BREBES, Beritafakta.id – Sebuah video yang menampilkan aksi debus seorang relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Kubangsari, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, viral di media sosial. Dalam video tersebut, seorang relawan terlihat memecahkan kaca lampu tabung (neon) dan memakannya saat berdiri di atas kendaraan operasional.
Video yang diunggah akun Instagram updatebrebes itu menuai beragam komentar dari warganet. Pengunggah menyertakan narasi yang mempertanyakan maksud aksi tersebut, mulai dari dugaan pamer kekuatan hingga sindiran terhadap pihak yang mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menanggapi viralnya video tersebut, Mitra SPPG Kubangsari, Umar, membenarkan bahwa pria yang tampil dalam video merupakan salah satu relawan di SPPG Kubangsari. Namun, ia menegaskan bahwa video yang beredar tidak menampilkan keseluruhan isi rekaman asli.
“Itu memang relawan SPPG di sini. Namun video yang beredar sudah dipotong dan diedit. Kemudian diberi narasi yang menurut kami bernada negatif dan dapat menimbulkan kesalahpahaman,” ujar Umar saat dikonfirmasi, Kamis (11/6/2026).
Menurut Umar, video tersebut sebenarnya direkam sebelum Hari Raya Idul Adha oleh Dheny Siswanto, Asisten Lapangan (Aslap) SPPG Kubangsari, dan telah diunggah melalui akun resmi SPPG dengan durasi sekitar 58 detik.
Dheny Siswanto menjelaskan, sosok dalam video bernama Alfajar alias Yayang, yang bertugas sebagai relawan distribusi makanan. Sebelum bergabung dengan SPPG, Yayang diketahui bekerja sebagai pemain debus dan pesulap keliling.
“Yayang memang memiliki kemampuan debus dan sulap sejak lama. Sebelum menjadi relawan, dia berprofesi sebagai pemain debus dan pesulap keliling,” jelas Dheny.
Ia menambahkan, video asli tidak hanya menampilkan aksi debus, tetapi juga atraksi sulap yang memperlihatkan ompreng kosong berubah menjadi ompreng berisi makanan. Selain itu, musik yang digunakan dalam unggahan asli merupakan lagu khas tarling Pantura, bukan lagu yang saat ini terdengar dalam video yang viral.
“Sebenarnya ada adegan sulap yang tidak ditampilkan dalam video yang beredar. Musiknya juga sudah diganti. Dalam unggahan asli kami menggunakan lagu khas tarling Pantura,” katanya.
Dheny menegaskan, aksi tersebut dilakukan setelah para relawan selesai mendistribusikan makanan ke sekolah-sekolah. Atraksi debus dan sulap dilakukan semata-mata sebagai hiburan bagi sesama relawan setelah menyelesaikan tugas.
“Ini murni hiburan setelah selesai bekerja. Tidak ada maksud untuk menakut-nakuti atau menyindir pihak mana pun,” tegasnya.
Pihak SPPG Kubangsari berharap masyarakat dapat melihat persoalan tersebut secara utuh dan tidak langsung menyimpulkan maksud dari video yang telah beredar luas di media sosial.
(Rusmono)






