Jakarta, 23 Agustus 1996 – Arsip ini membawa pembaca kembali ke era 1990-an. Saat itu, pemerintah bergerak cepat untuk mengatasi kemacetan Jakarta–Bekasi. Harian Kompas edisi 24 Agustus 1996 menurunkan laporan berjudul “Jalan Tol Kalimalang Mulai Dibangun”.
Pada 23 Agustus 1996, Menteri Pekerjaan Umum Radinal Moochtar memimpin pemancangan tiang pertama. Momentum itu menandai dimulainya proyek tol layang sepanjang 21,5 kilometer. Pemerintah merancang jalur ini sejajar dengan Saluran Induk Tarum Barat atau Kalimalang. Nilai investasinya mencapai Rp 1,5 triliun.
Radinal menegaskan, kemacetan antara Bekasi–Jakarta, baik di jalan tol maupun non tol, harus segera diatasi. Karena itu, pemerintah memutuskan membangun jalan tol baru untuk mendukung mobilitas warga.
Lonjakan Komuter Picu Proyek
Pada pertengahan 1990-an, arus kendaraan Jakarta–Bekasi mencapai sekitar 300.000 unit per hari. Selain itu, kawasan industri dan permukiman di Bekasi tumbuh pesat. Akibatnya, volume kendaraan meningkat tajam setiap tahun.
Saat itu, warga hanya mengandalkan tiga jalur utama. Pertama, Tol Jakarta–Bekasi. Kedua, jalur arteri via Pulogadung. Ketiga, jalur alternatif Kalimalang. Namun, ketiga jalur tersebut tidak mampu menampung lonjakan kendaraan. Karena itu, pemerintah mendorong pembangunan tol layang Kalimalang sebagai solusi jangka panjang.
Skema BOT dan Keterlibatan Swasta
Pemerintah menggandeng konsorsium PT Kresna Kusuma Dyandra Marga untuk menggarap proyek ini. Mereka menargetkan penyelesaian konstruksi dalam empat tahun, atau selesai pada 2000. Selain itu, pemerintah menerapkan skema BOT (Build, Operation, Transfer) dengan masa konsesi 32 tahun.
Djoko Ramiadji, Presiden Direktur PT Kresna Kusuma Dyandra Marga, menjelaskan komposisi konsorsium. Anggotanya meliputi PT Jasa Marga, PT Investa Kusuma Artha dari kelompok usaha milik Mooryati Soedibyo, serta PT Kresna Tara yang terafiliasi dengan Bambang Trihatmodjo dan Bambang Ryadi Soegomo. Selain itu, PT Dyandra Pancagraha dan PT Delta Romindo Internasional turut bergabung.
Krisis Menghentikan Ambisi
Namun, krisis ekonomi 1997–1998 mengubah segalanya. Nilai rupiah anjlok dan banyak proyek besar terhenti. Akibatnya, pembangunan Jalan Tol Kalimalang tidak berjalan sesuai rencana. Proyek ini pun terbengkalai selama bertahun-tahun.
Kini, arsip ini menjadi catatan sejarah penting. Berita ini menunjukkan bahwa upaya mengurai kemacetan Jakarta–Bekasi sudah dirancang sejak lama. Selain itu, kisah ini menggambarkan optimisme pembangunan era 1990-an. Namun pada akhirnya, krisis ekonomi memaksa pemerintah menghentikan langkah ambisius tersebut.
Penulis : Yudi Purwanto
Editor : Faiza Sasikirana Tsabitah Muntaz












