​Manunggalnya Sains dan Ayatullah: Transformasi Seluler Autologus yang Halalan Thoyyiban di RSI Sultan Agung

Kamis, 19 Februari 2026 - 22:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: dr. H. Agus Ujianto, M.Si. Med., Sp.B., FISQua
Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang & Ketua Dewan Pembina Yayasan Bumi Sehat

Era Kedokteran Regeneratif Berbasis Tubuh Sendiri

Dunia medis terus bergerak menuju pengobatan presisi (precision medicine), yaitu pendekatan terapi yang menyesuaikan penanganan dengan kondisi biologis setiap individu. Pendekatan ini memanfaatkan kemampuan alami tubuh untuk memperbaiki dirinya sendiri melalui mekanisme autologus.

Konsep tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Tin ayat 4: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Kesempurnaan ini tidak hanya tampak secara fisik, tetapi juga pada tingkat biomolekuler, di mana tubuh memiliki sistem cerdas untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Terapi sel autologus menjadi salah satu wujud nyata dari kemampuan tersebut. Metode ini memanfaatkan komponen biologis milik pasien sendiri untuk membantu proses pemulihan jaringan secara alami, sehingga bersifat halalan thoyyiban.

Teknologi “Autologus Cocktail Sel” Jadi Sorotan Dunia Medis

Berbagai pusat riset global kini mengembangkan terapi berbasis Autologus Cocktail Sel, yaitu kombinasi PRP, Buffy Coat, Secretome, dan Eksosom. Sejumlah publikasi ilmiah internasional mencatat manfaat metode ini melalui berbagai teknik aplikasi:

  • Infus intravena membantu menekan reaksi inflamasi berat.

  • Aplikasi intra-thecal memberikan harapan baru bagi pasien gangguan saraf karena mampu menembus sawar darah otak.

  • Injeksi intra-organ dan intra-lesi merangsang regenerasi jaringan secara presisi.

Teknologi ini menunjukkan bagaimana terapi seluler mampu memperbaiki fungsi biologis tubuh secara langsung pada sumber kerusakan.

Implementasi Kedokteran Masa Depan di Semarang

RSI Sultan Agung Semarang bersama FK Unissula menghadirkan inovasi kedokteran regeneratif berbasis terapi sel autologus di Indonesia. Para klinisi dan ilmuwan yang terlibat merupakan lulusan berbagai universitas ternama dunia yang membawa teknologi mutakhir untuk mengembangkan layanan kesehatan berbasis nilai Islam.

Semangat pengembangan ini meneladani tradisi ilmiah tokoh besar dunia Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Razi, yang memadukan sains dengan nilai tauhid dalam praktik kedokteran.

Cara Kerja Terapi Sel Autologus Presisi

Tim medis memproses darah pasien di laboratorium riset berstandar tinggi untuk menghasilkan konsentrat kaya faktor pertumbuhan. Proses ini menghasilkan secretome yang mengandung eksosom—partikel biomolekuler yang berfungsi sebagai kurir komunikasi antar-sel.

Eksosom membantu memulihkan komunikasi sel yang terganggu akibat penyakit kronis. Mekanisme ini mengaktifkan kembali sel yang mengalami penuaan (senescence) dan merangsang regenerasi jaringan. Proses pemulihan ini semakin optimal ketika pasien menjalani gaya hidup sehat, termasuk pengendalian inflamasi tubuh.

Prosedur Terapi dengan Standar Global

Sebagai pusat layanan kesehatan syariah, rumah sakit menerapkan protokol terapi autologus presisi melalui tahapan berikut:

  1. Konsultasi multidisiplin untuk menentukan metode terapi paling tepat.

  2. Pengambilan dan pemrosesan sel berteknologi tinggi di laboratorium steril.

  3. Aplikasi terapi presisi langsung pada organ atau jaringan yang mengalami kerusakan.

  4. Monitoring dan edukasi holistik untuk memastikan efektivitas terapi.

Komitmen Mengembangkan Kedokteran Regeneratif Syariah

Pengembangan terapi autologus menjadi bagian dari ijtihad medis modern di Indonesia. Inovasi ini tidak hanya mengadopsi teknologi mutakhir, tetapi juga memadukannya dengan prinsip kesehatan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

RSI Sultan Agung dan FK Unissula menegaskan komitmennya untuk menjadi pusat pengembangan kedokteran regeneratif berbasis nilai spiritual. Pendekatan ini menempatkan sains sebagai sarana ikhtiar, sekaligus bentuk penghambaan kepada Sang Khalik.

Penulis : dr. H. Agus Ujianto, M.Si. Med., Sp.B., FISQua

Editor : Azizah Estetika

Berita Terkait

191 Ribu Tiket KA Mudik Lebaran di Daop 6 Yogyakarta Terjual.
Kapolres Kendal Ajak BEM dan OKP Perkuat Sinergi Jaga Kondusivitas Daerah
Demi Keselamatan 532 Jiwa, Pemprov Jateng Siapkan Relokasi Warga Terdampak Tanah Gerak Sirampog
Sambut Ramadhan 1447 H, Rutan Batam Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Aksi Bersih Masjid
Surya Yudha Park Resmikan Fasilitas Neon Padel Pertama di Banjarnegara.
Dari Mabes TNI, Banjarnegara Siap Kelola Bebas Sampah.
Mabes Polri Didesak Panggil dan Periksa Kades Singengu Julu karena terindikasi Main PETI sampai sekarang.
Hari Kesadaran Nasional 2026, Polres Kendal Kukuhkan Promosi dan Mutasi Jabatan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 19 Februari 2026 - 22:18 WIB

​Manunggalnya Sains dan Ayatullah: Transformasi Seluler Autologus yang Halalan Thoyyiban di RSI Sultan Agung

Kamis, 19 Februari 2026 - 20:03 WIB

191 Ribu Tiket KA Mudik Lebaran di Daop 6 Yogyakarta Terjual.

Kamis, 19 Februari 2026 - 19:32 WIB

Kapolres Kendal Ajak BEM dan OKP Perkuat Sinergi Jaga Kondusivitas Daerah

Kamis, 19 Februari 2026 - 12:28 WIB

Demi Keselamatan 532 Jiwa, Pemprov Jateng Siapkan Relokasi Warga Terdampak Tanah Gerak Sirampog

Kamis, 19 Februari 2026 - 10:30 WIB

Surya Yudha Park Resmikan Fasilitas Neon Padel Pertama di Banjarnegara.

Berita Terbaru