin Diklaim Menurun, Bang Azran: Tak Mencerminkan Realita

Senin, 28 Juli 2025 - 23:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

beritafakta.id – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut angka kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan sebanyak 0,2 juta orang dibandingkan dengan September 2024. Namun, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Jakarta, Achmad Azran, menilai hal tersebut tidak mencerminkan realita sesungguhnya di lapangan.

Menurut Achmad Azran, fakta yang ada di lapangan membuktikan sebaliknya.

“Bagaimana bisa kita bilang menurun jika secara ekonomi banyak masyarakat yang kesulitan. Semakin tingginya pemutusan hubungan kerja dan susahnya mencari pekerjaan adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Kalau dibilang angka kemiskinan menurun, menurut saya tidak seperti itu,” ujarnya, Minggu (27/7/2025), di Jakarta.

Senator yang akrab disapa Bang Azran itu menambahkan, yang terjadi sesungguhnya adalah potensi bertambahnya angka kemiskinan.

Tidak itu saja, Achmad Azran juga menilai standar garis kemiskinan yang ditetapkan terlalu rendah.

“Jika berdasarkan pada survei sosial ekonomi nasional (Susenas), standar garis kemiskinan itu pengeluarannya sebesar Rp 609.160 per kapita per bulan, atau sebesar Rp 20.305 per hari. Angka ini terlalu kecil menurut saya,” tuturnya.

Menurutnya, dengan angka itu masyarakat belum mampu menutupi kebutuhan mendasarnya.

“Dengan angka Rp 609.160 perbulan atau Rp 20.305 per hari, kebutuhan masyarakat itu belum terpenuhi. Bahkan untuk makan saja, itu masih kurang. Lantas bagaimana bisa angka itu dijadikan standar? Kebutuhan masyarakat lebih dari itu,” paparnya.

Senator asli Betawi itu menambahkan, pola konsumsi masyarakat telah mengalami perubahan seiring semakin mahalnya harga kebutuhan.

“Angka standar itu mungkin yang lama, harus diperbarui sesuai kondisi riil masyarakat. Karena pola konsumsi sudah berubah. Misalnya motor, masyarakat kurang mampu atau miskin pun sekarang punya motor, apakah bisa kemudian disebut mereka masyarakat mampu?” tanyanya.

Ternyata ucapan Bang Azran bukan isapan jempol. Jika mengacu pada perhitungan garis kemiskinan versi Bank Dunia atau World Bank, yang merilis laporan soal “Poverty and Inequality Platform” edisi Juni 2025, angka kemiskinan di Indonesia diprediksi mencapai 194,6 juta jiwa, atau jauh di atas data BPS.

Dalam laporan “Poverty and Inequality Platform” edisi Juni 2025, Bank Dunia telah mengganti acuan garis kemiskinan global dari paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) 2017 ke PPP 2021. Akibatnya, ambang batas garis kemiskinan di semua kategori negara meningkat.

Garis kemiskinan untuk negara berpendapatan menengah ke bawah (lower-middle income) berubah dari yang sebelumnya US$3,65 menjadi US$4,20 per hari.

Begitu juga dengan garis kemiskinan negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income) seperti Indonesia. Batasnya berubah dari US$6,85 menjadi US$8,40 per hari. Atau dengan nilai US$1 PPP setara dengan Rp5.993.

Jika memakai standar garis kemiskinan Bank Dunia, jumlah penduduk Indonesia dengan pengeluaran di bawah Rp49.244 per hari mencapai 68,2% dari total populasi yang pada 2024 sebanyak 285,1 juta orang.

Itu artinya, 194,4 juta warga Indonesia masuk dalam kategori miskin.

Sementara dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2024, jumlah penduduk miskin Indonesia disebut sekitar 24,06 juta orang atau 8,57%.

Berita Terkait

Pelatihan Keuangan KDKMP: 135 Pengurus Digenjot Kompetensi, Integritas Jadi Kunci
DPRD Banjarnegara Evaluasi APBD 2025, Ketergantungan fiskal jadi sorotan
Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Disesuaikan, Bahlil: Tergantung Minyak Dunia
Bank BJB Sabet Penghargaan BEI, Tancap Gas di Pasar Alternatif
Kredit Tumbuh 10,42 Persen, Perbankan Tetap Melaju di Tengah Tekanan Global
Kereta Api dan Konektivitas Modern Di Papua Akan Terwujud
PERPENKA Buktikan Pensiun Bukan Akhir Pengabdian
Bhayangkara Presisi Tinggal Menangkan Satu Laga Lagi Dipastikan ke Grand Final
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 13:13 WIB

Pelatihan Keuangan KDKMP: 135 Pengurus Digenjot Kompetensi, Integritas Jadi Kunci

Selasa, 21 April 2026 - 13:08 WIB

DPRD Banjarnegara Evaluasi APBD 2025, Ketergantungan fiskal jadi sorotan

Senin, 20 April 2026 - 18:03 WIB

Bank BJB Sabet Penghargaan BEI, Tancap Gas di Pasar Alternatif

Senin, 20 April 2026 - 17:54 WIB

Kredit Tumbuh 10,42 Persen, Perbankan Tetap Melaju di Tengah Tekanan Global

Senin, 20 April 2026 - 14:12 WIB

Kereta Api dan Konektivitas Modern Di Papua Akan Terwujud

Berita Terbaru