Banjarnegara, Berita Fakta.id — Di tengah perlambatan ekonomi dan tantangan pembangunan desa pada tahun 2026, Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, menghadirkan terobosan melalui pengembangan sektor pariwisata berbasis potensi lokal. Salah satu inovasi tersebut adalah Botanical Garden Hill, destinasi wisata buatan bernuansa modern yang memanfaatkan kekuatan sumber daya alam dan sumber daya manusia desa.
Botanical Garden Hill berdiri di atas tanah kas desa seluas sekitar lima hektare. Konsep wisata ini mengusung latar persawahan dengan sentuhan estetika modern, dilengkapi berbagai fasilitas seperti kolam renang anak, kafe dan restoran, wahana konservasi, eduwisata, hingga program pemberdayaan kearifan lokal berbasis agro dan perikanan.
Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho yang akrab disapa HoHo Alkaf, mengatakan bahwa pengembangan wisata desa ini telah dirintis sejak tahun 2024 dengan pembiayaan dari Dana Desa (DD) dan Pendapatan Asli Desa (PADes).
“Kalau sampai 2027 nanti, rencana pembangunan seluruh kawasan termasuk pagar keliling dan kafe dua lantai, kita butuh anggaran sekitar Rp3 miliar,” ujar HoHo saat ditemui di lokasi, Sabtu (24/1/2026).
HoHo mengungkapkan, ide awal Botanical Garden Hill berangkat dari keinginan menyediakan tempat nongkrong bernuansa alam, khususnya bagi generasi muda desa yang kini cenderung mencari ruang publik modern.
“Sekarang anak-anak desa juga pergaulannya seperti di kota, mereka butuh tempat yang nyaman, asyik, tapi tetap punya pemandangan alam. Jadi awalnya kita bikin tempat ngopi di tengah sawah,” ungkapnya.
Dalam hal promosi, pengelola memanfaatkan media sosial secara mandiri melalui akun Instagram pribadi milik HoHo yang kemudian dikelola bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
“Kita promosi lewat medsos, akun saya sudah sekitar 200 ribu follower dengan nama Bro HoHo, sekarang dikelola anak-anak Pokdarwis,” jelasnya.
Tak hanya sektor wisata, Desa Purwasaba juga mengembangkan lini agrobisnis ayam petelur di bawah naungan BUMDes sejak 2022. Dengan kapasitas 2.500 ekor ayam, sektor ini mampu menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp1,75 juta per hari.
“Kalau lele, setahun panen tiga kali, keuntungannya bisa 30 sampai 40 juta,” tambah HoHo.
Untuk modal awal pembangunan wisata, Pemdes Purwasaba mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp340 juta pada 2024 untuk pondasi dan gazebo. Kemudian pada 2025, ditambah Rp240 juta untuk pembangunan kolam renang dan fasilitas pendukung lainnya.
HoHo menegaskan bahwa keberadaan Botanical Garden Hill juga difokuskan untuk menggerakkan UMKM warga, khususnya produk telur asin yang sudah menjadi kearifan lokal desa.
“Kita prioritaskan UMKM, warga di sini spesialis telur asin. Anak-anak Pokdarwis membantu pemasaran lewat koperasi desa,” ujarnya.
Pengembangan wisata juga diarahkan ke konsep sport tourism, salah satunya melalui pasar tradisional mingguan yang digelar setiap Minggu pagi.
“Orang olahraga dulu, lari-lari, habis itu sarapan dengan jajanan tradisional seperti cenil, lupis, pecel, nasi oyek, ikan asin, mendoan. Semua dari UMKM warga,” jelas HoHo.
Ke depan, pihak desa berencana membangun rest area, kios UMKM, playground, jembatan kaca, lintasan lari, serta kawasan kebun buah seperti kelengkeng kristal dan anggur berbasis greenhouse.
Selain itu, aliran irigasi juga dimanfaatkan untuk mengairi kebun dan lahan rumput pakan ternak sebagai bagian dari integrasi wisata, pertanian, dan peternakan.
Dengan konsep terpadu tersebut, Botanical Garden Hill tidak hanya menjadi wahana rekreasi, tetapi juga diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Desa Purwasaba secara berkelanjutan.(bas)






