x

Orang Tua Siswa Turun Tangan, Konflik Yayasan dan UIN Dikhawatirkan Berdampak pada Anak

waktu baca 3 menit
Selasa, 8 Sep 2026 14:06 11 redaksi

TANGERANG SELATAN, beritafakta.id – Konflik antara Yayasan Syarief Hidayatullah dan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kini turut mendapat perhatian dari sejumlah orang tua siswa. Mereka memilih bersuara karena khawatir perseteruan yang terjadi di lingkungan pendidikan berdampak terhadap rasa aman dan kondisi psikologis anak-anak.

Keterlibatan para orang tua tersebut ditegaskan bukan atas instruksi maupun permintaan pihak Yayasan Syarief Hidayatullah. Mereka disebut mengambil sikap secara mandiri setelah mengetahui adanya ketegangan yang dinilai berpotensi mengganggu kenyamanan siswa saat menjalani kegiatan belajar.

Kuasa hukum Yayasan Syarief Hidayatullah, Wahid Pujianto Fani, mengatakan pihak yayasan sejak awal justru berusaha menjaga agar persoalan internal dengan UIN tidak sampai diketahui para wali murid.

Menurut Wahid, langkah tersebut dilakukan semata-mata untuk menjaga suasana sekolah tetap kondusif. Yayasan tidak ingin konflik orang dewasa masuk ke lingkungan anak-anak dan membuat mereka merasa tidak nyaman.

“Kami sama sekali tidak melibatkan wali murid. Justru kami mengupayakan bagaimana wali murid tidak mengetahui persoalan yayasan, agar mereka nyaman menyekolahkan anak-anaknya di sini dan anak-anaknya pun nyaman sekolah di sini,” ujar Wahid dalam konferensi pers di Yayasan Syarief Hidayatullah, Selasa (8/9/2026).

Namun, kondisi tersebut berubah setelah terjadi insiden yang disebut pihak yayasan sebagai penggerudukan pada 4 Juni 2026. Peristiwa serupa kembali disebut terjadi pada 22 Agustus 2026.

Rangkaian kejadian tersebut membuat persoalan yang sebelumnya berusaha dijaga agar tidak diketahui para wali murid akhirnya mulai menjadi perhatian sebagian orang tua.

Kekhawatiran mereka kemudian bergeser dari sekadar persoalan kelembagaan antara yayasan dan UIN menjadi persoalan yang menyangkut keberadaan anak-anak di lingkungan sekolah.

Wahid menyebut para orang tua pada akhirnya tidak semata-mata memandang dirinya sebagai bagian dari pihak yang berkepentingan dalam konflik, tetapi sebagai orang tua yang ingin memastikan anak-anak mereka tetap mendapatkan lingkungan belajar yang aman.

“Mereka tidak lagi bertindak sebagai orang tua murid, tetapi bagaimana melindungi anaknya supaya anaknya itu nyaman dan tidak trauma,” kata Wahid.

Ia kembali menegaskan bahwa kehadiran orang tua dalam situasi tersebut tidak digerakkan oleh yayasan. Menurutnya, keputusan tersebut muncul dari kekhawatiran pribadi para wali murid terhadap kondisi anak-anak mereka.

“Keberadaan orang tua murid hari ini bukan atas perintah yayasan. Sekali lagi, bukan atas perintah yayasan, tetapi atas keinginan mereka sendiri untuk melindungi anak-anaknya,” tegasnya.

Bagi yayasan, kekhawatiran tersebut merupakan hal yang dapat dipahami. Terlebih, siswa yang berada pada jenjang TK hingga SD masih berada pada tahap perkembangan yang sangat penting.

Wahid menilai anak-anak pada usia tersebut seharusnya tidak diperhadapkan dengan konflik maupun ketegangan yang terjadi di antara orang dewasa.

Ia khawatir apabila anak-anak berulang kali menyaksikan situasi yang diwarnai ketegangan atau tindakan yang disebut sebagai kekerasan, pengalaman tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.

“Kita semua tahu bahwa masa TK sampai SD adalah masa-masa emas. Kami tidak ingin mencampuri atau mengotori pemikiran anak-anak dengan pemikiran kekerasan,” ujarnya.

Karena itu, keterlibatan orang tua dalam persoalan tersebut dinilai lebih berkaitan dengan upaya menjaga kepentingan anak daripada keberpihakan terhadap salah satu pihak yang sedang berselisih.

Para orang tua disebut tidak ingin anak-anak menjadi pihak yang ikut menanggung dampak dari konflik antara Yayasan Syarief Hidayatullah dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dengan munculnya kekhawatiran tersebut, persoalan yang sebelumnya berfokus pada hubungan antara dua institusi kini memiliki dimensi lain, yakni perlindungan terhadap siswa.

Di tengah konflik yang belum terselesaikan, kepentingan anak-anak menjadi perhatian tersendiri. Para orang tua berharap kegiatan pendidikan tetap berlangsung dalam suasana yang aman, nyaman, dan jauh dari ketegangan yang tidak seharusnya mereka alami.

Pihak yayasan pun menegaskan bahwa persoalan antara orang dewasa seharusnya tidak sampai menjadikan siswa sebagai pihak yang dirugikan.

Bagi para wali murid, yang terpenting adalah memastikan anak-anak tetap dapat belajar dengan tenang dan tidak mengalami tekanan maupun trauma akibat konflik yang terjadi di luar kepentingan mereka. (rz)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x