Brebes, Beritafakta.id – Sebuah video keluhan seorang pemuda asal Tonjong, Brebes, mendadak viral di media sosial. Dalam video berdurasi kurang dari satu menit itu, ia tampak kecewa setelah ditolak melamar kerja di sebuah pabrik sepatu kawasan Bulakamba, meski sudah menginap dan ikut antre sejak dini hari.
“Saya sudah nginap, ikut antre, tapi katanya lowongan cuma buat perempuan,” keluhnya, yang segera memantik ribuan komentar warganet. Banyak yang bersimpati, namun tak sedikit pula yang menyoroti persoalan lama: minimnya peluang kerja untuk laki-laki di sektor industri sepatu Brebes.
Fenomena ini bukan kejadian tunggal. Data Dinas Tenaga Kerja Brebes menunjukkan, dari 28 pabrik besar yang beroperasi di wilayah tersebut, hanya tiga yang mayoritas mempekerjakan laki-laki. Selebihnya, tenaga kerja perempuan mendominasi bagian produksi.
Sejumlah perusahaan menyebut ada tantangan yang perlu dibenahi agar tenaga kerja laki-laki lebih mudah terserap, mulai dari kedisiplinan, keterampilan teknis, hingga masalah perilaku kerja.
HRD PT Osaga Mas Utama, Ery Iwang Wahyudi, mengatakan bagian produksi seperti menjahit dan assembling memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi. “Menjahit butuh keuletan dan konsistensi. Maka yang paling cocok diisi oleh perempuan. Tapi di gudang, kami butuh tenaga yang kuat dan disiplin, biasanya diisi laki-laki,” jelasnya, Kamis (18/9/2025).
Kepala Dinperinaker Brebes, Warsito Eko Putro, menegaskan bahwa tantangan utama bukan pada jenis kelamin, melainkan keterampilan dan perilaku kerja. Program Brebes Siap Kerja pun diluncurkan untuk membekali laki-laki usia 18–35 tahun dengan pelatihan teknis, sertifikasi, dan magang industri. “Kami ingin anak-anak Brebes tidak hanya niat, tapi juga siap dengan skill dan etos kerja,” tegasnya.
Ketua Apindo Brebes, Edy Suryono, menambahkan bahwa pintu industri tetap terbuka bagi laki-laki. “Ada perusahaan yang karyawannya justru 50–60 persen laki-laki. Kuncinya adalah disiplin dan kesiapan mengikuti ritme produksi,” ujarnya.
Pemkab melalui DPMPTSP juga mendorong masuknya investasi baru serta penyesuaian jurusan SMK agar lebih sesuai kebutuhan industri lokal. “Kami dorong jurusan seperti teknologi tekstil dan produksi alas kaki agar lulusan langsung siap kerja,” kata Kepala DPMPTSP Brebes, Tety Yuliana.
Di media sosial, tagar #KerjaBrebes dan #KesempatanSetara ramai dibicarakan. Banyak warganet menyuarakan pentingnya peluang kerja setara tanpa diskriminasi gender. Sebagian lain mendukung langkah Pemkab untuk memperkuat pelatihan dan pendidikan vokasi.
Kisah viral ini kini menjadi momentum bagi pemerintah, industri, dan masyarakat untuk bersama-sama membuka jalan kerja yang lebih inklusif, sekaligus memperkuat kualitas tenaga kerja Brebes agar kompetitif di industri manufaktur.






