x

HPS 2026, Banjarnegara Catat Surplus Beras 30 Ribu Ton, Diversifikasi Pangan Diperkuat

waktu baca 2 menit
Rabu, 21 Okt 2026 15:58 20 redaksi

BANJARNEGARA,Berita Fakta.id – Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mendorong diversifikasi pangan berbasis potensi lokal di tengah capaian surplus produksi padi dan beras sekitar 30 ribu ton. Selain menjaga produktivitas pertanian, pengembangan pangan alternatif seperti nasi jagung instan dan tepung modified cassava flour (mocaf) berbahan singkong mulai diarahkan untuk memperluas pilihan konsumsi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, saat peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 di Lapangan Desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara, Rabu (21/10/2026).

Amalia mengatakan, surplus beras menjadi modal bagi Banjarnegara untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kontribusi produksi daerah. Namun, penguatan pangan tidak cukup hanya bertumpu pada beras, melainkan perlu didukung inovasi pengolahan hasil pertanian.

“Harapannya ke depan Banjarnegara bisa swasembada pangan dan memberikan surplus dari produksi pangan daerah,” ujarnya.

Mengusung tema Innovate Today for Tomorrow, peringatan HPS tahun ini menyoroti pentingnya inovasi dan pemanfaatan komoditas lokal. Nasi jagung instan yang telah berprestasi di tingkat provinsi dan melaju ke tingkat nasional menjadi salah satu produk yang diperkenalkan. Sementara itu, mocaf dikembangkan sebagai alternatif tepung berbahan singkong untuk mengurangi ketergantungan terhadap gandum.

“Pangan tidak harus selalu beras atau padi. Kita bisa melakukan modifikasi. Salah satu produk unggulan kita adalah tepung mocaf, sehingga potensi singkong di wilayah ini bisa dimaksimalkan beserta produk turunannya,” kata Amalia.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Banjarnegara, Firman Sapta Adi, mengatakan, HPS 2026 juga menjadi ruang promosi produk pertanian dan pemberdayaan kelompok wanita tani (KWT).

Kegiatan tersebut diisi jalan santai, gerakan pangan murah, bazar produk pertanian, vaksinasi rabies untuk hewan peliharaan, serta pemeriksaan sampel pangan secara gratis untuk mendeteksi kandungan formalin.

Gerakan pangan murah menyediakan sejumlah komoditas, termasuk cabai, sayuran, dan beras, dengan dukungan asosiasi terkait serta Perum Bulog. Program ini diharapkan membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau.

Perwakilan KWT dari 20 kecamatan turut hadir untuk memamerkan produk olahan sekaligus menunjukkan peran perempuan dalam pengembangan sektor pertanian.

Melalui momentum HPS, tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi pangan lokal tidak berhenti pada kegiatan promosi. Penguatan produksi, kualitas olahan, akses pasar, dan keterjangkauan harga menjadi faktor penting agar surplus pertanian serta potensi komoditas lokal dapat memberikan nilai tambah bagi petani dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat. (Bas)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x