Jakarta — Kementerian Transmigrasi resmi menurunkan 2.000 peneliti dalam program Transmigrasi Patriot untuk melakukan riset dan pendampingan pembangunan di 154 kawasan transmigrasi. Program ini menjadi langkah masif membangun SDM unggul berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Wamen Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menjelaskan bahwa Tim Ekspedisi Patriot (TEP) beranggotakan guru besar, mahasiswa S1, S2, dan S3 dari tujuh perguruan tinggi nasional seperti UI, UGM, IPB, ITB, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, ITS, serta 17 perguruan tinggi daerah.
“Mereka melakukan riset tentang potensi unggulan di kawasan transmigrasi dan menganalisis model kelembagaan ekonomi yang paling tepat,” ujarnya.
Program TEP berjalan mulai Agustus hingga Desember 2025 dan menjadi dasar perencanaan pembangunan jangka panjang kawasan transmigrasi.
Selain riset, program ini juga menyasar peningkatan kualitas SDM transmigran. Berdasarkan data Kementrans, 30,96% transmigran masih berpendidikan SD, sehingga diperlukan intervensi pendidikan dan pendampingan berkelanjutan.
Viva Yoga menyebut Transmigrasi Patriot sebagai jembatan strategis antara modal, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat.






