Brebes, Beritafakta.id – Berkomitmen untuk memberikan pelayanan prima bagi masyarakat sekitar 96.000 jiwa di Kecamatan Songgom, Puskesmas Jatirokeh terus menggali ide dan mengembangkan berbagai inovasi. Serangkaian upaya ini difokuskan pada peningkatan kualitas layanan kesehatan publik hingga ke tingkat desa, dengan tahapan yang jelas untuk memastikan efektivitasnya.
Hal itu disampaikan oleh Kepala UOBF Puskesmas Jatirokeh, Cipto Sudrajat S.Kep.,Ners.,MKM, kepada awak media, pada Senin (09/03/2026).
Menurut Cipto, rencana inovasi dibagi menjadi dua tahap utama. Dalam enam bulan pertama kepemimpinannya, fokus diberikan pada perbaikan layanan di dalam gedung. Setelahnya, akan diperluas ke program layanan luar gedung yang mengarah pada penanganan dan pencegahan penyakit menular.
“Kita memang mengutamakan untuk enam bulan pertama fokus pada inovasi layanan di dalam gedung terlebih dahulu. Setelah itu, kita akan kembangkan beberapa inovasi luar gedung, terutama untuk penanganan penyakit menular seperti TB, paru, kusta, serta pencegahan penyakit seperti demam berdarah dan chikungunya yang menjadi perhatian khusus mengingat wilayah kami termasuk daerah dataran rendah,” jelasnya.
Beberapa inovasi yang telah diimplementasikan menunjukkan hasil positif, antara lain perbaikan layanan rawat inap dengan kapasitas tempat tidur mencapai hampir 90% terisi setiap hari. Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan apotek juga mendapatkan perhatian khusus, salah satunya dengan penambahan tenaga satpam dan customer service yang bertugas mengarahkan pasien secara tepat, sehingga mengurangi kebingungan dan mempercepat proses pelayanan.
Terobosan penting lainnya yang mulai diterapkan sejak Januari adalah implementasi sistem Puskesmas murni tanpa kertas (paperless), yang kini telah berjalan penuh. “Alhamdulillah, hingga saat ini sistem paperless beroperasi dengan baik. Ini menjadi salah satu fokus utama kami di awal enam bulan pertama, dan mudah-mudahan bisa terus berlanjut serta meningkatkan kualitas pelayanan,” tambahnya.
Untuk memastikan konsistensi, seluruh karyawan yang terlibat dalam pelayanan mendapatkan pembinaan secara berkala. “Setiap awal dan akhir bulan, kami mengumpulkan seluruh tim untuk memberikan arahan dan ilmu pengetahuan terkait cara melayani masyarakat dengan jauh lebih baik, sehingga setiap tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang sama tentang standar pelayanan,” jelas Cipto.
Namun demikian, Puskesmas Jatirokeh menghadapi kendala utama terkait sarana transportasi darurat. Seluruh armada ambulans yang dimiliki sudah berusia di atas 10 tahun, bahkan salah satu unit sudah sekitar 14 tahun.
“Kendala yang paling dirasakan adalah kebutuhan akan ambulans yang layak pakai. Saat ini, armada yang kami miliki sudah kurang standar dan tidak dapat diandalkan secara maksimal. Hal ini menjadi tantangan karena banyak pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit sesuai dengan kebutuhan medis, dengan tarif fasilitas kesehatan tingkat pertama sebesar Rp50.000,” paparnya.
Pihaknya berharap bantuan dapat segera direspon Pemkab Brebes dan Dinas terkait untuk memperbarui armada ambulans, sehingga pelayanan kesehatan bisa lebih optimal dan menjamin keselamatan pasien selama proses rujukan.
Tanggapan positif juga datang dari masyarakat. Janatun (23), ibu muda yang baru saja menjalani persalinan, mengaku puas dan terkesan dengan keramahan petugas. “Dari awal daftar sampai masuk ruang perawatan, semua petugasnya sangat membantu. Mereka memperlakukan kami seperti keluarga sendiri, sehingga saya merasa tenang saat melahirkan,” ujarnya dengan wajah sumringah.
Senada dengan itu, Rusmanto (45) warga Songgom, orang tua pasien anak yang sedang rawat inap, menyampaikan apresiasinya. “Yang membuat saya salut adalah kedisiplinan dan tanggung jawab petugasnya. Pemeriksaan dilakukan secara berkala dan penjelasan dokter sangat jelas. Bahkan dari awal masuk tanpa ditanya administrasi, langsung ditangani,” ungkapnya.
Penulis : Rusmono
Editor : azizah estetika






