Banjarnegara, Beritafakta.id – Desa Wisata Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, perlahan membuktikan diri mampu bangkit dari keterpurukan. Sempat dihantam banjir yang merusak berbagai fasilitas, kini destinasi berbasis alam dan tradisi itu kembali hidup—bahkan diserbu ribuan wisatawan saat libur Idul Fitri 1447 H.
Dalam empat hari pertama Lebaran, lebih dari 3.000 wisatawan lokal tercatat memadati kawasan wisata yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dawuhan tersebut. Angka ini dinilai stabil dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi sinyal kuat bahwa Dawuhan belum kehilangan daya tariknya.
Kekuatan utama Dawuhan justru terletak pada hal yang sederhana: keaslian. Di Pasar Renggang—ikon wisata di lokasi ini—pengunjung disuguhi kuliner tradisional seperti bakmi Jawa, nasi jagung, getuk lindri, hingga jajanan pasar. Namun, satu menu yang paling diburu adalah bubur srintil, hidangan khas desa yang kini menjadi identitas wisata Dawuhan.
Tak hanya kuliner, pengelola juga memperkuat pengalaman wisata keluarga. Area kolam renang dengan wahana hujan busa yang sempat viral di media sosial menjadi magnet baru. Ditambah playground anak dan kereta wisata yang berkeliling kawasan, Dawuhan kini tampil lebih variatif tanpa meninggalkan nuansa pedesaan.
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Eryantho Arief, menilai Dawuhan berhasil menjaga keseimbangan antara alam dan budaya. Terletak di tepian Sungai Panaraban, kawasan ini menawarkan suasana sejuk dengan aktivitas tambahan seperti tubing—yang tetap disesuaikan dengan kondisi cuaca demi keamanan.
Namun di balik ramainya kunjungan, ada cerita pemulihan yang tidak sederhana.
Beberapa waktu lalu, banjir sempat melumpuhkan aktivitas wisata. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, termasuk rusaknya peralatan dan fasilitas utama. Alih-alih menyerah, Pokdarwis Dawuhan memilih bergerak cepat.
“Ini momentum kebangkitan. Semua pihak terlibat membangun ulang fasilitas yang rusak,” ujar Eryantho.
Pengelola bahkan melakukan penyesuaian selama Lebaran, seperti mengubah sistem transaksi dari koin ke pembayaran tunai untuk memudahkan wisatawan.
Di sisi lain, pengelolaan wisata ini juga berdampak langsung pada ekonomi warga. Saat ini terdapat 15 karyawan inti, yang akan bertambah saat libur panjang. Seluruh aktivitas wisata juga memanfaatkan tanah desa, sehingga kontribusi finansialnya kembali ke masyarakat.
“Wisata ini bukan hanya soal kunjungan, tapi juga penguatan ekonomi desa,” kata Supri, pengelola Pokdarwis Dawuhan.
Menariknya, meski didominasi wisatawan lokal, Dawuhan mulai dilirik wisatawan mancanegara. Tren ini membuka peluang baru, meski pengembangan ke depan masih menunggu kondisi keuangan yang lebih stabil.
Dawuhan hari ini bukan sekadar destinasi wisata. Ia menjadi contoh bagaimana desa bisa bertahan, pulih, dan kembali menarik perhatian—tanpa kehilangan jati diri.
Penulis : Baskoro
Editor : Azizah Estetika












