x

Kopi Banjarnegara Makin Naik Kelas, Kontrak 150 Ton Tembus Rp15 Miliar

waktu baca 3 menit
Jumat, 4 Sep 2026 20:34 13 redaksi

BANJARNEGARA, BeritaFakta.id — Kopi Banjarnegara mulai menunjukkan kekuatan sebagai komoditas unggulan yang mampu menembus pasar lebih luas. Momentum Dieng Culture Festival (DCF) 2026 menjadi salah satu pintu masuk perluasan pasar tersebut, ditandai dengan kontrak pemesanan **150 ton roast bean senilai Rp15 miliar.

Kontrak tersebut mencakup berbagai jenis kopi, mulai dari Arabika, Robusta hingga varian lokal khas Banjarnegara. Pesanan akan direalisasikan melalui pengiriman secara bertahap selama satu tahun ke depan hingga 2027.

Selain kontrak jangka panjang, transaksi langsung selama Festival Kopi DCF 2026 juga mencapai sekitar Rp80 juta. Nilai tersebut berasal dari pembelian kopi siap minum maupun biji kopi.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara, **Firman Sapta Adi**, mengatakan capaian tersebut menunjukkan semakin terbukanya peluang kopi lokal untuk masuk ke pasar yang lebih luas.

Menurutnya, Festival Kopi DCF tidak sekadar menjadi kegiatan promosi, tetapi telah berkembang menjadi ruang temu antara pelaku usaha, produsen, petani, pemerintah, hingga calon pembeli dari berbagai daerah.

“Pada Festival Kopi DCF kemarin kami mengundang 14 kabupaten se-Indonesia untuk ikut festival kopi di Dieng Culture Festival. Bahkan, ada peserta dari NTT yang meski sedang terkena bencana tetap datang ke Banjarnegara,” ujar Firman, Jumat (4/9/2026).

Ia menambahkan, pelaku kopi dari Sumatera dan Kalimantan juga turut hadir dalam festival tersebut. Kehadiran mereka difasilitasi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM serta mendapat dukungan Bank Indonesia.

Kondisi tersebut, kata Firman, membuka peluang terjadinya kerja sama perdagangan dan pengembangan jaringan pasar bagi kopi Banjarnegara.

“Di dalam festival ini kami membahas kopi secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pemberdayaan, kelembagaan, pasar hingga hilirisasi,” katanya.

Dari sisi produksi, kopi Arabika Banjarnegara berkembang di sejumlah kawasan dataran tinggi, di antaranya Kecamatan Kalibening, Pejawaran, sebagian Pagentan, Wanayasa, dan Karangkobar.

Sementara itu, komoditas Robusta berkembang di wilayah dengan karakteristik dataran yang lebih panas, seperti Kecamatan Pagedongan dan Susukan.

Potensi tersebut menjadi modal penting bagi Banjarnegara untuk memperkuat posisi sebagai salah satu daerah penghasil kopi Arabika terbesar di Jawa Tengah.

Penguatan sektor kopi juga didorong melalui perlindungan dan pengembangan produk berbasis indikasi geografis. Dalam prosesnya, Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) menjadi salah satu pihak yang berperan dalam mengembangkan ekosistem kopi bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, **Tursiman, S.Sos.**, menilai Festival Kopi DCF menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kreatif dan produk unggulan daerah.

Menurutnya, kehadiran wisatawan dan pelaku usaha dalam DCF memberikan ruang bagi produk lokal untuk dikenal lebih luas. Kopi menjadi salah satu komoditas yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui event pariwisata.

Ke depan, pemerintah daerah bersama pelaku kopi akan mendorong pengembangan sektor tersebut secara berkelanjutan, tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga kualitas, penguatan kelembagaan, hilirisasi, promosi, dan perluasan akses pasar.

Dengan nilai kontrak mencapai Rp15 miliar, Festival Kopi DCF 2026 menjadi momentum penting bagi kopi Banjarnegara untuk bergerak dari sekadar produk unggulan lokal menuju komoditas yang memiliki daya saing di pasar nasional, bahkan berpeluang menembus pasar internasional. (Bas)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x