Berita Fakta- bank bjb terus menekan pedal gas dalam mendukung sektor perumahan. Kali ini, langkah itu terlihat jelas dalam Peluncuran Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) 2026 di Jawa Barat yang digelar di SMAN 1 Katapang, Kabupaten Bandung, Kamis (13/4/2026).
Tak sekadar seremoni, acara ini juga menghadirkan kolaborasi program pembiayaan perumahan dan pemberdayaan ekonomi rakyat antara Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan bank bjb. Ibarat dapur besar, semua “koki” berkumpul untuk meracik solusi hunian layak bagi masyarakat.
Selanjutnya, kegiatan ini menegaskan sinergi antara perbankan dan pemerintah dalam mendorong program perumahan nasional. Fokusnya jelas: meningkatkan kualitas rumah masyarakat berpenghasilan rendah sekaligus membuka akses hunian yang layak dan terjangkau.
Program BSPS menjadi ujung tombak dalam upaya ini. Program ini mendorong masyarakat memperbaiki Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) agar menjadi lebih aman, sehat, dan manusiawi. Dengan kata lain, program ini tidak sekadar membangun rumah, tapi juga mengangkat martabat penghuninya.
Bangun Ekosistem Pembiayaan yang Inklusif
Di sisi lain, forum ini juga mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan—mulai dari perbankan, pemerintah, hingga asosiasi pengembang. Mereka duduk bersama untuk membangun ekosistem pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan.
bank bjb pun tampil aktif dalam forum ini. Bank ini tidak hanya mendukung BSPS, tetapi juga mendorong pembiayaan melalui Kredit Pemilikan Properti (KPP). Strategi ini seperti menyiapkan dua kaki: satu untuk memperbaiki rumah, satu lagi untuk membuka peluang kepemilikan baru.
Lebih jauh, bantuan stimulan ini memantik semangat gotong royong warga. Efek dominonya terasa hingga ke ekonomi lokal—tenaga kerja terserap, toko bangunan bergerak, dan roda ekonomi berputar lebih kencang.
Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, mulai dari Menteri PKP Maruarar Sirait, Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, hingga Bupati Bandung Dadang Supriatna.
Selain itu, hadir pula Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman dan jajaran direksi bank bjb, termasuk Ayi Subarna dan Nunung Suhartini. Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho juga ikut meramaikan forum bersama sekitar 150 pelaku usaha, mulai dari developer, toko bangunan, hingga pelaku UMKM.
Dorong UMKM Naik Kelas
Dalam sambutannya, Menteri PKP Maruarar Sirait menegaskan bahwa program pembiayaan perumahan tidak hanya fokus pada hunian.
“Penyelenggaraan KPP tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembiayaan perumahan, tetapi juga dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat serta memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar dapat naik kelas.”
Tak berhenti di situ, ia juga memberikan apresiasi kepada bank bjb atas komitmennya dalam mendukung peluncuran BSPS 2026 dan pembiayaan perumahan melalui KPP.
Di balik angka dan program, ada cerita nyata dari pelaku usaha. Salah satunya datang dari Alan, pengusaha toko bahan bangunan di Soreang.
“Alhamdulillah, proses permohonan kredit ke bank bjb cepat serta komunikasi dalam kelengkapan berkas enak dan komunikatif”.
Cerita serupa datang dari Fitriah, pelaku usaha di bidang yang sama.
“Alhamdulillah, saya diajak ke acara yg dihadiri oleh Bapak Menteri PKP dan Gubernur Jabar, saya sedang proses pengajuan KPP Rp1miliar yang. Sebelumnya, orang tua saya merupakan nasabah bank bjb dengan usaha kontrakan yang dibiayai kredit dari bank bjb hingga saat ini sudah memiliki 14 kamar. Hatur nuhun bank bjb,” katanya.
Cerita mereka seperti cermin kecil dari dampak besar, ketika akses pembiayaan terbuka, peluang pun ikut melebar.
Edukasi Keuangan dan Peran SLIK OJK
Tak hanya bicara pembiayaan, bank bjb juga mengedukasi masyarakat soal pentingnya Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Edukasi ini menjadi bekal penting agar masyarakat bisa menjaga kesehatan finansialnya.
Perwakilan bank bjb, Taufik I Maulana, menjelaskan bahwa SLIK membantu membangun transparansi data, meminimalkan risiko kredit, dan memperluas peluang pembiayaan. Ia juga mengingatkan peserta untuk menjaga kolektibilitas kredit dan rutin memantau riwayat pembayaran.
Lebih lanjut, bank bjb juga memperkenalkan program PESAT (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Terpadu). Program ini menjadi “mesin penggerak” yang telah berjalan sejak 2015 untuk meningkatkan kapasitas usaha masyarakat.
Kontribusi nyata bank bjb terlihat dari pembentukan pipeline pembiayaan sebanyak 118 nasabah dengan total plafon Rp52 miliar. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi sinyal kuat bahwa kepercayaan masyarakat terhadap bank bjb terus tumbuh.
Selain itu, bank bjb membuka booth layanan, menggelar talkshow, dan menyediakan meja konsultasi langsung. Peserta pun bisa menggali informasi dan mengakses layanan keuangan tanpa sekat—seolah bank datang langsung ke ruang tamu mereka.
Komitmen Berkelanjutan untuk Ekonomi Daerah
Pada akhirnya, forum ini tidak hanya menjadi ajang pembiayaan, tetapi juga ruang dialog dan kolaborasi. bank bjb menunjukkan komitmennya untuk terus mendukung program perumahan pemerintah melalui perluasan pembiayaan, peningkatan layanan, dan sinergi dengan berbagai pihak.
Bank ini optimistis dapat mendorong kesejahteraan masyarakat, memperluas akses hunian, dan memperkuat sektor riil secara berkelanjutan. Seperti mesin yang terus dipanaskan, bank bjb tampaknya belum ingin mengendurkan langkahnya.
Sebagai informasi, bank bjb telah mengantongi izin dan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta menjadi peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Untuk informasi lebih lanjut mengenai bjb KUR, masyarakat dapat mengunjungi kantor cabang bank bjb terdekat atau menghubungi bjb Call 14049 serta mengakses website resmi bank bjb.






