Jakarta, 22 Maret 2026 – Program Hutan Lestari yang digagas Pertamina tak hanya berfokus pada pemulihan lingkungan, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah.
Di lereng Gunung Agung, tepatnya di kawasan Hutan Mahawana Basuki Besakih, suara lonceng dari Pura Kancing Gumi menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Bagi masyarakat setempat, doa tidak cukup—harus diiringi dengan aksi nyata menjaga lingkungan.
Berlandaskan filosofi Tri Hita Karana, program Hutan Lestari hadir sebagai inisiatif reforestasi pasca-erupsi Gunung Agung 2017. Kini, kawasan yang sempat terdampak tersebut tidak hanya kembali hijau, tetapi juga menjadi sumber ekonomi baru bagi warga.
Salah satu penggeraknya, I Nyoman Artana, menegaskan pentingnya menjaga kawasan Besakih sebagai hulu Pulau Bali. Menurutnya, kelestarian lingkungan di wilayah ini sangat menentukan keseimbangan ekosistem dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Upaya tersebut membuahkan hasil nyata. Kelompok binaan mampu memproduksi 100–150 kilogram madu per tahun dengan nilai jual tinggi. Selain itu, potensi wisata alam berkembang pesat, dengan pendapatan kelompok mencapai sekitar Rp120 juta per bulan serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Semangat serupa juga tumbuh di Ulubelu. Wastoyo, yang dahulu menggantungkan hidup dari aktivitas perburuan dan penebangan, kini bertransformasi menjadi pelestari hutan.
Melalui program Sekolah Hutan Lestari, masyarakat yang tergabung dalam KUPS Margo Rukun mendapatkan pendampingan untuk beralih menjadi pembudidaya. Mereka menanam puluhan ribu pohon Multi-Purpose Tree Species (MPTS) sekaligus mengolah limbah kopi menjadi pupuk bernilai ekonomi.
Hasilnya signifikan. Kelompok ini kini mencatat omzet hingga Rp2,2 miliar per tahun, bahkan menjadi rujukan bagi berbagai perusahaan dalam program rehabilitasi lahan.
Sementara itu, di pesisir Cilacap, upaya pelestarian mangrove yang digagas Wahyono juga menunjukkan hasil menggembirakan. Kawasan yang sebelumnya gundul kini berubah menjadi pusat eduwisata berbasis lingkungan.
Melalui pembibitan mandiri, Wahyono mampu memproduksi hingga 800 ribu bibit mangrove per tahun. Transformasi ini tidak hanya memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa berbagai kisah tersebut merupakan bukti nyata komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan kedaulatan pangan nasional.
Hingga saat ini, program Hutan Lestari telah menanam lebih dari delapan juta pohon produktif dan mangrove, serta memberdayakan masyarakat melalui integrasi reforestasi, edukasi, dan penguatan ekonomi lokal.
Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pengentasan kelaparan, konsumsi berkelanjutan, dan aksi terhadap perubahan iklim, sekaligus sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).






