Perempuan Dua Kali Lebih Berisiko Kehilangan Pekerjaan Akibat AI, Studi Peringatkan Kesenjangan Teknologi Makin Melebar

Kamis, 20 November 2025 - 13:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perempuan menghadapi risiko tinggi kehilangan pekerjaan akibat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa perempuan dua kali lebih mungkin berada dalam jenis pekerjaan yang rentan digantikan oleh otomatisasi berbasis AI, dibandingkan laki-laki. Temuan ini memicu kekhawatiran bahwa perempuan bisa semakin tertinggal dalam era transformasi digital.

Menurut laporan The Independent, Rabu (19/11), studi itu menunjukkan bahwa pekerjaan yang banyak digeluti perempuan—seperti administrasi, pembukuan, kasir, dan staf kantor—termasuk kategori profesi yang paling mudah tergantikan oleh sistem otomatis.

Laporan bertajuk “AI Gender Gap” yang dirilis oleh perusahaan konsultan Credera juga menemukan bahwa perempuan 20 persen lebih kecil kemungkinannya menggunakan atau memanfaatkan perangkat AI generatif dibanding laki-laki. Kondisi ini membuat peluang mereka untuk beradaptasi dan bertahan dalam pekerjaan masa depan semakin terbatas.

Temuan tersebut juga mengungkap bahwa hanya 22 persen tenaga kerja global di sektor AI adalah perempuan, menunjukkan minimnya representasi mereka dalam industri yang semakin dominan ini.

Supermums, lembaga sosial di Inggris yang fokus mendukung perempuan masuk ke sektor teknologi, menilai hasil studi ini sebagai alarm serius. Pendiri Supermums, Heather Black, memperingatkan bahwa perempuan—khususnya para ibu—akan menjadi kelompok paling rentan terhadap perubahan tren dunia kerja akibat AI.

“Pada dasarnya, perempuan, terutama para ibu, akan menjadi pihak yang menanggung akibat dari kebangkitan AI,” ujarnya.
“AI akan tetap ada terlepas kita menggunakannya atau tidak, sehingga mempelajari bagaimana cara kerjanya dan bagaimana memanfaatkannya adalah hal yang penting.”

Beberapa pihak menilai bahwa kesenjangan kemampuan dan akses perempuan terhadap teknologi harus segera diatasi melalui pendidikan digital, pelatihan AI, dan kebijakan ketenagakerjaan yang inklusif. Tanpa langkah konkret, perempuan dikhawatirkan akan kehilangan daya saing dan ruang kerja di era digital yang kian kompetitif.

anadolu

Berita Terkait

Indonesia Masuki Tahap Technical Review OECD, Reformasi Birokrasi Dinilai Selaras Standar Global
Festival Beasiswa Merah Putih Hari Kedua Diserbu Ribuan Pejuang Beasiswa
PT Pelayaran Bahtera Adhiguna Sabet Juara 3 Annual Report Award 2024
Indonesia Tunjukkan Lompatan Reformasi Birokrasi dalam Government at a Glance 2025
HUT HBT ke-75, Wamen Viva Yoga Sebut Pionir Transmigrasi sebagai Patriot Bangsa
Dorong Energi Bersih, PLN EPI dan Mitra Kembangkan Ekosistem Biomassa Nasional
DKD Garda Prabowo Riau Bikin Posko Penggalangan Bantuan Kemanusiaan Korban Banjir
GeoDipa berikan Penghargaan Kepada Sekolah dan Lembaga Pendidikan yang Aktif Mengedukasi Program Pengembangan Panas Bumi
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Desember 2025 - 13:46 WIB

Indonesia Masuki Tahap Technical Review OECD, Reformasi Birokrasi Dinilai Selaras Standar Global

Jumat, 12 Desember 2025 - 13:39 WIB

Festival Beasiswa Merah Putih Hari Kedua Diserbu Ribuan Pejuang Beasiswa

Jumat, 12 Desember 2025 - 13:36 WIB

PT Pelayaran Bahtera Adhiguna Sabet Juara 3 Annual Report Award 2024

Jumat, 12 Desember 2025 - 13:30 WIB

Indonesia Tunjukkan Lompatan Reformasi Birokrasi dalam Government at a Glance 2025

Jumat, 12 Desember 2025 - 13:27 WIB

HUT HBT ke-75, Wamen Viva Yoga Sebut Pionir Transmigrasi sebagai Patriot Bangsa

Berita Terbaru

daerah

Satma AMPI Madina Soroti Dugaan Aktivitas PETI di Rantobi

Sabtu, 13 Des 2025 - 18:50 WIB