BREBES, Beritafakta.id – Seorang anak pelajar SD di Desa Kubangjati, Kecamatan Ketanggungan menjadi korban bully oleh teman-teman satu kelasnya. Selain luka memar, korban juga mengalami trauma.
Perundungan ini terjadi pada Jumat (10/4) lalu. Seorang anak inisial A kelas 6 SDN Kubangjati 3 dihajar oleh 6 rekannya di dalam kelas. Aksi kekerasan ini menyebabkan A menderita luka dan trauma. Korban pun sempat tidak masuk sekolah beberapa hari karena demam pasca perundungan.
Kepala SDN Kubangjati 3, Azzi Machwati ditemui di kantornya, membenarkan kejadian tersebut. Dijelaskan, siswa A dibully oleh rekan sekelasnya saat kelas dalam keadaan kosong. Pelakunya adalah D, siswa pindahan asal Jakarta sejak kelas 4.
‘Jadi D ini memaksa rekan-rekannya sebanyak 5 orang untuk membully A di dalam kelas. Setelah guru keluar, D menutup pintu kelas dan membully korban,” jelas Azzi, Kamis (17/4).
Dalam kejadian itu, D ini memaksa 5 rekan lain supaya ikut bully. Rekan-rekan ini dipaksa ikut, karena jika tidak mau akan dipukul.
“Jadi mereka juga diancam, kalau tidak mau akan dipukul,” lanjutnya.
Menurut Azzi, kejadian yang menimpa A pada Jumat pekan lalu bukan yang pertama. Sebelumnya, D juga melakukan hal sama terhadap A.
“Memang ini bukan yang pertama, saya sudah menangani lebih dari 3 kali. Bahkan kalau dengan korban lain sudah 5 kali kejadian,” tambahnya.
Dari kejadian itu, pihak sekolah memanggil orang tua atau wali murid dua pihak. Dari keterangan mereka, terungkap bahwa A dibully karena sering menolak ajakan D.
“Alasannya karena A sering tidak mau diajak main sama D. Dari pengakuan korban seperti yang disampaikan wali murid, pada bulan puasa sering diajak D ke rumahnya, tapi ndak mau. Alasannya, karena mainnya seharian dari pagi sampai sore sehingga tidak sholat duhur dan ashar. A juga sering diajak mokel puasa tapi tidak mau,” beber Azzi.
Pihak sekolah menyebut, perilaku D ini dilatarbelakangi kondisi keluarga. D selama ini tinggal bersama nenek, ibu jadi TKI, bapaknya sudah meninggal. Selama di rumah, D sering ditinggal nenek berjualan, jadi kurang kasih sayang,” ungkap kasek.
Pasca perundungan itu, A mengalami luka dan trauma. Beberapa hari setelah kejadian, A tidak masuk sekolah karena demam.
“Sekarang sudah mau sekolah, tapi masih trauma. Kalau mau masuk kelas harus menunggu gurunya masuk, karena takut,” Azzi menambahkan.
Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3KB) Brebes, Eni Listiana menegaskan, pihaknya sudah mendatangi keluarga korban untuk pendampingan dan penguatan mental.
“Kami sudah ke lokasi Rabu kemarin untuk menangani kasus ini. Keluarga korban sudah didatangi untuk penguatan dan pendampingan,” Eni menjelaskan.
Tim dari DP3KB Brebes juga mendatangi sekolah dan bertemu dengan para guru. Dari keterangan mereka, masalah ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Tapi kami tetap memantau, jangan sampai korban mengalami hal serupa. Ada tim PPA yang terus mengawasi,” pungkasnya.
(Rusmono)












