Jakarta, beritafakta.id– Amerika punya Seattle Sound, Inggris punya Britpop. Sementara itu, Indonesia punya satu kampus yang diam-diam melahirkan band-band ikonik: Institut Kesenian Jakarta, alias IKJ.
Berlokasi di jantung ibu kota, kampus ini bukan sekadar tempat kuliah; melainkan semacam “toko musisi” tempat lahirnya mereka yang berani tampil beda. Tak heran, dari ruang-ruang kelasnya mengalir eksperimen yang kemudian mengguncang panggung nasional.
Kampus Seni Tertua di Indonesia Melahirkan Legenda
Dari sanalah, kampus yang tenar dengan julukan “School of Rock” itu melahirkan musik-musik nyentrik yang ikut mewarnai industri musik Indonesia. Bahkan, sebagian di antaranya tumbuh menjadi identitas generasi.
Pertama, The Upstairs. Bayangkan anak punk nyangkut di diskotek tahun 80-an, berdansa di bawah lampu strobo yang temaram. Di tengah dominasi pop rock dan grunge saat itu, mereka justru datang membawa warna cerah, celana ketat, dan gaya disko nyeleneh.
Alih-alih mengikuti arus, mereka menciptakan arus sendiri. Akibatnya, lagu-lagu mereka terasa seperti pesta di planet Mars, liar namun terkonsep.
Kemudian, The Adams. Mereka ini semacam wizard-nya Indonesia. Distorsinya tebal, namun liriknya jujur dan tegas. Lagu seperti “Konservatif” dan “OB” menjelma jadi anthem anak muda urban yang sedang mencari jati diri.
Tak hanya itu, setiap intro yang mereka racik terasa seperti aba-aba untuk bersuara lebih lantang. Begitu intro “Konservatif” terdengar, refleks ikut bernyanyi pun sulit dibendung.
Selanjutnya, Rumah Sakit. Ini bukan sekadar band, melainkan suasana. Liriknya puitis, musiknya tenang, tetapi diam-diam menghantam perasaan. Sekilas, rasanya seperti mendengar The Cure versi Indonesia.
Sementara itu, kalimat seperti “Kutunggu kuningmu di setiap waktuku” membuktikan bahwa mereka piawai meromantisasi hal sederhana. Dengan begitu, matahari pun bisa terdengar sendu.
Lalu, Naif. Band ini seakan mengajak pendengarnya mundur ke era sebelum internet. Gaya retro mereka terasa konsisten, sementara liriknya sederhana namun selalu mengena. Dengarkan “Piknik ’72”; seketika, perjalanan naik motor terasa seperti touring Vespa di tahun 70-an.
Di sisi lain, David Bayu dan kawan-kawan tetap relevan di tengah zaman digital. Artinya, nostalgia bisa hidup berdampingan dengan modernitas.
Terakhir, White Shoes and the Couples Company. Jika musik punya aroma, maka karya mereka wangi bedak nenek dan parfum toko kain. Lagu-lagunya terdengar seperti surat cinta dari masa lalu yang lembut dan elegan.
Selain itu, karakter vokal Sari menghadirkan kesejukan yang khas. Meski terdengar familiar, justru di situlah kekuatannya. Dengan kata lain, rasa rindu menjadi bahan bakar utama yang membuat pendengar terus kembali.
Pada akhirnya, IKJ bukan cuma kampus seni. Sebaliknya, ia adalah semesta kecil yang konsisten melahirkan warna, karakter, dan keberanian dalam bermusik. Karena itu, ketika berbicara tentang peta musik Indonesia, nama kampus ini sulit untuk diabaikan.
Penulis : Yudi Purwanto
Editor : Azizah Estetika












