Sedimentasi Bendungan Mrica Capai Titik Kritis, Antara Ancaman Banjir dan Upaya Mitigasi di DAS Serayu

Sabtu, 16 Mei 2026 - 12:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANJARNEGARA – Tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak meninjau langsung kondisi Bendungan Mrica di Banjarnegara yang kini mengalami sedimentasi parah, Jumat (15/5/2026).

Didampingi oleh Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Banjarnegara, Junaedi, S.T., tim BBWSO melihat langsung bagaimana bendungan yang dibangun pada 1989 ini sedang “tercekik” oleh sedimen.

Jumat sore (15/5/2026), suasana di Bendungan Panglima Besar Soedirman.

Isu sedimentasi yang selama ini dianggap sebagai masalah operasional pembangkit, kini telah bergeser menjadi alarm mitigasi bencana yang mendesak.
Tumpukan lumpur yang masif telah menutupi sebagian besar kapasitas waduk, sehingga mengganggu operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sekaligus meningkatkan risiko bencana bagi warga di sepanjang aliran Sungai Serayu.

Kunjungan BBWSO dan BPBD Banjarnegara sore itu menegaskan satu hal yaitu mitigasi tidak bisa menunggu.

Selama ini, metode pembersihan manual hanya mampu menangani 12% dari total 4 juta meter kubik sedimen yang masuk setiap tahunnya. Sisanya Menumpuk dan mengeras menjadi ancaman.

“Kita harus ingat, isu Mrica saat ini adalah isu nyawa ribuan warga di sepanjang DAS Serayu,” lanjut Junaedi.

Sejarah mencatat Mrica dibangun dengan visi menjadi tulang punggung energi. Namun, realita di tahun 2026 menunjukkan kondisi kritis, waduk ini hanya menyisakan sekitar 10 % kapasitas efektifnya.

“Data ini bukan sekadar angka. Ini adalah alarm keras. Dengan 90% kapasitas terisi sedimen, bendungan berada dalam posisi sangat rentan terhadap ancaman cuaca ekstrem atau guncangan seismik seperti Megathrust,” ungkap Junaedi di sela-sela peninjauan.

Ketakutan akan “Mrica Jebol” bukan lagi sekadar isapan jempol. Jika tanggul gagal menahan beban akibat luapan air yang tak lagi tertampung, ribuan jiwa di Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, hingga Cilacap berada dalam zona bahaya.

Sebagai solusi, teknologi Mud Suction Pump mulai digulirkan. Berbeda dengan pengerukan konvensional yang lambat, metode ini bekerja bak pembersih vakum raksasa yang menyedot lumpur kental melalui jaringan pipa menuju tujuh titik dumping area seluas 145 hektar di Kecamatan Bawang dan Purwanegara.

Sementara pemerhati dan pegiat lingkungan Jalu Dwi Prasetyo Aji, menilai langkah yang diambil selama ini masih jauh dari kata cukup. Ia melontarkan kritik keras terhadap PT Indonesia Power selaku pengelola.

Menurut Jalu, penanganan sedimentasi di Mrica seringkali terjebak dalam kegiatan yang bersifat kosmetik atau seremonial.

“Jangan cuma acara-acara seperti pembersihan enceng gondok atau pembuatan batu bata dari sedimen. Itu tidak signifikan karena volume lumpur yang turun sangat masif,” tegas Jalu.

Ia menekankan bahwa kondisi Mrica saat ini membutuhkan “operasi bedah”, bukan sekadar “vitamin”. Jika reboisasi adalah langkah pencegahan di hulu, maka pengerukan besar-besaran adalah harga mati untuk menyelamatkan hilir.

“Erosinya dari hulu itu sangat banyak. Ketika yang diambil cuma sedikit, maka tidak mencukupi. Lihat saja di wisata Sekong yang berada di komplek bendungan Panglima Sudirman, kedalamannya dulu 10 meter, sekarang tinggal 2-3 meter,” tambahnya.

Jalu juga menyoroti adanya keresahan yang mulai mengakar di tingkat bawah. Masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai kini mulai dihantui ketakutan setiap kali hujan lebat turun.

Ia mendesak adanya sinergi nyata antara pemerintah pusat, daerah, dan Indonesia Power, bukan saling lempar tanggung jawab.

Kini, waktu seolah sedang berkejaran dengan laju lumpur. Menyelamatkan Bendungan Mrica bukan lagi sekadar menjaga pasokan listrik di Pulau Jawa, melainkan menjaga peradaban di sepanjang Sungai Serayu agar tidak terhapus oleh bencana yang sebenarnya bisa diantisipasi.

Jika langkah radikal tidak segera dipercepat, warisan pembangunan ini mungkin hanya akan menyisakan cerita tentang waduk Panglima besar Sudirman yang berubah menjadi daratan lumpur yang mengancam.(ahr)

Berita Terkait

Presiden Resmikan 1.061 KDKMP di Jateng–Jatim, Banjarnegara Siapkan 78 Titik Operasional
Dinas Pariwisata Tangsel Gandeng Kelurahan Pondok Jaya Gelar Festival Seni Budaya 2026 Meriahkan Warga
Disamping Kertebatasan Fisik, Rohimah Tempat Tinggalnya Tidak Menentu Berharap Ada Solusi dari Pemkab Brebes
Pengendara Motor Jadi Korban Percobaan Begal Bersenjata Tajam di Cikarang Selatan
Pengawalan Perkuat Program Pembangunan di Pemkab Brebes, Kajari siap Bersinergi
SMAN 1 Jatibarang Brebes Juara Pertama Kategori Pelajar, Lomba Kreativitas dan Inovasi Batik
Blora Punya 1.600 Sumur Rakyat, Bisakah Minyaknya Benar-Benar Terserap Pertamina?
Yuh Ngasab Lur Raih Penghargaan IID 2025, Inovasi Karya Warsito Eko Dorong Penurunan Pengangguran di Brebes
Berita ini 4 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:27 WIB

Presiden Resmikan 1.061 KDKMP di Jateng–Jatim, Banjarnegara Siapkan 78 Titik Operasional

Minggu, 17 Mei 2026 - 07:41 WIB

Dinas Pariwisata Tangsel Gandeng Kelurahan Pondok Jaya Gelar Festival Seni Budaya 2026 Meriahkan Warga

Sabtu, 16 Mei 2026 - 12:56 WIB

Sedimentasi Bendungan Mrica Capai Titik Kritis, Antara Ancaman Banjir dan Upaya Mitigasi di DAS Serayu

Jumat, 15 Mei 2026 - 18:34 WIB

Disamping Kertebatasan Fisik, Rohimah Tempat Tinggalnya Tidak Menentu Berharap Ada Solusi dari Pemkab Brebes

Kamis, 14 Mei 2026 - 19:41 WIB

Pengendara Motor Jadi Korban Percobaan Begal Bersenjata Tajam di Cikarang Selatan

Berita Terbaru

Berita

Asrul Sani, Entrepreneur Ikan Cupang Yang Go Internasional

Jumat, 15 Mei 2026 - 12:58 WIB