Suasana tempat usaha para pelaku UMKM di DCF 2026,saat pembukaan acara sudah mulai eksistensi nya baik para pedagang dan para pengunjung lokal maupun luar kota.(Dok.Berita Fakta.id) BANJARNEGARA, BeritaFakta.id— Gelaran Dieng Culture Festival (DCF) ke-16 tidak hanya menyuguhkan pertunjukan seni, tradisi, dan budaya, tetapi juga menjadi momentum bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan pendapatan.

Festival tahunan yang berlangsung di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jumat (28/8/2026), tampak semarak dengan keterlibatan berbagai pelaku UMKM yang menawarkan beragam produk kuliner dan oleh-oleh khas kawasan Dieng.
Di tengah ramainya wisatawan yang datang, stan-stan UMKM menjadi salah satu bagian yang turut menghidupkan suasana festival. Kehadiran ribuan pengunjung membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan omzet selama pelaksanaan DCF 2026.
Salah seorang penjaga toko UMKM, Aswi Ismu Aji (18), mengaku antusias dapat terlibat dalam gelaran DCF untuk pertama kalinya.

“Menurut saya, meriah banget, soalnya baru pertama kali ikut DCF,” kata Aswi, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, tingginya kunjungan wisatawan selama festival menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka kepada pengunjung dari berbagai daerah.
“Harapannya, lebih banyak menarik pengunjung atau wisatawan yang ke sini,” ujarnya.
Aswi mengatakan, tingkat penjualan UMKM sangat bergantung pada jumlah pengunjung. Pada hari biasa, omzet penjualan di tokonya masih berada di bawah Rp100 ribu. Namun, ketika kawasan Dieng dipadati wisatawan, potensi pendapatan meningkat.
“Kalau omzet untuk hari-hari biasa mungkin masih di bawah Rp100 ribuan. Kalau ramai, tergantung ramai dan enggaknya,” katanya.
Wisatawan Apresiasi Konsep DCF
Sementara itu, Herda (32), wisatawan asal Tangerang Selatan, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan DCF 2026. Ia mengaku telah tiga kali datang ke Dieng untuk mengikuti kemeriahan festival tersebut.
Herda mengatakan, DCF memiliki daya tarik tersendiri karena mampu memadukan hiburan, wisata, serta tradisi dan adat masyarakat setempat.
“Sudah tiga kali ke sini. Untuk DCF, saya bersama teman selalu menyempatkan ke sini. Memang sedang liburan dan cuti untuk wisata dari Jogja, terus ke sini,” ujarnya.
Menurut Herda, penyelenggaraan DCF dari tahun ke tahun dinilai mampu menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Selain konsep acara yang unik, rangkaian tradisi lokal menjadi salah satu alasan dirinya kembali berkunjung.
“DCF bagi saya selalu meningkatkan kenyamanan pengunjung dan selalu mengusung tema yang cukup unik, seperti Jazz di Atas Awan, lalu proses adat setempat yang lain,” katanya.
Tak hanya menikmati pertunjukan dan tradisi budaya, Herda juga menilai keberadaan UMKM kuliner menjadi bagian penting dari pengalaman wisata di DCF.
“Untuk kuliner dan jajanan di DCF sangat menarik, khususnya jajanan dari kentang dan tempe kemul yang menjadi ciri khasnya,” pungkasnya.
Gelaran DCF 2026 pun menunjukkan bahwa festival budaya tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi juga mampu menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat lokal. (Bas)
Tidak ada komentar